Minggu, 03 Juni 2012

pendakian gunung rakutak (bagian 5)


Setelah puas beristirahat, bercerita, dan membersihkan diri, kami melanjutkan perjalanan kembali. Ladang pertanian bawang ini kami turuni hingga akhirnya kami menemukan jalan setapak tanah yang masuk ke hutan. Di sini disekeliling kami adalah pohon bambu yang sangat tinggi dengan sungai di sepanjang jalan nya. Lagi-lagi saya bersyukur tidak melewati jalan ini ketika pendakian malam. Karena tentu akan sangat menyeramkan jika harus melewati hutan bambu di tengah malam yang gelap. Di siang hari pohon bambu tersebut melindungi kami dari terik sinar matahari.

Di daerah ini, menjumpai banyak hal. Kami bertemu ibu-ibu tangguh yang mengangkut kayu bakar tanpa beralaskan kaki. Mereka berjalan dengan kecepatan yang lebih tinggi dibanding kami! Fiuuh.  Kami juga berjumpa dengan anak-anak kecil berbahasa asing yang sedang bahu membahu mengangkut biji kopi. Ya di daerah ini orang banyak menanam kopi dengan alasan orang tidak akan menebang sembarangan jika ada tanaman kopi. Setelah ditanya, ternyata anak-anak tersebut adalah transmigran dari daerah timur. Walaupun sebenarnya saya melihat salah satu dari anak tersebut memakai baju pramuka dengan lambang pramuka Kalimantan Timur di bahunya. Agak kontradiktif.


Hutan bambu yang kami lewati ini sangat panjang. Rombongan kembali terpisah, sama persis dengan sebelumnya kecuali Amri yang kini berada di rombongan depan. Nono tampak sangat lemas. Usut punya usut ternyata ia dehidrasi, ia kekurangan cairan dan butuh minum. Sedangkan air kami sudah habis. Nono terpaksa meminum air di bebatuan, dan bahkan air di saluran irigasi di area persawahan yang kami temui. Sakit perut urusan belakangan katanya. Haha.


Daerah yang kami lalui berubah menjadi area persawahan. Suara azan dzuhur berkumandang di telinga kami.  Beberapa kali terdengar sayup suara sepeda motor yang melaju. Kami sudah dekat! Benar saja, tak lama kami sampai di daerah perkampungan penduduk. Tak lama kemudian pula, kami menemukan sebuah warung kecil. Kami pun beristirahat, meminum banyak air dan makan cemilan kerupuk kampung. Jam tangan saya menunjukkan pukul setengah 1 siang.

Sesaat setelah melanjutkan perjalanan, kami tiba di jalan desa. Kami bergegas mencari kendaraan yang bisa mengangkut kami kembali ke rumah Aci. Tak lama kami menemukan sebuah truk beukuran sedang sedang parkir di depan warung. Setelah bernegosiasi, akhirnya dengan biaya 35 ribu kami pun menaiki bak truk tersebut. Sambil melepas lelah kami banyak bercanda di sepanjang jalan di atas truk.


Namun sayangnya, truk tersebut hanya mengantar kami sampai ke depan sebuah kolam renang. Sang sopir beralasan kalau mau ke tempat tujuan  yang kami mau, kami harus menambah ongkos menjadi 75 ribu. Jelas kami tidak mau, kami pun turun dari bak truk sambil mengumpat di dalam hati. Lalu kami menunggu angkot lewat. Kami mujur, tak lama lewat sebuah angkot berwarna kuning. Kami pun naik angkot tersebut dan sampai di rumah Aci sekitar pukul setengah 2.

(bagian 5 habis - bersambung...)








Tidak ada komentar:

Posting Komentar