Setelah
puas beristirahat, bercerita, dan membersihkan diri, kami melanjutkan
perjalanan kembali. Ladang pertanian bawang ini kami turuni hingga akhirnya
kami menemukan jalan setapak tanah yang masuk ke hutan. Di sini disekeliling
kami adalah pohon bambu yang sangat tinggi dengan sungai di sepanjang jalan
nya. Lagi-lagi saya bersyukur tidak melewati jalan ini ketika pendakian malam.
Karena tentu akan sangat menyeramkan jika harus melewati hutan bambu di tengah
malam yang gelap. Di siang hari pohon bambu tersebut melindungi kami dari terik
sinar matahari.
Di
daerah ini, menjumpai banyak hal. Kami bertemu ibu-ibu tangguh yang mengangkut
kayu bakar tanpa beralaskan kaki. Mereka berjalan dengan kecepatan yang lebih
tinggi dibanding kami! Fiuuh. Kami juga
berjumpa dengan anak-anak kecil berbahasa asing yang sedang bahu membahu
mengangkut biji kopi. Ya di daerah ini orang banyak menanam kopi dengan alasan
orang tidak akan menebang sembarangan jika ada tanaman kopi. Setelah ditanya,
ternyata anak-anak tersebut adalah transmigran dari daerah timur. Walaupun
sebenarnya saya melihat salah satu dari anak tersebut memakai baju pramuka
dengan lambang pramuka Kalimantan Timur di bahunya. Agak kontradiktif.
Hutan
bambu yang kami lewati ini sangat panjang. Rombongan kembali terpisah, sama
persis dengan sebelumnya kecuali Amri yang kini berada di rombongan depan. Nono
tampak sangat lemas. Usut punya usut ternyata ia dehidrasi, ia kekurangan
cairan dan butuh minum. Sedangkan air kami sudah habis. Nono terpaksa meminum
air di bebatuan, dan bahkan air di saluran irigasi di area persawahan yang kami
temui. Sakit perut urusan belakangan katanya. Haha.
Daerah
yang kami lalui berubah menjadi area persawahan. Suara azan dzuhur berkumandang
di telinga kami. Beberapa kali terdengar
sayup suara sepeda motor yang melaju. Kami sudah dekat! Benar saja, tak lama
kami sampai di daerah perkampungan penduduk. Tak lama kemudian pula, kami
menemukan sebuah warung kecil. Kami pun beristirahat, meminum banyak air dan
makan cemilan kerupuk kampung. Jam tangan saya menunjukkan pukul setengah 1
siang.
Sesaat
setelah melanjutkan perjalanan, kami tiba di jalan desa. Kami bergegas mencari
kendaraan yang bisa mengangkut kami kembali ke rumah Aci. Tak lama kami
menemukan sebuah truk beukuran sedang sedang parkir di depan warung. Setelah
bernegosiasi, akhirnya dengan biaya 35 ribu kami pun menaiki bak truk tersebut.
Sambil melepas lelah kami banyak bercanda di sepanjang jalan di atas truk.
Namun
sayangnya, truk tersebut hanya mengantar kami sampai ke depan sebuah kolam
renang. Sang sopir beralasan kalau mau ke tempat tujuan yang kami mau, kami harus menambah ongkos
menjadi 75 ribu. Jelas kami tidak mau, kami pun turun dari bak truk sambil
mengumpat di dalam hati. Lalu kami menunggu angkot lewat. Kami mujur, tak lama
lewat sebuah angkot berwarna kuning. Kami pun naik angkot tersebut dan sampai
di rumah Aci sekitar pukul setengah 2.
(bagian 5 habis - bersambung...)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar