Jumat, 15 Juni 2012

Dieng - Tanah Sang Dewa (bagian 4 - habis)


Berada di tempat yang dingin membuat saya pribadi malas mandi, cukup cuci muka saja, apalagi pada malam hari suhu menjadi lebih dingin. Mungkin salah satu kurangnya Dieng adalah tidak ada wisata yang bisa dinikmati di malam hari, ketika matahari sudah tenggelam para warga sudah duduk manis di rumahnya masing-masing.

“Kalau malam apa ya tempat yang biasa dikunjungi mbak?” (dengan muka berseri-seri terus senyum tampak gigi))
“Kalau sudah malam ya di rumah aja mas”  (dengan muka datar setengah bingung)
Begitu kira-kira percakapan saya dengan wanita yang menjaga penginapan kami.

Malam kami nikmati dengan beristirahat, kaki ini sangat pegal rasanya. Kalau dipikir-pikir kami emang seharian berjalan kaki terus. Singkat kata, kalau ingin puas di Dieng pastikan anda punya stamina yang mumpuni. Kami pun tidur saat malam belum larut karena kami ingin melihat sunrise dari puncak bukit Sikunir sehingga kami harus berangkat dari penginapan sekitar jam 4 subuh.

Sekitar jam 4 kurang kami bangun dari tempat tidur. Setelah cuci muka, sikat gigi, dan mempersiapkan bekal seperti air minum, air panas, cemilan, dan kopi. Saya sudah ga ngerti lagi lah sama dinginnya, dingin banget! Cuci muka kaya nyemplungin muka ke sebaskom air penuh es batu sambil kumur-kumur pakai odol. Dan begonya,  tidak terlintas sedikitpun di pikiran saya untuk membawa senter, begitu pula dengan Koke. Praktis hanya Galang yang membawa senter (maklum doi yang paling pengalaman).

Sunrise di Puncak Sikunir

Perjalanan terasa lancar, karena emang jam segitu ya orang masih nyenyak dalam mimpinya. Jalan sangat gelap, hanya lampu mobil kami lah sumber cahaya satu-satunya. Untungnya karena sudah survei sebelumnya, kami tidak khawatir dengan jalan yang kami lalui. Kami pun melewati Desa Sembungan, desa tertinggi di pulau Jawa, yang masih sunyi ditinggal tidur oleh warganya. Sekitar jam setengah 5 pagi kami tiba di loket dan disambut oleh seorang penjaga yang saya lupa namanya, sebut saja Pak X. Ternyata Pak X ini juga sedang menunggu rombongan lainnya dari Jakarta yang sudah janji akan datang, ga tanggung-tanggung serombongan nya ada 50 orang. WOW!

Sambil menunggu, kami berusaha beradaptasi dengan suhu yang sangat dingin. Senang rasanya melihat uap air muncul dari udara yang saya hembuskan (kampungan). Saat itu saya memakai baju 3 lapis + jaket, lengkap dengan kupluk dan sarung tangan. Galang sendiri berteori, kalau di tempat dingin jangan langsung memakai pakaian tebal. Tapi mulai lah dengan pakaian biasa untuk membiasakan badan melawan dingin, kemudian kalau ga kuat baru tambah baju. Saya mencoba, dan saya kapok! Saya ga kuat sama dinginnya.

Kami banyak ngobrol dengan Pak X tentang Dieng. Dari beliau lah kami tahu kalau kentang itu baru masuk ke Dieng sekitar tahun 80-an, dan ternyata hasilnya baik sehingga banyak masyarakat setempat menanam kentang, kualitas nya pun sangat baik. Saya pun iseng bertanya tentang Telaga Cebong yang terhampar luas di depan mata kami. Kata beliau, ikan yang ada di telaga adalah ikan asli Dieng (endemik istilahnya) dan ikan-ikan jenis umum yang ikut dimasukkan. Setiap panen selalu menghasilkan banyak ikan, sampai skala ton kalau saya ga salah ingat.

Cerita semakin bertambah seru ketika Pak X bercerita tentang orang pintar yang sengaja datang ke Telaga Cebong. Orang pintar tersebut bilang, Telaga Cebong sungguh hebat. Ada sebuah ikan besar bermahkota dan bersisik merah yang selalu diiringi oleh dua ikan penjaganya. Ikan ini hanya bisa dilihat oleh orang tertentu. Pak X mengisahkan terkadang saat malam hari muncul cahaya terang dari danau yang konon nya berasal dari ikan tersebut. Cerita yang sangat mengagumkan!

Lama menunggu, ternyata rombongan 50 orang tersebut masih berada di sekitar Wonosobo, sehingga menunda kunjungan mereka menjadi esok harinya. Kami pun segera bersiap naik dengan Pak X sebagai pemandu jalannya. Untuk naik ke puncak bukit Sikunir, kami dikenakan biaya masuk per orang plus biaya pengantar. Saya lupa berapa jumlah total untuk bertiga, tapi kalau ga salah sih ga sampai 40rb.

Perjalanan ke puncak sendiri tidak terlalu lama, sekitar 30 menitan. Cuma karena kami tidak pemanasan dulu dan suhunya yang sangat dingin membuat kami sangat kelelahan dan terpaksa harus berhenti dua kali untuk beristirahat. Jalan nya saat itu aman, tidak becek dan tidak terlalu sering menanjak. Kadang-kadang terlihat jurang di sisi kiri kami. seringkali sih tertutup dengan pepohonan. Sesampainya di puncak, langit masih gelap. Ternyata sudah banyak orang di sini, bahkan ada yang memasang tenda. Kami pun beristirahat di batu besar, di gelapnya langit terdengar nyanyian para pendaki yang menanti kehadiran matahari.

Galang membuka tas nya dan mengeluarkan termos yang berisi air panas (sudah jelas, ga mungkin isinya ayam goreng). Kopi sachet kami tuangkan dengan sigap ke gelas masing-masing, dan nikmatnya menenggak kopi panas di saat suhu sangat dingin sepertinya sulit untuk dijelaskan. TOP MARKOTOK! Lihat saja ekspresi kami ketika menikmati kopi panas ini :D. Kalau malas bawa termos dan kopi tidak usah khawatir, karena anda akan menemui penjual minuman hangat dan pop mie disini haha.





Beberapa belas menit menunggu, langit mulai menunjukkan perubahan warna. Terlihat warna biru agak gelap di langit. Terlihat dengan gagahnya Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing (saya ga yakin yang mana) di hadapan kami. dibalik Gunung Sundoro terlihat pula samar-samar sosok Gunung Merbabu dan Gunung Merapi. Kami pun mencoba menangkap momen tersebut dengan kamera. Berikut hasil dari  tangkapan kamera :









Sayangnya, kami tidak melihat matahari nya terbit karena warna emas yang saya tunggu-tunggu ternyata tidak hadir hingga langit sudah terang.  Kami pun cukup menikmati pemandangan yang disajikan alam untuk kami dan puluhan orang disini. Ketika terang semakin jelas terlihat di hadapan kami : lereng gunung, kaki gunung, perumahan, jalan, hutan, dan horizon bumi yang cantik. Fase perubahan dari gelap ke terang ternyata sangat berharga untuk dinikmati. Bagaikan candu, kami sudah lupa dengan hawa dingin yang menusuk syaraf kulit kami.





Saat langit sudah terang, orang-orang pun mulai beranjak turun. Tapi kami tidak serta merta ingin turun. Kami penasaran dengan jalur jalan setapak yang terlihat bercabang dan langsung sepakat untuk menyusuri lebih jauh lagi. Dahaga kami belum terpuaskan, kami masih ingin melihat lebih banyak lagi. Jalan tersebut mengantarkan kami ke puncak lainnya, memberi kami sudut pandang lain untuk menikmati elok gagahnya Gunung Sundoro. Kami berpindah dari satu puncak ke puncak lainnya, hingga mencoba jalur baru hingga harus memanjat tebing sambil menarik rumput untuk mengangkat tubuh kami. Sebenarnya ada jalan lain tapi memutar, dan kami cukup malas untuk memutar haha. Pemandangan disini tidak kalah menarik :D



 

Tiba-tiba kabut berlarian dari bukit sebelah menerobos melewati kami. Sangat terasa dinginnya menerpa rambut kami dan beratnya uap air di hidung kami. Hebat sekali rasanya di peluk oleh kabut di ketinggian sekitar 2100 mdpl hehe. Setiap detik disini berusaha saya nikmati sebaik mungkin. Tak terukur lagi kebahagiaan yang saya peroleh disini.




Setelah lelah menyapa, kami pun turun dengan sangat puas. Saat perjalanan turun, terlihat pemandangan yang tidak kami lihat saat gelap, cukup indah namun juga cukup mengerikan melihat jurang yang menganga. Perjalanan pulang tidak begitu terasa. Sesampainya di loket, kami pun langsung meluncur pulang menuju penginapan.

Mandi air panas setelah beraktivitas fisik terasa bagai mengisi energi hingga penuh dari yang sebelumnya sudah hampir kosong. Waktu menunjukkan sekitar pukul sembilan pagi dan kami sudah mengepak barang kami masing-masing. Kami memutuskan untuk langsung check-out karena setelah mengunjungi objek wisata yang lain kami akan segera pulang ke Wonosobo, supaya praktis saja.

Tak lupa kami membeli oleh-oleh di warung yang juga merupakan bagian dari penginapan. Saya membeli oleh-oleh khas Dieng seperti Carica, keripik jamur kuping, keripik jamur kancing, dan keripik jamur tiram. Carica merupakan oleh-oleh yang sangat tersohor dan menjadi oleh-oleh wajib apabila mengunjungi Dieng. Carica adalah semacam pepaya yang sebenarnya berasal dari Pegunungan Andes Amerika Selatan (walau masih simpang siur kabarnya) namun tumbuh sangat baik di daerah Dieng.

Perjalanan kami selanjutnya adalah mengunjungi Dieng Plateau Theater.

Dieng Plateau Theater


Kami memacu APV kami menuju suatu tempat di daerah berbatu besar bernama Dieng Plateau Theater. Sesuai namanya, tempat ini adalah semacam bioskop, namun bioskop berukuran mini yaa mirip-mirip layar tancep lah. Gedung nya tidak begitu besar, dan kapasitasnya mungkin hanya sekitar 50 orang saja. Di sini kita disajikan sebuah film dokumenter berjudul “Bumi Kahyangan Dieng Plateau – The Gods Above”. Film ini membahas semua tentang Dieng dalam konteks ilmu pengetahuan (geologi, vulkanologi, dll).

Di awal film kita akan disajikan informasi mengenai bagaimana Dieng terbentuk. Kemudian menyajikan sebuah kisah tentang seorang ahli (entah ahli geologi atau vulkanologi, saya kurang tahu) yang berkeliling ke setiap kawah yang ada di Dieng untuk mengukur kandungan gas yang keluar dari perut bumi. Seringkali di daerah yang dicurigai mengandung gas CO dalam jumlah banyak, mereka memakai perlengkapan khusus seperti tabung oksigen. Ada cerita memilukan tentang jatuhnya korban jiwa akibat keluarnya kandungan gas CO dalam jumlah yang besar dari suatu kawah. Gas ini tidak berbau dan tidak berwarna, tapi dapat mematikan jika manusia menghirupnya terlalu banyak. Penjelasannya saya sudahi disini aja yah, sebelum malah menjadi spoiler hehe.


Setelah sekitar 30 menit lebih menikmati film, kami melanjutkan perjalanan ke salah satu objek wisata Dieng yang paling terkenal : Telaga Warna.

Telaga Warna, Telaga Pengilon, dan Goa Semar
Di kawasan Telaga Warna ini sendiri termasuk pula Telaga Pengilon dan Goa Semar. Mereka saling berdekatan dan berada dalam satu kompleks. Telaga Warna adalah sebuah telaga yang dikenal akan warnanya yang berubah-ubah warna pada kurun waktu tertentu. Saat itu Telaga Warna berwarna hijau. Dulu kabarnya ada banyak kombinasi warna disini, namun sekarang hanya tinggal dua warna saja. Airnya sangat tenang, tidak ada riak air disini, kicauan burung sangat jelas terdengar di telinga, dan pohon-pohon yang asri mengelilingi telaga memberikan keteduhan.



Sejatinya telaga warna adalah sebuah kawah yang dipenuhi oleh air.  Bila anda perhatikan, di tepi telaga terlihat buih-buih air seperti yang anda banyak jumpai di Kawah Sikidang. Bau belerang pun terasa di hidung agak samar-samar sehingga bikin bingung kita, sebenarnya yang kita cium itu belerang atau aroma kentut orang sih??haha.




Saat itu pengunjung Telaga Warna cukup ramai. Pengelola menyediakan sebuah gedung mirip gazebo sebagai tempat bersantai dan berkumpul para pengunjung. Di jalan masuk pun terdapat satu grup pengamen yang mengalunkan lagu-lagu romantis. Di tepi Telaga Warna banyak pohon-pohon tumbang yang menjorok ke tengah telaga, yang kemudian dimanfaatkan pengunjung untuk foto-foto. Jalan setapak disini sangat panjang dan bercabang yang akan menuju Telaga Pengilon dan Goa Semar.

Setelah puas mengitari Telaga Warna, kami beranjak ke Telaga Pengilon yang terletak bersebrangan dengan Telaga Warna. Sayang nya jalan setapak menuju Telaga Pengilon saat itu kondisinya tidak baik, sangat becek dan licin. Kami harus sedikit berusaha dan rela terjerembab di di tanah becek berlumpur. Tapi kami melewati sebuah padang rumput yang cukup indah. Dan setelah itu kami melihat sebuah telaga besar yang berwarna jernih, sangat berbeda dengan Telaga Warna. Di permukaan ini anda dapat bercermin, lumayanlah bisa merapihkan bentuk rambut yang sedikit awur-awuran akibat diterpa angin hehe.

Ada sebuah mitos tentang Telaga Pengilon, yaitu apabila seseorang bercermin, yang berhati baik/mulia akan terlihat tampan atau cantik, dan sebaliknya apabila berhati busuk makan akan terlihat jelek. Silahkan anda bercermin dan menilai wajah anda sendiri hehehehehe.

Setelah melihat Telaga Pengilon, kami melanjutkan ke percabangan jalan setapak lainnya yang menuju Goa Semar. Ada beberapa yang bisa dilihat disini, seperti Prasasti Batu Tulis (tapi tulisan yang saya lihat hanyalah vandalisme??), Patung Gajahmada berwarna emas memegang gada, sebuah Arca wanita berkepala tiga (telanjang dada), dan beberapa Goa. Goa-goa yang ada sudah dibuatkan pendopo-nya masing-masing. Sayangnya kita tidak bisa masuk ke dalam Goa karena dikunci gembok.






Jika anda perhatikan, di belakang prasasti dan di dalam goa dapat terlihat bekas-bekas kemenyan. Sepertinya tempat ini dipakai untuk keperluan tertentu oleh beberapa orang. Saya sendiri tidak suka berlama-lama melihat ke dalam goa karena memberikan perasaan yang tidak enak dibenak saya.




 Puas melihat semuanya, kami memutuskan untuk meninggalkan Dieng. Sebenarnya masih ada Dieng 2 yang belum kami kunjungi, namun sayangnya kami sudah terlalu lelah. Betis ini sudah protes  gara-gara dipaksa lembur haha. Sekitar jam dua siang kami pun meluncur turun meninggalkan ketinggian 2000 mdpl membawa pengalaman yang sangat berharga.

Jika anda menyukai berendam di air hangat, anda dapat mengunjungi wisata kolam air panas yang bernama Kaliurang yang berada di jalan utama menuju Wonosobo dari arah Dieng. Tempat ini sebenarnya adalah rekomendasi dari teman kantor saya yang beristrikan wanita Wonosobo. Namun sayang, kami sudah tidak sanggup lagi untuk berendam disana, selain kondisi cuaca sudah cukup panas.

Namun, melihat bensin yang kami miliki ternyata masih banyak, kami pun memutuskan untuk mampir melihat kebun teh yang bernama Agrowisata Kebun Teh Tambi. Layaknya sebuah kebun teh, maka yang sejauh anda memandang yang tampak adalah hijau dedaunan dari tanaman teh (ya iyalaah, masa duren??). Tidak banyak yang bisa dilihat disini sebenarnya, tapi saya dan Koke tetap turun karena ingin menghilangkan penat di perjalanan. Sedangkan Galang tertidur pulas di kursi mobil.




Ada beberapa pengunjung di kebun teh ini, dan semuanya adalah pasangan yang sedang memadu kasih, kasmaran, bermesraan dan mengumbar kata-kata cinta (maaf ini lebay). Sedangkan saya dan Koke hanya melongo dungu melihat mereka. Kesan saya terhadap kebun teh ini adalah : tempat ini adalah lokasi yang sangat cocok untuk syuting film India hahaha.

Sesampainya di Wonosobo, tidak afdol jika tidak mencicipi kuliner khas Wonosobo, yaitu Mie Ongklok. Ada sebuah kedai Mie Ongklok yang sangat terkenal di Wonosobo, tapi saya lupa namanya. Silahkan cocokkan saja dengan foto berikut ini :


 Mie Ongklok adalah makanan berbasis mie dengan kuah kental dilengkapi kol dan daun kucai. Kuah kental ini terbuat dari saripati singkong, gula merah,dan ebi. Rasanya manis, khas Jawa, dan sedikit gurih namun terlalu manis untuk lidah saya. Idealnya, mie ongklok ini dinikmati dengan sate daging sapi. Porsinya tidak terlalu besar, sehingga lebih cocok dimakan sebagai pengisi perut diantara dua makan besar. Harganya pun tidak mahal, hanya 4 ribu per porsi dan 10 ribu untuk seporsi sate daging sapi.

Selesai makan kami langsung tancap gas menuju rumah Galang dan begitu sampai langsung mengistirahatkan kaki. Tapi sebelumnya kami memesan tiket menuju Jakarta di terminal Wonosobo untuk esok pagi nya. Harga tiket bus dari Wonosobo entah kenapa lebih murah daripada yang kami beli di Jakarta.

Malam di Wonosobo saya lalui dengan tertidur sangat pulas, benar-benar nyenyak. Niatnya sih ga pingin tidur supaya keesokan harinya bisa tidur di sepanjang perjalanan menuju Jakarta, tapi mata tak kuasa untuk tetap terbuka dan akhirnya raga ini terpaksa menyerah oleh empuknya kasur dan dinginnya suhu malam.

Setelah berpamitan dengan Galang dan kedua orang tuanya, saya dan Koke segera menaiki bus Sinjay tujuan Jakarta. Masih terasa hangatnya sarapan dan teh manis di lambung saya. Saya sangat berterima kasih dengan kebaikan mereka selama berada di sini. Sangat hangat di tengah dingin nya Wonosobo. Tentu lain kali saya ingin sekali kembali disini. Wajah dan dinginnya Dieng telah membekas meninggalkan jejak di pikiran dan kulit saya.

Sedikit saran untuk anda, jika berpergian lebih dari 10 jam lebih baik anda memilih bus malam. Karena bus siang sangat tidak efisien, bus kami berhenti hampir di setiap terminal untuk mengambil penumpang. Belum lagi ketika melewati pasar yang macet. Belum lagi ketika melewati kota yang sedang ramai-ramainya. Belum lagi banyak penumpang yang minta diturunkan untuk buang air kecil. Belum lagi perut yang meraung minta diisi karena sepanjang hari terjaga dengan mata terbuka (karena tidur pun bosan). Belum lagi saya lupa membawa MP3 player (terpaksa saya bengong di sepanjang perjalanan). Singkatnya, pilihlah bus malam.

Berangkat jam 8 pagi, kami baru tiba di Lebakbulus jam setengah 11 malam lebih, hampir 15 jam perjalanan! Sungguh sangat menyiksa sebenarnya. Kemudian saya dan Koke pun berpisah menuju tempat tinggal masing-masing.

Tanah di ketinggian 2000 mdpl telah memberikan suatu cerita indah di benak saya. Betapa kabut telah merasuki raga saya, mendinginkan hati dan pikiran yang telah jenuh, pekat akibat rutinitas hidup di perkotaan. Hijau nya alam telah menyegarkan mata yang sudah lelah melihat kesemrawutan lalu lintas kota dan terangnya cahaya dari layar komputer. Dan bau kentutnya belerang yang membuat saya melupakan emosi dan kesulitan serta mampu membuka lebar senyum saya. Tanah sang Dewa telah mengajarkan saya betapa indah bumi ini, betapa kaya nya potensi di ketinggian gunung. Sang Dewa telah sukses mengambil slot kosong di hati saya yang diisi oleh Dieng yang menakjubkan.

Tanah Sang Dewa, Dieng, I would love to visit you again….


Tidak ada komentar:

Posting Komentar