Makan sudah, mandi sudah, ganti
baju sudah, dan beres beres pun sudah. Kami bersiap-siap untuk pulang, travel
ke Jakarta pesenan kami sudah menunggu di gerbang Wekas. Setelah bernegosiasi
sebentar, kami menumpangi mobil pick-up kecil berwarna putih menuju gerbang
Wekas. Disini benar-benar terasa kekeluargaan nya, melewati jalan kampung yang
berlobang dan naik turun dipayungi bintang-bintang dan diselingi dengan
banyolan si isser. Benar-benar letih kami tidak terasa saat itu.
Travel pesanan kami sudah
menunggu di gerbang Wekas, sebuah minibus bermerk elf mungkin, berwarna biru
muda berkapasitas 12 orang dengan supir, di dalam nya terasa lapang. Travel ini
harus menuju pool nya terlebih dahulu, kesempatan itu kami manfaatkan dengan
mengisi perut dengan jajanan hangat di angkringan kota Magelang. Yah setidaknya
kami cicipi dululah kota Magelang ini sebelum pulang ke tempat tinggal
masing-masing. Dan seperti biasanya, saya kalau makan di angkringan suka tidak
terkontrol ngambil makanannya!hahaha. Sekitar setengah jam nangkring di
angkringan, kami kemudian berangkat menuju Jakarta. Disini kami berpisah dengan
Isser dan Tepe yang akan menuju Semarang, namun karena sudah tidak ada bus pada
saat itu, mereka kemudian memutuskan untuk mencari penginapan.
Di jalan kami berniat untuk
membeli perbekalan selama perjalanan di minimarket terdekat. Ketika menemukan
salah satu minimarket, namun sudah kelewatan oleh mobil kami. Sang supir
kemudian memundurkan mobilnya….dan di saat saya sedang asyik ngobrol dengan Ori
tiba tiba bagian belakang mobil menabrak pohon dan memecahkan kaca belakang!! saya
kaget sejadi-jadi nya!! Begitu juga Ori dan Arie. Kami duduk di belakang bertiga bersama
Arie. Untung saja kaca nya bukan kaca yang tajam seperti beling. Saya merasakan
ada serpihan kaca yang terbang ke arah pipi saya. Untung saja ga luka.
Keadaan saat itu semakin menjadi
tidak jelas. Kami duduk di minimarket sambil menunggu orang travel datang
dengan mobil pengganti. Tak lama, mobil pengganti datang dan mobil pengganti tersebut
adalah mobil yang mengantarkan kami dari rumah mas Gun menuju basecamp.
Tentunya kami kecewa, mobil tersebut lebih kecil dibandingkan mobil yang nabrak
itu dan tidak ada AC pula! tapi mau bagaimana lagi, itu namanya musibah, dan
kami harus segera pulang. Di mobil ini benar benar tersiksa, saya terpaksa
duduk di kursi paling depan berdua dengan Rega. Kalau diibaratkan formasi
sepakbola, formasi kami adalah 4-3-2 (supir tidak dihitung). Di tengah diisi 3
orang karena emang khusus cewe.
Ternyata kemalangan saya tidak
berhenti sampai disitu saja. Si supir, entah mungkin karena stress karena habis
nabrak dan gajinya akan dipotong, terlihat tidak fokus menyetir. Suka menyalip
sana sini yang bikin jantung deg-degan dan sering melewati jalan yang
berlobang. Rega juga tampak tidak percaya dengan si sopir. Akhirnya saya dan
Rega memutuskan untuk shift-shift-an tidur, pokoknya harus ada satu orang yang
bangun dan mengajak si sopir ngobrol supaya ia tetap fokus menyetir! Di saat saya
tidur, Rega ga tidur. Dan di saat Rega tidur, saya ga tidur. Bayangkan kami
akan melakukan itu selama kurang lebih 14 jam!
Sang sopir mengambil jalan tembus
untuk menghindari kemacetan, saya lupa nama jalannya. Jalan yang kami lalui
ternyata tidak selamanya bagus. Ada jalan yang jelek, bergelombang, banyak
lubang, dan sempit. Parahnya ada beberapa jalan yang longsor sehingga hanya
menyisakan satu lajur saja! Di malam yang sepi dan gelap tersebut, jelas
membuat saya merasa khawatir. Perjalanan ini bener-bener menyiksa pikiran saya.
Jalur yang kami lalui tidak sama
dengan jalur ketika kami berangkat dengan bis. Di perjalanan pulang kami
melewati sukoharjo, pekalongan, brebes, tegal, Cirebon, subang, purwakarta, dan
cikampek. Di daerah subang, kami berhenti di sebuah rumah makan untuk
beristirahat. Waktu saat itu menunjukkan pukul sekitar jam 7 pagi. Disini
teman-teman mengomentari obrolan saya selama perjalanan dengan si sopir. Memang
sih kalau dipikir-pikir obrolan saya rada aneh dan ga nyambung seperti : “ini
jalan aneh ya pak, kok bolong-bolong nya malah ditengah” , “wah kok bisa ada
hotel di jalan kaya gini pak? Emang siapa yang mau nginap disini ya?” , “ini
daerah mana ya pak?” (template, pasti saya tanyain kalau sampai di daerah
baru), “buset dah jalan nya cuma setengah gini pak”, “wah ada goa disini!”,
dll. Ya mau gimana lagi, namanya saya juga capek dan terpaksa ga bisa tidur
hehe.
Akhirnya sekitar jam 11 siang
kami sampai di Jakarta!! Mobil berhenti di alfamart, dan kami berpisah untuk
beristirahat dan bertemu kembali saat kerja di kantor. Sang sopir kembali
melajukan mobilnya menuju Magelang. Rega mengambil mobilnya di parkiran
Wanahayu. Dan Berliandi mampir dahulu ke kosan Kancrid sebelum melanjutkan
perjalanan pulang ke kosannya.
Perjalanan ini bagi saya walaupun
sangat melelahkan, tetapi sudah memberi saya banyak cerita dan pengalaman.
Pengalaman yang sudah dari dulu pingin saya rasakan, naik gunung! Pemandangan
di atas puncak yang indah telah memberi kesejukan di hati saya, betapa indah
bumi dilihat dari ketinggian. Merasakan apa yang dirasakan orang ketika naik
gunung yang membuat mereka kembali dan kembali lagi menaiki puncak yang lain,
ketagihan. Keinginan saya untuk mengetahui batas diri saya, berusaha menge-push
diri saya sampe limit pun akhirnya terpenuhi dengan kesimpulan : saya masih
bisa lebih baik dari ini.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar