Berada di tempat yang dingin
membuat saya pribadi malas mandi, cukup cuci muka saja, apalagi pada malam hari
suhu menjadi lebih dingin. Mungkin salah satu kurangnya Dieng adalah tidak ada
wisata yang bisa dinikmati di malam hari, ketika matahari sudah tenggelam para
warga sudah duduk manis di rumahnya masing-masing.
“Kalau malam apa ya tempat yang
biasa dikunjungi mbak?” (dengan muka berseri-seri terus senyum tampak gigi))
“Kalau sudah malam ya di rumah
aja mas” (dengan muka datar setengah
bingung)
Begitu kira-kira percakapan saya
dengan wanita yang menjaga penginapan kami.
Malam kami nikmati dengan
beristirahat, kaki ini sangat pegal rasanya. Kalau dipikir-pikir kami emang
seharian berjalan kaki terus. Singkat kata, kalau ingin puas di Dieng pastikan
anda punya stamina yang mumpuni. Kami pun tidur saat malam belum larut karena
kami ingin melihat sunrise dari puncak bukit Sikunir sehingga kami harus
berangkat dari penginapan sekitar jam 4 subuh.
Sekitar jam 4 kurang kami bangun
dari tempat tidur. Setelah cuci muka, sikat gigi, dan mempersiapkan bekal
seperti air minum, air panas, cemilan, dan kopi. Saya sudah ga ngerti lagi lah sama
dinginnya, dingin banget! Cuci muka kaya nyemplungin muka ke sebaskom air penuh
es batu sambil kumur-kumur pakai odol. Dan begonya, tidak terlintas sedikitpun di pikiran saya
untuk membawa senter, begitu pula dengan Koke. Praktis hanya Galang yang
membawa senter (maklum doi yang paling pengalaman).
Sunrise di Puncak Sikunir
Perjalanan terasa lancar, karena
emang jam segitu ya orang masih nyenyak dalam mimpinya. Jalan sangat gelap,
hanya lampu mobil kami lah sumber cahaya satu-satunya. Untungnya karena sudah
survei sebelumnya, kami tidak khawatir dengan jalan yang kami lalui. Kami pun
melewati Desa Sembungan, desa tertinggi di pulau Jawa, yang masih sunyi
ditinggal tidur oleh warganya. Sekitar jam setengah 5 pagi kami tiba di loket
dan disambut oleh seorang penjaga yang saya lupa namanya, sebut saja Pak X.
Ternyata Pak X ini juga sedang menunggu rombongan lainnya dari Jakarta yang
sudah janji akan datang, ga tanggung-tanggung serombongan nya ada 50 orang.
WOW!
Sambil menunggu, kami berusaha
beradaptasi dengan suhu yang sangat dingin. Senang rasanya melihat uap air
muncul dari udara yang saya hembuskan (kampungan). Saat itu saya memakai baju 3
lapis + jaket, lengkap dengan kupluk dan sarung tangan. Galang sendiri
berteori, kalau di tempat dingin jangan langsung memakai pakaian tebal. Tapi
mulai lah dengan pakaian biasa untuk membiasakan badan melawan dingin, kemudian
kalau ga kuat baru tambah baju. Saya mencoba, dan saya kapok! Saya ga kuat sama
dinginnya.
Kami banyak ngobrol dengan Pak X
tentang Dieng. Dari beliau lah kami tahu kalau kentang itu baru masuk ke Dieng
sekitar tahun 80-an, dan ternyata hasilnya baik sehingga banyak masyarakat
setempat menanam kentang, kualitas nya pun sangat baik. Saya pun iseng bertanya
tentang Telaga Cebong yang terhampar luas di depan mata kami. Kata beliau, ikan
yang ada di telaga adalah ikan asli Dieng (endemik istilahnya) dan ikan-ikan
jenis umum yang ikut dimasukkan. Setiap panen selalu menghasilkan banyak ikan,
sampai skala ton kalau saya ga salah ingat.
Cerita semakin bertambah seru
ketika Pak X bercerita tentang orang pintar yang sengaja datang ke Telaga Cebong.
Orang pintar tersebut bilang, Telaga Cebong sungguh hebat. Ada sebuah ikan
besar bermahkota dan bersisik merah yang selalu diiringi oleh dua ikan
penjaganya. Ikan ini hanya bisa dilihat oleh orang tertentu. Pak X mengisahkan
terkadang saat malam hari muncul cahaya terang dari danau yang konon nya
berasal dari ikan tersebut. Cerita yang sangat mengagumkan!
Lama menunggu, ternyata rombongan
50 orang tersebut masih berada di sekitar Wonosobo, sehingga menunda kunjungan
mereka menjadi esok harinya. Kami pun segera bersiap naik dengan Pak X sebagai
pemandu jalannya. Untuk naik ke puncak bukit Sikunir, kami dikenakan biaya
masuk per orang plus biaya pengantar. Saya lupa berapa jumlah total untuk
bertiga, tapi kalau ga salah sih ga sampai 40rb.
Perjalanan ke puncak sendiri
tidak terlalu lama, sekitar 30 menitan. Cuma karena kami tidak pemanasan dulu
dan suhunya yang sangat dingin membuat kami sangat kelelahan dan terpaksa harus
berhenti dua kali untuk beristirahat. Jalan nya saat itu aman, tidak becek dan tidak
terlalu sering menanjak. Kadang-kadang terlihat jurang di sisi kiri kami.
seringkali sih tertutup dengan pepohonan. Sesampainya di puncak, langit masih
gelap. Ternyata sudah banyak orang di sini, bahkan ada yang memasang tenda.
Kami pun beristirahat di batu besar, di gelapnya langit terdengar nyanyian para
pendaki yang menanti kehadiran matahari.
Galang membuka tas nya dan
mengeluarkan termos yang berisi air panas (sudah jelas, ga mungkin isinya ayam
goreng). Kopi sachet kami tuangkan dengan sigap ke gelas masing-masing, dan
nikmatnya menenggak kopi panas di saat suhu sangat dingin sepertinya sulit
untuk dijelaskan. TOP MARKOTOK! Lihat saja ekspresi kami ketika menikmati kopi
panas ini :D. Kalau malas bawa termos dan kopi tidak usah khawatir, karena anda
akan menemui penjual minuman hangat dan pop mie disini haha.
Beberapa belas menit menunggu,
langit mulai menunjukkan perubahan warna. Terlihat warna biru agak gelap di
langit. Terlihat dengan gagahnya Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing (saya ga yakin
yang mana) di hadapan kami. dibalik Gunung Sundoro terlihat pula samar-samar
sosok Gunung Merbabu dan Gunung Merapi. Kami pun mencoba menangkap momen
tersebut dengan kamera. Berikut hasil dari tangkapan kamera :
Sayangnya, kami tidak melihat
matahari nya terbit karena warna emas yang saya tunggu-tunggu ternyata tidak
hadir hingga langit sudah terang. Kami
pun cukup menikmati pemandangan yang disajikan alam untuk kami dan puluhan
orang disini. Ketika terang semakin jelas terlihat di hadapan kami : lereng
gunung, kaki gunung, perumahan, jalan, hutan, dan horizon bumi yang cantik.
Fase perubahan dari gelap ke terang ternyata sangat berharga untuk dinikmati.
Bagaikan candu, kami sudah lupa dengan hawa dingin yang menusuk syaraf kulit
kami.
Saat langit sudah terang,
orang-orang pun mulai beranjak turun. Tapi kami tidak serta merta ingin turun.
Kami penasaran dengan jalur jalan setapak yang terlihat bercabang dan langsung
sepakat untuk menyusuri lebih jauh lagi. Dahaga kami belum terpuaskan, kami
masih ingin melihat lebih banyak lagi. Jalan tersebut mengantarkan kami ke
puncak lainnya, memberi kami sudut pandang lain untuk menikmati elok gagahnya
Gunung Sundoro. Kami berpindah dari satu puncak ke puncak lainnya, hingga
mencoba jalur baru hingga harus memanjat tebing sambil menarik rumput untuk
mengangkat tubuh kami. Sebenarnya ada jalan lain tapi memutar, dan kami cukup
malas untuk memutar haha. Pemandangan disini tidak kalah menarik :D
Tiba-tiba kabut berlarian dari
bukit sebelah menerobos melewati kami. Sangat terasa dinginnya menerpa rambut
kami dan beratnya uap air di hidung kami. Hebat sekali rasanya di peluk oleh
kabut di ketinggian sekitar 2100 mdpl hehe. Setiap detik disini berusaha saya
nikmati sebaik mungkin. Tak terukur lagi kebahagiaan yang saya peroleh disini.
Setelah lelah menyapa, kami pun
turun dengan sangat puas. Saat perjalanan turun, terlihat pemandangan yang
tidak kami lihat saat gelap, cukup indah namun juga cukup mengerikan melihat
jurang yang menganga. Perjalanan pulang tidak begitu terasa. Sesampainya di
loket, kami pun langsung meluncur pulang menuju penginapan.
Mandi air panas setelah
beraktivitas fisik terasa bagai mengisi energi hingga penuh dari yang
sebelumnya sudah hampir kosong. Waktu menunjukkan sekitar pukul sembilan pagi
dan kami sudah mengepak barang kami masing-masing. Kami memutuskan untuk
langsung check-out karena setelah mengunjungi objek wisata yang lain kami akan
segera pulang ke Wonosobo, supaya praktis saja.
Tak lupa kami membeli oleh-oleh
di warung yang juga merupakan bagian dari penginapan. Saya membeli oleh-oleh
khas Dieng seperti Carica, keripik jamur kuping, keripik jamur kancing, dan keripik
jamur tiram. Carica merupakan oleh-oleh yang sangat tersohor dan menjadi
oleh-oleh wajib apabila mengunjungi Dieng. Carica adalah semacam pepaya yang
sebenarnya berasal dari Pegunungan Andes Amerika Selatan (walau masih simpang
siur kabarnya) namun tumbuh sangat baik di daerah Dieng.
Perjalanan kami selanjutnya
adalah mengunjungi Dieng Plateau Theater.
Dieng Plateau Theater
Kami memacu APV kami menuju suatu
tempat di daerah berbatu besar bernama Dieng Plateau Theater. Sesuai namanya,
tempat ini adalah semacam bioskop, namun bioskop berukuran mini yaa mirip-mirip
layar tancep lah. Gedung nya tidak begitu besar, dan kapasitasnya mungkin hanya
sekitar 50 orang saja. Di sini kita disajikan sebuah film dokumenter berjudul “Bumi
Kahyangan Dieng Plateau – The Gods Above”. Film ini membahas semua tentang
Dieng dalam konteks ilmu pengetahuan (geologi, vulkanologi, dll).
Di awal film kita akan disajikan
informasi mengenai bagaimana Dieng terbentuk. Kemudian menyajikan sebuah kisah
tentang seorang ahli (entah ahli geologi atau vulkanologi, saya kurang tahu)
yang berkeliling ke setiap kawah yang ada di Dieng untuk mengukur kandungan gas
yang keluar dari perut bumi. Seringkali di daerah yang dicurigai mengandung gas
CO dalam jumlah banyak, mereka memakai perlengkapan khusus seperti tabung
oksigen. Ada cerita memilukan tentang jatuhnya korban jiwa akibat keluarnya
kandungan gas CO dalam jumlah yang besar dari suatu kawah. Gas ini tidak berbau
dan tidak berwarna, tapi dapat mematikan jika manusia menghirupnya terlalu
banyak. Penjelasannya saya sudahi disini aja yah, sebelum malah menjadi spoiler
hehe.
Setelah sekitar 30 menit lebih
menikmati film, kami melanjutkan perjalanan ke salah satu objek wisata Dieng
yang paling terkenal : Telaga Warna.
Telaga Warna, Telaga Pengilon, dan Goa Semar
Di kawasan Telaga Warna ini
sendiri termasuk pula Telaga Pengilon dan Goa Semar. Mereka saling berdekatan
dan berada dalam satu kompleks. Telaga Warna adalah sebuah telaga yang dikenal
akan warnanya yang berubah-ubah warna pada kurun waktu tertentu. Saat itu
Telaga Warna berwarna hijau. Dulu kabarnya ada banyak kombinasi warna disini,
namun sekarang hanya tinggal dua warna saja. Airnya sangat tenang, tidak ada
riak air disini, kicauan burung sangat jelas terdengar di telinga, dan
pohon-pohon yang asri mengelilingi telaga memberikan keteduhan.
Sejatinya telaga warna adalah
sebuah kawah yang dipenuhi oleh air. Bila
anda perhatikan, di tepi telaga terlihat buih-buih air seperti yang anda banyak
jumpai di Kawah Sikidang. Bau belerang pun terasa di hidung agak samar-samar
sehingga bikin bingung kita, sebenarnya yang kita cium itu belerang atau aroma
kentut orang sih??haha.
Saat itu pengunjung Telaga Warna
cukup ramai. Pengelola menyediakan sebuah gedung mirip gazebo sebagai tempat
bersantai dan berkumpul para pengunjung. Di jalan masuk pun terdapat satu grup
pengamen yang mengalunkan lagu-lagu romantis. Di tepi Telaga Warna banyak
pohon-pohon tumbang yang menjorok ke tengah telaga, yang kemudian dimanfaatkan
pengunjung untuk foto-foto. Jalan setapak disini sangat panjang dan bercabang
yang akan menuju Telaga Pengilon dan Goa Semar.
Setelah puas mengitari Telaga
Warna, kami beranjak ke Telaga Pengilon yang terletak bersebrangan dengan
Telaga Warna. Sayang nya jalan setapak menuju Telaga Pengilon saat itu
kondisinya tidak baik, sangat becek dan licin. Kami harus sedikit berusaha dan
rela terjerembab di di tanah becek berlumpur. Tapi kami melewati sebuah padang
rumput yang cukup indah. Dan setelah itu kami melihat sebuah telaga besar yang
berwarna jernih, sangat berbeda dengan Telaga Warna. Di permukaan ini anda
dapat bercermin, lumayanlah bisa merapihkan bentuk rambut yang sedikit awur-awuran
akibat diterpa angin hehe.
Ada sebuah mitos tentang Telaga
Pengilon, yaitu apabila seseorang bercermin, yang berhati baik/mulia akan
terlihat tampan atau cantik, dan sebaliknya apabila berhati busuk makan akan
terlihat jelek. Silahkan anda bercermin dan menilai wajah anda sendiri
hehehehehe.
Setelah melihat Telaga Pengilon,
kami melanjutkan ke percabangan jalan setapak lainnya yang menuju Goa Semar. Ada
beberapa yang bisa dilihat disini, seperti Prasasti Batu Tulis (tapi tulisan
yang saya lihat hanyalah vandalisme??), Patung Gajahmada berwarna emas memegang
gada, sebuah Arca wanita berkepala tiga (telanjang dada), dan beberapa Goa. Goa-goa
yang ada sudah dibuatkan pendopo-nya masing-masing. Sayangnya kita tidak bisa
masuk ke dalam Goa karena dikunci gembok.
Jika anda perhatikan, di belakang
prasasti dan di dalam goa dapat terlihat bekas-bekas kemenyan. Sepertinya tempat
ini dipakai untuk keperluan tertentu oleh beberapa orang. Saya sendiri tidak
suka berlama-lama melihat ke dalam goa karena memberikan perasaan yang tidak
enak dibenak saya.
Jika anda menyukai berendam di
air hangat, anda dapat mengunjungi wisata kolam air panas yang bernama
Kaliurang yang berada di jalan utama menuju Wonosobo dari arah Dieng. Tempat
ini sebenarnya adalah rekomendasi dari teman kantor saya yang beristrikan
wanita Wonosobo. Namun sayang, kami sudah tidak sanggup lagi untuk berendam
disana, selain kondisi cuaca sudah cukup panas.
Namun, melihat bensin yang kami
miliki ternyata masih banyak, kami pun memutuskan untuk mampir melihat kebun teh
yang bernama Agrowisata Kebun Teh Tambi. Layaknya sebuah kebun teh, maka yang
sejauh anda memandang yang tampak adalah hijau dedaunan dari tanaman teh (ya
iyalaah, masa duren??). Tidak banyak yang bisa dilihat disini sebenarnya, tapi
saya dan Koke tetap turun karena ingin menghilangkan penat di perjalanan. Sedangkan
Galang tertidur pulas di kursi mobil.
Ada beberapa pengunjung di kebun teh
ini, dan semuanya adalah pasangan yang sedang memadu kasih, kasmaran,
bermesraan dan mengumbar kata-kata cinta (maaf ini lebay). Sedangkan saya dan
Koke hanya melongo dungu melihat mereka. Kesan saya terhadap kebun teh ini
adalah : tempat ini adalah lokasi yang sangat cocok untuk syuting film India
hahaha.
Sesampainya di Wonosobo, tidak
afdol jika tidak mencicipi kuliner khas Wonosobo, yaitu Mie Ongklok. Ada sebuah
kedai Mie Ongklok yang sangat terkenal di Wonosobo, tapi saya lupa namanya. Silahkan
cocokkan saja dengan foto berikut ini :
Selesai makan kami langsung
tancap gas menuju rumah Galang dan begitu sampai langsung mengistirahatkan
kaki. Tapi sebelumnya kami memesan tiket menuju Jakarta di terminal Wonosobo
untuk esok pagi nya. Harga tiket bus dari Wonosobo entah kenapa lebih murah
daripada yang kami beli di Jakarta.
Malam di Wonosobo saya lalui
dengan tertidur sangat pulas, benar-benar nyenyak. Niatnya sih ga pingin tidur
supaya keesokan harinya bisa tidur di sepanjang perjalanan menuju Jakarta, tapi
mata tak kuasa untuk tetap terbuka dan akhirnya raga ini terpaksa menyerah oleh
empuknya kasur dan dinginnya suhu malam.
Setelah berpamitan dengan Galang
dan kedua orang tuanya, saya dan Koke segera menaiki bus Sinjay tujuan Jakarta.
Masih terasa hangatnya sarapan dan teh manis di lambung saya. Saya sangat
berterima kasih dengan kebaikan mereka selama berada di sini. Sangat hangat di
tengah dingin nya Wonosobo. Tentu lain kali saya ingin sekali kembali disini. Wajah
dan dinginnya Dieng telah membekas meninggalkan jejak di pikiran dan kulit
saya.
Sedikit saran untuk anda, jika
berpergian lebih dari 10 jam lebih baik anda memilih bus malam. Karena bus
siang sangat tidak efisien, bus kami berhenti hampir di setiap terminal untuk
mengambil penumpang. Belum lagi ketika melewati pasar yang macet. Belum lagi
ketika melewati kota yang sedang ramai-ramainya. Belum lagi banyak penumpang
yang minta diturunkan untuk buang air kecil. Belum lagi perut yang meraung
minta diisi karena sepanjang hari terjaga dengan mata terbuka (karena tidur pun
bosan). Belum lagi saya lupa membawa MP3 player (terpaksa saya bengong di
sepanjang perjalanan). Singkatnya, pilihlah bus malam.
Berangkat jam 8 pagi, kami baru
tiba di Lebakbulus jam setengah 11 malam lebih, hampir 15 jam perjalanan! Sungguh
sangat menyiksa sebenarnya. Kemudian saya dan Koke pun berpisah menuju tempat
tinggal masing-masing.
Tanah di ketinggian 2000 mdpl
telah memberikan suatu cerita indah di benak saya. Betapa kabut telah merasuki
raga saya, mendinginkan hati dan pikiran yang telah jenuh, pekat akibat rutinitas
hidup di perkotaan. Hijau nya alam telah menyegarkan mata yang sudah lelah
melihat kesemrawutan lalu lintas kota dan terangnya cahaya dari layar komputer.
Dan bau kentutnya belerang yang membuat saya melupakan emosi dan kesulitan
serta mampu membuka lebar senyum saya. Tanah sang Dewa telah mengajarkan saya
betapa indah bumi ini, betapa kaya nya potensi di ketinggian gunung. Sang Dewa
telah sukses mengambil slot kosong di hati saya yang diisi oleh Dieng yang
menakjubkan.
Tanah Sang Dewa, Dieng, I would
love to visit you again….





























































