Jumat, 15 Juni 2012

Dieng - Tanah Sang Dewa (bagian 4 - habis)


Berada di tempat yang dingin membuat saya pribadi malas mandi, cukup cuci muka saja, apalagi pada malam hari suhu menjadi lebih dingin. Mungkin salah satu kurangnya Dieng adalah tidak ada wisata yang bisa dinikmati di malam hari, ketika matahari sudah tenggelam para warga sudah duduk manis di rumahnya masing-masing.

“Kalau malam apa ya tempat yang biasa dikunjungi mbak?” (dengan muka berseri-seri terus senyum tampak gigi))
“Kalau sudah malam ya di rumah aja mas”  (dengan muka datar setengah bingung)
Begitu kira-kira percakapan saya dengan wanita yang menjaga penginapan kami.

Malam kami nikmati dengan beristirahat, kaki ini sangat pegal rasanya. Kalau dipikir-pikir kami emang seharian berjalan kaki terus. Singkat kata, kalau ingin puas di Dieng pastikan anda punya stamina yang mumpuni. Kami pun tidur saat malam belum larut karena kami ingin melihat sunrise dari puncak bukit Sikunir sehingga kami harus berangkat dari penginapan sekitar jam 4 subuh.

Sekitar jam 4 kurang kami bangun dari tempat tidur. Setelah cuci muka, sikat gigi, dan mempersiapkan bekal seperti air minum, air panas, cemilan, dan kopi. Saya sudah ga ngerti lagi lah sama dinginnya, dingin banget! Cuci muka kaya nyemplungin muka ke sebaskom air penuh es batu sambil kumur-kumur pakai odol. Dan begonya,  tidak terlintas sedikitpun di pikiran saya untuk membawa senter, begitu pula dengan Koke. Praktis hanya Galang yang membawa senter (maklum doi yang paling pengalaman).

Sunrise di Puncak Sikunir

Perjalanan terasa lancar, karena emang jam segitu ya orang masih nyenyak dalam mimpinya. Jalan sangat gelap, hanya lampu mobil kami lah sumber cahaya satu-satunya. Untungnya karena sudah survei sebelumnya, kami tidak khawatir dengan jalan yang kami lalui. Kami pun melewati Desa Sembungan, desa tertinggi di pulau Jawa, yang masih sunyi ditinggal tidur oleh warganya. Sekitar jam setengah 5 pagi kami tiba di loket dan disambut oleh seorang penjaga yang saya lupa namanya, sebut saja Pak X. Ternyata Pak X ini juga sedang menunggu rombongan lainnya dari Jakarta yang sudah janji akan datang, ga tanggung-tanggung serombongan nya ada 50 orang. WOW!

Sambil menunggu, kami berusaha beradaptasi dengan suhu yang sangat dingin. Senang rasanya melihat uap air muncul dari udara yang saya hembuskan (kampungan). Saat itu saya memakai baju 3 lapis + jaket, lengkap dengan kupluk dan sarung tangan. Galang sendiri berteori, kalau di tempat dingin jangan langsung memakai pakaian tebal. Tapi mulai lah dengan pakaian biasa untuk membiasakan badan melawan dingin, kemudian kalau ga kuat baru tambah baju. Saya mencoba, dan saya kapok! Saya ga kuat sama dinginnya.

Kami banyak ngobrol dengan Pak X tentang Dieng. Dari beliau lah kami tahu kalau kentang itu baru masuk ke Dieng sekitar tahun 80-an, dan ternyata hasilnya baik sehingga banyak masyarakat setempat menanam kentang, kualitas nya pun sangat baik. Saya pun iseng bertanya tentang Telaga Cebong yang terhampar luas di depan mata kami. Kata beliau, ikan yang ada di telaga adalah ikan asli Dieng (endemik istilahnya) dan ikan-ikan jenis umum yang ikut dimasukkan. Setiap panen selalu menghasilkan banyak ikan, sampai skala ton kalau saya ga salah ingat.

Cerita semakin bertambah seru ketika Pak X bercerita tentang orang pintar yang sengaja datang ke Telaga Cebong. Orang pintar tersebut bilang, Telaga Cebong sungguh hebat. Ada sebuah ikan besar bermahkota dan bersisik merah yang selalu diiringi oleh dua ikan penjaganya. Ikan ini hanya bisa dilihat oleh orang tertentu. Pak X mengisahkan terkadang saat malam hari muncul cahaya terang dari danau yang konon nya berasal dari ikan tersebut. Cerita yang sangat mengagumkan!

Lama menunggu, ternyata rombongan 50 orang tersebut masih berada di sekitar Wonosobo, sehingga menunda kunjungan mereka menjadi esok harinya. Kami pun segera bersiap naik dengan Pak X sebagai pemandu jalannya. Untuk naik ke puncak bukit Sikunir, kami dikenakan biaya masuk per orang plus biaya pengantar. Saya lupa berapa jumlah total untuk bertiga, tapi kalau ga salah sih ga sampai 40rb.

Perjalanan ke puncak sendiri tidak terlalu lama, sekitar 30 menitan. Cuma karena kami tidak pemanasan dulu dan suhunya yang sangat dingin membuat kami sangat kelelahan dan terpaksa harus berhenti dua kali untuk beristirahat. Jalan nya saat itu aman, tidak becek dan tidak terlalu sering menanjak. Kadang-kadang terlihat jurang di sisi kiri kami. seringkali sih tertutup dengan pepohonan. Sesampainya di puncak, langit masih gelap. Ternyata sudah banyak orang di sini, bahkan ada yang memasang tenda. Kami pun beristirahat di batu besar, di gelapnya langit terdengar nyanyian para pendaki yang menanti kehadiran matahari.

Galang membuka tas nya dan mengeluarkan termos yang berisi air panas (sudah jelas, ga mungkin isinya ayam goreng). Kopi sachet kami tuangkan dengan sigap ke gelas masing-masing, dan nikmatnya menenggak kopi panas di saat suhu sangat dingin sepertinya sulit untuk dijelaskan. TOP MARKOTOK! Lihat saja ekspresi kami ketika menikmati kopi panas ini :D. Kalau malas bawa termos dan kopi tidak usah khawatir, karena anda akan menemui penjual minuman hangat dan pop mie disini haha.





Beberapa belas menit menunggu, langit mulai menunjukkan perubahan warna. Terlihat warna biru agak gelap di langit. Terlihat dengan gagahnya Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing (saya ga yakin yang mana) di hadapan kami. dibalik Gunung Sundoro terlihat pula samar-samar sosok Gunung Merbabu dan Gunung Merapi. Kami pun mencoba menangkap momen tersebut dengan kamera. Berikut hasil dari  tangkapan kamera :









Sayangnya, kami tidak melihat matahari nya terbit karena warna emas yang saya tunggu-tunggu ternyata tidak hadir hingga langit sudah terang.  Kami pun cukup menikmati pemandangan yang disajikan alam untuk kami dan puluhan orang disini. Ketika terang semakin jelas terlihat di hadapan kami : lereng gunung, kaki gunung, perumahan, jalan, hutan, dan horizon bumi yang cantik. Fase perubahan dari gelap ke terang ternyata sangat berharga untuk dinikmati. Bagaikan candu, kami sudah lupa dengan hawa dingin yang menusuk syaraf kulit kami.





Saat langit sudah terang, orang-orang pun mulai beranjak turun. Tapi kami tidak serta merta ingin turun. Kami penasaran dengan jalur jalan setapak yang terlihat bercabang dan langsung sepakat untuk menyusuri lebih jauh lagi. Dahaga kami belum terpuaskan, kami masih ingin melihat lebih banyak lagi. Jalan tersebut mengantarkan kami ke puncak lainnya, memberi kami sudut pandang lain untuk menikmati elok gagahnya Gunung Sundoro. Kami berpindah dari satu puncak ke puncak lainnya, hingga mencoba jalur baru hingga harus memanjat tebing sambil menarik rumput untuk mengangkat tubuh kami. Sebenarnya ada jalan lain tapi memutar, dan kami cukup malas untuk memutar haha. Pemandangan disini tidak kalah menarik :D



 

Tiba-tiba kabut berlarian dari bukit sebelah menerobos melewati kami. Sangat terasa dinginnya menerpa rambut kami dan beratnya uap air di hidung kami. Hebat sekali rasanya di peluk oleh kabut di ketinggian sekitar 2100 mdpl hehe. Setiap detik disini berusaha saya nikmati sebaik mungkin. Tak terukur lagi kebahagiaan yang saya peroleh disini.




Setelah lelah menyapa, kami pun turun dengan sangat puas. Saat perjalanan turun, terlihat pemandangan yang tidak kami lihat saat gelap, cukup indah namun juga cukup mengerikan melihat jurang yang menganga. Perjalanan pulang tidak begitu terasa. Sesampainya di loket, kami pun langsung meluncur pulang menuju penginapan.

Mandi air panas setelah beraktivitas fisik terasa bagai mengisi energi hingga penuh dari yang sebelumnya sudah hampir kosong. Waktu menunjukkan sekitar pukul sembilan pagi dan kami sudah mengepak barang kami masing-masing. Kami memutuskan untuk langsung check-out karena setelah mengunjungi objek wisata yang lain kami akan segera pulang ke Wonosobo, supaya praktis saja.

Tak lupa kami membeli oleh-oleh di warung yang juga merupakan bagian dari penginapan. Saya membeli oleh-oleh khas Dieng seperti Carica, keripik jamur kuping, keripik jamur kancing, dan keripik jamur tiram. Carica merupakan oleh-oleh yang sangat tersohor dan menjadi oleh-oleh wajib apabila mengunjungi Dieng. Carica adalah semacam pepaya yang sebenarnya berasal dari Pegunungan Andes Amerika Selatan (walau masih simpang siur kabarnya) namun tumbuh sangat baik di daerah Dieng.

Perjalanan kami selanjutnya adalah mengunjungi Dieng Plateau Theater.

Dieng Plateau Theater


Kami memacu APV kami menuju suatu tempat di daerah berbatu besar bernama Dieng Plateau Theater. Sesuai namanya, tempat ini adalah semacam bioskop, namun bioskop berukuran mini yaa mirip-mirip layar tancep lah. Gedung nya tidak begitu besar, dan kapasitasnya mungkin hanya sekitar 50 orang saja. Di sini kita disajikan sebuah film dokumenter berjudul “Bumi Kahyangan Dieng Plateau – The Gods Above”. Film ini membahas semua tentang Dieng dalam konteks ilmu pengetahuan (geologi, vulkanologi, dll).

Di awal film kita akan disajikan informasi mengenai bagaimana Dieng terbentuk. Kemudian menyajikan sebuah kisah tentang seorang ahli (entah ahli geologi atau vulkanologi, saya kurang tahu) yang berkeliling ke setiap kawah yang ada di Dieng untuk mengukur kandungan gas yang keluar dari perut bumi. Seringkali di daerah yang dicurigai mengandung gas CO dalam jumlah banyak, mereka memakai perlengkapan khusus seperti tabung oksigen. Ada cerita memilukan tentang jatuhnya korban jiwa akibat keluarnya kandungan gas CO dalam jumlah yang besar dari suatu kawah. Gas ini tidak berbau dan tidak berwarna, tapi dapat mematikan jika manusia menghirupnya terlalu banyak. Penjelasannya saya sudahi disini aja yah, sebelum malah menjadi spoiler hehe.


Setelah sekitar 30 menit lebih menikmati film, kami melanjutkan perjalanan ke salah satu objek wisata Dieng yang paling terkenal : Telaga Warna.

Telaga Warna, Telaga Pengilon, dan Goa Semar
Di kawasan Telaga Warna ini sendiri termasuk pula Telaga Pengilon dan Goa Semar. Mereka saling berdekatan dan berada dalam satu kompleks. Telaga Warna adalah sebuah telaga yang dikenal akan warnanya yang berubah-ubah warna pada kurun waktu tertentu. Saat itu Telaga Warna berwarna hijau. Dulu kabarnya ada banyak kombinasi warna disini, namun sekarang hanya tinggal dua warna saja. Airnya sangat tenang, tidak ada riak air disini, kicauan burung sangat jelas terdengar di telinga, dan pohon-pohon yang asri mengelilingi telaga memberikan keteduhan.



Sejatinya telaga warna adalah sebuah kawah yang dipenuhi oleh air.  Bila anda perhatikan, di tepi telaga terlihat buih-buih air seperti yang anda banyak jumpai di Kawah Sikidang. Bau belerang pun terasa di hidung agak samar-samar sehingga bikin bingung kita, sebenarnya yang kita cium itu belerang atau aroma kentut orang sih??haha.




Saat itu pengunjung Telaga Warna cukup ramai. Pengelola menyediakan sebuah gedung mirip gazebo sebagai tempat bersantai dan berkumpul para pengunjung. Di jalan masuk pun terdapat satu grup pengamen yang mengalunkan lagu-lagu romantis. Di tepi Telaga Warna banyak pohon-pohon tumbang yang menjorok ke tengah telaga, yang kemudian dimanfaatkan pengunjung untuk foto-foto. Jalan setapak disini sangat panjang dan bercabang yang akan menuju Telaga Pengilon dan Goa Semar.

Setelah puas mengitari Telaga Warna, kami beranjak ke Telaga Pengilon yang terletak bersebrangan dengan Telaga Warna. Sayang nya jalan setapak menuju Telaga Pengilon saat itu kondisinya tidak baik, sangat becek dan licin. Kami harus sedikit berusaha dan rela terjerembab di di tanah becek berlumpur. Tapi kami melewati sebuah padang rumput yang cukup indah. Dan setelah itu kami melihat sebuah telaga besar yang berwarna jernih, sangat berbeda dengan Telaga Warna. Di permukaan ini anda dapat bercermin, lumayanlah bisa merapihkan bentuk rambut yang sedikit awur-awuran akibat diterpa angin hehe.

Ada sebuah mitos tentang Telaga Pengilon, yaitu apabila seseorang bercermin, yang berhati baik/mulia akan terlihat tampan atau cantik, dan sebaliknya apabila berhati busuk makan akan terlihat jelek. Silahkan anda bercermin dan menilai wajah anda sendiri hehehehehe.

Setelah melihat Telaga Pengilon, kami melanjutkan ke percabangan jalan setapak lainnya yang menuju Goa Semar. Ada beberapa yang bisa dilihat disini, seperti Prasasti Batu Tulis (tapi tulisan yang saya lihat hanyalah vandalisme??), Patung Gajahmada berwarna emas memegang gada, sebuah Arca wanita berkepala tiga (telanjang dada), dan beberapa Goa. Goa-goa yang ada sudah dibuatkan pendopo-nya masing-masing. Sayangnya kita tidak bisa masuk ke dalam Goa karena dikunci gembok.






Jika anda perhatikan, di belakang prasasti dan di dalam goa dapat terlihat bekas-bekas kemenyan. Sepertinya tempat ini dipakai untuk keperluan tertentu oleh beberapa orang. Saya sendiri tidak suka berlama-lama melihat ke dalam goa karena memberikan perasaan yang tidak enak dibenak saya.




 Puas melihat semuanya, kami memutuskan untuk meninggalkan Dieng. Sebenarnya masih ada Dieng 2 yang belum kami kunjungi, namun sayangnya kami sudah terlalu lelah. Betis ini sudah protes  gara-gara dipaksa lembur haha. Sekitar jam dua siang kami pun meluncur turun meninggalkan ketinggian 2000 mdpl membawa pengalaman yang sangat berharga.

Jika anda menyukai berendam di air hangat, anda dapat mengunjungi wisata kolam air panas yang bernama Kaliurang yang berada di jalan utama menuju Wonosobo dari arah Dieng. Tempat ini sebenarnya adalah rekomendasi dari teman kantor saya yang beristrikan wanita Wonosobo. Namun sayang, kami sudah tidak sanggup lagi untuk berendam disana, selain kondisi cuaca sudah cukup panas.

Namun, melihat bensin yang kami miliki ternyata masih banyak, kami pun memutuskan untuk mampir melihat kebun teh yang bernama Agrowisata Kebun Teh Tambi. Layaknya sebuah kebun teh, maka yang sejauh anda memandang yang tampak adalah hijau dedaunan dari tanaman teh (ya iyalaah, masa duren??). Tidak banyak yang bisa dilihat disini sebenarnya, tapi saya dan Koke tetap turun karena ingin menghilangkan penat di perjalanan. Sedangkan Galang tertidur pulas di kursi mobil.




Ada beberapa pengunjung di kebun teh ini, dan semuanya adalah pasangan yang sedang memadu kasih, kasmaran, bermesraan dan mengumbar kata-kata cinta (maaf ini lebay). Sedangkan saya dan Koke hanya melongo dungu melihat mereka. Kesan saya terhadap kebun teh ini adalah : tempat ini adalah lokasi yang sangat cocok untuk syuting film India hahaha.

Sesampainya di Wonosobo, tidak afdol jika tidak mencicipi kuliner khas Wonosobo, yaitu Mie Ongklok. Ada sebuah kedai Mie Ongklok yang sangat terkenal di Wonosobo, tapi saya lupa namanya. Silahkan cocokkan saja dengan foto berikut ini :


 Mie Ongklok adalah makanan berbasis mie dengan kuah kental dilengkapi kol dan daun kucai. Kuah kental ini terbuat dari saripati singkong, gula merah,dan ebi. Rasanya manis, khas Jawa, dan sedikit gurih namun terlalu manis untuk lidah saya. Idealnya, mie ongklok ini dinikmati dengan sate daging sapi. Porsinya tidak terlalu besar, sehingga lebih cocok dimakan sebagai pengisi perut diantara dua makan besar. Harganya pun tidak mahal, hanya 4 ribu per porsi dan 10 ribu untuk seporsi sate daging sapi.

Selesai makan kami langsung tancap gas menuju rumah Galang dan begitu sampai langsung mengistirahatkan kaki. Tapi sebelumnya kami memesan tiket menuju Jakarta di terminal Wonosobo untuk esok pagi nya. Harga tiket bus dari Wonosobo entah kenapa lebih murah daripada yang kami beli di Jakarta.

Malam di Wonosobo saya lalui dengan tertidur sangat pulas, benar-benar nyenyak. Niatnya sih ga pingin tidur supaya keesokan harinya bisa tidur di sepanjang perjalanan menuju Jakarta, tapi mata tak kuasa untuk tetap terbuka dan akhirnya raga ini terpaksa menyerah oleh empuknya kasur dan dinginnya suhu malam.

Setelah berpamitan dengan Galang dan kedua orang tuanya, saya dan Koke segera menaiki bus Sinjay tujuan Jakarta. Masih terasa hangatnya sarapan dan teh manis di lambung saya. Saya sangat berterima kasih dengan kebaikan mereka selama berada di sini. Sangat hangat di tengah dingin nya Wonosobo. Tentu lain kali saya ingin sekali kembali disini. Wajah dan dinginnya Dieng telah membekas meninggalkan jejak di pikiran dan kulit saya.

Sedikit saran untuk anda, jika berpergian lebih dari 10 jam lebih baik anda memilih bus malam. Karena bus siang sangat tidak efisien, bus kami berhenti hampir di setiap terminal untuk mengambil penumpang. Belum lagi ketika melewati pasar yang macet. Belum lagi ketika melewati kota yang sedang ramai-ramainya. Belum lagi banyak penumpang yang minta diturunkan untuk buang air kecil. Belum lagi perut yang meraung minta diisi karena sepanjang hari terjaga dengan mata terbuka (karena tidur pun bosan). Belum lagi saya lupa membawa MP3 player (terpaksa saya bengong di sepanjang perjalanan). Singkatnya, pilihlah bus malam.

Berangkat jam 8 pagi, kami baru tiba di Lebakbulus jam setengah 11 malam lebih, hampir 15 jam perjalanan! Sungguh sangat menyiksa sebenarnya. Kemudian saya dan Koke pun berpisah menuju tempat tinggal masing-masing.

Tanah di ketinggian 2000 mdpl telah memberikan suatu cerita indah di benak saya. Betapa kabut telah merasuki raga saya, mendinginkan hati dan pikiran yang telah jenuh, pekat akibat rutinitas hidup di perkotaan. Hijau nya alam telah menyegarkan mata yang sudah lelah melihat kesemrawutan lalu lintas kota dan terangnya cahaya dari layar komputer. Dan bau kentutnya belerang yang membuat saya melupakan emosi dan kesulitan serta mampu membuka lebar senyum saya. Tanah sang Dewa telah mengajarkan saya betapa indah bumi ini, betapa kaya nya potensi di ketinggian gunung. Sang Dewa telah sukses mengambil slot kosong di hati saya yang diisi oleh Dieng yang menakjubkan.

Tanah Sang Dewa, Dieng, I would love to visit you again….


Minggu, 10 Juni 2012

Dieng - Tanah Sang Dewa (bagian 3)


Kompleks Candi Hindu

Keluar dari museum Kaliasa, tepat di seberangnya terdapat sebuah pelataran dengan sebuah candi kecil bernama Candi Gatotkaca yang seakan-akan menyambut para wisatawan yang baru saja tiba. Candi ini tidak runcing di atapnya seperti umumnya candi hindu, mungkin karena sudah rusak dan tidak bisa diperbaiki, apalagi jika melihat tumpukan batu di sampingnya.  Tidak hanya candi ini saja yang ada di kompleks ini, bila kita masuk lebih ke dalam lagi kita akan menjumpai lima candi lainnya.



Terdapat pula deretan kios makanan dan oleh-oleh di sekitarnya. Anda dapat menikmati sajian kentang (rebus/goreng), jamur crispy, dan Purwaceng (semacam minuman peningkat vitalitas). Purwaceng adalah sejenis tumbuhan perdu yang banyak tumbuh liar di sekitar Dieng dan diyakini mempunyai khasiat ampuh bagi pria dan diramu menjadi berbagai macam produk. Saya pun mencoba secangkir Purwaceng yang dicampur dengan kopi. Hmm, rasanya cukup khas dan nikmat, namun daun-daun kering Purwaceng ini terasa sedikit mengganjal di tenggorokan. Kalau tentang khasiat nya sih jangan tanya yah, saya belum bisa membuktikan haha.


Oleh-oleh lain yang bisa anda temui disini yaitu syal bertuliskan dieng, kupluk, sarung tangan, dan berbagai macam edelweiss yang dijual dengan pot nya. Ada berbagai macam edelweiss yang dijual disini, mulai dari yang biasa belum mekar, yang biasa sudah mekar, yang dicat warna warni, dan yang langka (abu-abu dan putih). Setau saya edelweiss itu dilindungi, tapi saya juga kurang paham kenapa dijual dengan bebas disini. Mungkin ini edelweiss hasil budidaya kali yah J. Saya kemudian membeli tiga buah edelweiss : yang biasa belum mekar, dan dua yang langka. Harganya 10rb perbuah.



Jalan menuju kompleks utama candi tertata dengan sangat baik. Jalan setapak dengan paving block yang diiringi dengan pohon-pohon cemara dan bunga-bunga memberikan kesan yang santai, damai, dan nyaman. Suasana yang hening juga sanggup membuat kita terlarut dalam kedamaian pikiran, apalagi jika melihat asap-asap yang mengepul dari kawah-kawah yang berada di sekitar Dieng. Kondisinya yang ibarat tempat terbuka yang lapang mampu menghadirkan sensasi kebebasan.

Di pusat kompleks, terdapat lima buah candi yang cukup besar. Candi Hindu ini katanya berumur lebih dari seribu tahun (abad 7-8), dan merupakan candi hindu tertua yang ada di Indonesia. Candi utamanya adalah Candi Arjuna yang berhadapan dengan Candi Semar, dan disebelahnya berjejer Candi Srikandri, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra.  Sayangnya kondisi candi tersebut agak kurang baik, batuan penyusunnya tidak lengkap, dan banyak batuan yang sudah rusak. Saya sendiri paling suka dengan Candi Semar yang kondisinya paling baik, dan mempunyai atap limasan yang lancip.








Saya tidak habis pikir, dimasa sekitar seribu tahun lalu ada orang yang membangun banyak candi di tempat setinggi ini, melewati medan berat yang dulunya tentu bukan jalan dengan perkerasan aspal seperti saat ini. Bagaimana cara mereka membawa batu-batu penyusun candi? Bagaimana cara membangunnya? Siapa yang tinggal di daerah setinggi ini? Untuk apa saja candi ini dibangun? Apakah masih ada banyak candi lain yang belum ditemukan? Ada banyak pertanyaan yang muncul di kepala. Masa lalu memang menyisakan misteri yang sulit diterjemahkan. Pada masa kejayaannya, tempat ini pasti jauh lebih indah.

Tidak hanya kelima candi tersebut, di sekitarnya juga terdapat beberapa candi lain yang sayang kondisinya jauh lebih buruk. Terdapat pula semacam gazebo kuno dan punden berundak. Jika anda menelusuri semua jalan setapak yang ada, anda akan menjumpai ladang kentang, telaga, dan sebuah tanah lapang yang sangat hijau. Coba berjalan diatas tanah lapang tersebut, permukaan nya akan terasa unik saat diinjak seakan kita sedang menapak di atas bantal (empuk dan kenyal).










Setelah puas dan cukup lelah mengitari kompleks candi ini, kami pun beranjak ke tujuan selanjutnya. Sebuah tempat bernama Kawah Sikidang yang terkenal dengan hobinya yaitu suka meloncat dan berpindah-pindah (pasti bingung maksudnya apa). Nama sikidang diambil dari kata “Kidang” yang berarti “Kijang”. Kawah utama nya ini senang berpindah-pindah tempat ketika sudah “bosan” atau akan melompat ibarat sebuah Kijang.

Dari Kompleks Candi menuju kawah Sikidang anda akan melewati sebuah candi yang bernama Candi Bima. Candi ini merupakan candi yang terletak di paling selatan dan mempunyai kemiripan arsitektur dengan beberapa candi yang berada di India. Saya sendiri tidak sempat untuk berhenti dan mengabadikannya karena merasa sudah cukup puas melihat candi yang ada di dalam kompleks.
  
Kawah Sikidang

Pertama anda tiba di kawasan ini, anda pasti akan merasakan kondisi yang sangat kontras. Alam Dieng yang terasa segar dan penuh kehijauan sontak berubah drastis disini. Yang akan anda lihat disini adalah sebuah padang tandus berbukit berwarna tanah merah dan putih kekuningan dengan diujungnya terdapat sebuah kolam lumpur mendidih yang terus mengeluarkan uap panas yang berbau belerang. Sepanjang anda berjalan anda akan menemui buih-buih didih air di sekitar tanah yang anda pijak. Bau belerang terasa sangat kuat disini, jika anda tak sanggup dengan aromanya anda bisa membeli masker yang dijual di pintu masuk.


Pertama kali masuk, anda akan disambut dengan beberapa papan peringatan untuk hati-hati melangkah, tidak menyalakan api, dan tidak terlalu dekat dengan kawah. Suasana disini sungguh sulit dijelaskan, saya sendiri sedikit tidak percaya ada tempat seperti ini di segar dan hijau nya Dieng. Tanah berwarna putih kekuningan, buih didihan air ada dimana mana, dan uap air yang hilir mudik membatasi jarak pandang membuat suasana disini terasa sangat suram dan mencekam. Udara masih terasa dingin, tapi semakin anda mendekat ke kawah utama, udara sedikit terasa hangat.







Saat itu cukup banyak wisatawan yang datang mengunjungi, baik lokal maupun mancanegara. Saya melihat ada beberapa bule dan turis dari Korea disini. Anda juga dapat membeli belerang yang dijual oleh warga, katanya belerang bagus untuk kesehatan kulit. Tidak hanya digunakan sebagai tempat rekreasi, tempat ini juga dipakai beberapa orang untuk berkuda dan memacu sepeda motor trailnya. Saya cukup lama mengamati deruman motor trail yang berputar-putar di tanah berpasir. Saya juga sempat melihat seorang anak perempuan cilik yang berambut gimbal sedang bermain dengan teman-temannya. Sedikit tips, hati hati dengan langkah anda, jika apes anda dapat menginjak buih didihan air atau kotoran kuda.




Kawah utama berukuran sangat besar dan dikelilingi oleh pagar bambu sebagai pengaman. Didihan air (sepertinya sih lumpur) terlihat sangat jelas bergejolak di depan anda dan berbunyi blup blup blup. Pemandangan yang sangat menakjubkan! Dibawah kawah ini pasti terdapat sebuah dapur magma yang sangat panas. Entah berapa suhu nya, mungkin bisa lebih dari 100 derajat celcius, ingin rasanya saya melempar telur mentah kesana dan melihat apa yang terjadi kemudian.




  
Setelah melewati kawah, terdapat sebuah bukit yang sudah terkelupas lapisan vegetasinya. Bukit ini cukup tinggi jadi cukup membuat dengkul sedikit gempor. Tapi menaiki bukit ini sungguh “worth it” karena kita bisa melihat pemandangan yang tidak kalah indah. Anda dapat melihat Kawah Sikidang dari atas, melihat ladang kentang (lagi-lagi), dan melihat uap yang membumbung tinggi dari pembangkit listrik geothermal yang berada di sekitar Dieng.





Setelah puas menikmati Kawah Sikidang, kami pun melanjutkan misi kami berikutnya yaitu melakukan survei ke tempat melihat Sunrise di Bukit Sikunir.  Untuk mencapai tempat ini, kami bergerak ke Selatan untuk menuju desa Sembungan dengan nama jalan yang unik, jalan tersebut bernama sunrise (hmm, karena sudah sangat terkenal dengan sunrisenya mungkin). Jalan menuju desa ternyata cukup jauh, jalannya nya pun kurang baik : becek, penuh lobang, berkelok, sempit, menurun dan menanjak. . Seringkali kami berpapasan dengan truk besar dan melewati jalan yang penuh dengan timbunan pupuk kandang disisinya.

Sebelum mencapai desa Sembungan, kami terlebih dahulu melewati sebuah pembangkit listrik geothermal. Di sepanjang jalan menuju pembangkit ini, anda akan melewati Well Pad Facility dan mendapati jalur pipa berukuran besar dan kecil di sisi jalan lengkap dengan pipe support nya (sebuah struktur baja yang menahan berat dan tekanan dari pipa dan isinya).






   
Loket untuk melihat sunrise berada di paling ujung jalan. Sebenarnya ga mirip loket sih, lebih mirip gubuk yang biasa ada di tepi kolam atau sungai haha. Setelah melewati Desa Sembungan, teruskan saja hingga anda menjumpai jalan buntu dengan sebuah lapangan bola, tempat parkir paving block, dan Telaga yang sangat besar bernama Telaga Cebong. Di telaga ini anda bisa menyewa sebuah perahu untuk berkeliling danau. Perlu dicatat, udara di sini benar-benar sangat dingin sekali! Hari sudah sore dan angin berhembus sangat kencang menjadikan udara disini menjadi luar biasa dingin. Pakailah jaket yang cukup hangat ketika berada disini. Coba juga mencelupkan kaki anda kedalam telaga, rasanya seperti mencelupkan kaki di dalam air es!








Setelah mendapatkan cukup informasi, kami pun bergegas pulang. Di perjalanan pulang kami sempatkan untuk melihat-lihat daerah Dieng 2. Kami akhirnya tiba kembali di penginapan saat adzan maghrib berkumandang.

(bagian 3 habis – bersambung)