Minggu, 03 Juni 2012

My First Summit : Merbabu (bagian 6 - habis)


Makan sudah, mandi sudah, ganti baju sudah, dan beres beres pun sudah. Kami bersiap-siap untuk pulang, travel ke Jakarta pesenan kami sudah menunggu di gerbang Wekas. Setelah bernegosiasi sebentar, kami menumpangi mobil pick-up kecil berwarna putih menuju gerbang Wekas. Disini benar-benar terasa kekeluargaan nya, melewati jalan kampung yang berlobang dan naik turun dipayungi bintang-bintang dan diselingi dengan banyolan si isser. Benar-benar letih kami tidak terasa saat itu.

Travel pesanan kami sudah menunggu di gerbang Wekas, sebuah minibus bermerk elf mungkin, berwarna biru muda berkapasitas 12 orang dengan supir, di dalam nya terasa lapang. Travel ini harus menuju pool nya terlebih dahulu, kesempatan itu kami manfaatkan dengan mengisi perut dengan jajanan hangat di angkringan kota Magelang. Yah setidaknya kami cicipi dululah kota Magelang ini sebelum pulang ke tempat tinggal masing-masing. Dan seperti biasanya, saya kalau makan di angkringan suka tidak terkontrol ngambil makanannya!hahaha. Sekitar setengah jam nangkring di angkringan, kami kemudian berangkat menuju Jakarta. Disini kami berpisah dengan Isser dan Tepe yang akan menuju Semarang, namun karena sudah tidak ada bus pada saat itu, mereka kemudian memutuskan untuk mencari penginapan.

Di jalan kami berniat untuk membeli perbekalan selama perjalanan di minimarket terdekat. Ketika menemukan salah satu minimarket, namun sudah kelewatan oleh mobil kami. Sang supir kemudian memundurkan mobilnya….dan di saat saya sedang asyik ngobrol dengan Ori tiba tiba bagian belakang mobil menabrak pohon dan memecahkan kaca belakang!! saya kaget sejadi-jadi nya!! Begitu juga Ori dan Arie. Kami duduk di belakang bertiga bersama Arie. Untung saja kaca nya bukan kaca yang tajam seperti beling. Saya merasakan ada serpihan kaca yang terbang ke arah pipi saya. Untung saja ga luka.

Keadaan saat itu semakin menjadi tidak jelas. Kami duduk di minimarket sambil menunggu orang travel datang dengan mobil pengganti. Tak lama, mobil pengganti datang dan mobil pengganti tersebut adalah mobil yang mengantarkan kami dari rumah mas Gun menuju basecamp. Tentunya kami kecewa, mobil tersebut lebih kecil dibandingkan mobil yang nabrak itu dan tidak ada AC pula! tapi mau bagaimana lagi, itu namanya musibah, dan kami harus segera pulang. Di mobil ini benar benar tersiksa, saya terpaksa duduk di kursi paling depan berdua dengan Rega. Kalau diibaratkan formasi sepakbola, formasi kami adalah 4-3-2 (supir tidak dihitung). Di tengah diisi 3 orang karena emang khusus cewe.

Ternyata kemalangan saya tidak berhenti sampai disitu saja. Si supir, entah mungkin karena stress karena habis nabrak dan gajinya akan dipotong, terlihat tidak fokus menyetir. Suka menyalip sana sini yang bikin jantung deg-degan dan sering melewati jalan yang berlobang. Rega juga tampak tidak percaya dengan si sopir. Akhirnya saya dan Rega memutuskan untuk shift-shift-an tidur, pokoknya harus ada satu orang yang bangun dan mengajak si sopir ngobrol supaya ia tetap fokus menyetir! Di saat saya tidur, Rega ga tidur. Dan di saat Rega tidur, saya ga tidur. Bayangkan kami akan melakukan itu selama kurang lebih 14 jam!

Sang sopir mengambil jalan tembus untuk menghindari kemacetan, saya lupa nama jalannya. Jalan yang kami lalui ternyata tidak selamanya bagus. Ada jalan yang jelek, bergelombang, banyak lubang, dan sempit. Parahnya ada beberapa jalan yang longsor sehingga hanya menyisakan satu lajur saja! Di malam yang sepi dan gelap tersebut, jelas membuat saya merasa khawatir. Perjalanan ini bener-bener menyiksa pikiran saya.

Jalur yang kami lalui tidak sama dengan jalur ketika kami berangkat dengan bis. Di perjalanan pulang kami melewati sukoharjo, pekalongan, brebes, tegal, Cirebon, subang, purwakarta, dan cikampek. Di daerah subang, kami berhenti di sebuah rumah makan untuk beristirahat. Waktu saat itu menunjukkan pukul sekitar jam 7 pagi. Disini teman-teman mengomentari obrolan saya selama perjalanan dengan si sopir. Memang sih kalau dipikir-pikir obrolan saya rada aneh dan ga nyambung seperti : “ini jalan aneh ya pak, kok bolong-bolong nya malah ditengah” , “wah kok bisa ada hotel di jalan kaya gini pak? Emang siapa yang mau nginap disini ya?” , “ini daerah mana ya pak?” (template, pasti saya tanyain kalau sampai di daerah baru), “buset dah jalan nya cuma setengah gini pak”, “wah ada goa disini!”, dll. Ya mau gimana lagi, namanya saya juga capek dan terpaksa ga bisa tidur hehe.

Akhirnya sekitar jam 11 siang kami sampai di Jakarta!! Mobil berhenti di alfamart, dan kami berpisah untuk beristirahat dan bertemu kembali saat kerja di kantor. Sang sopir kembali melajukan mobilnya menuju Magelang. Rega mengambil mobilnya di parkiran Wanahayu. Dan Berliandi mampir dahulu ke kosan Kancrid sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke kosannya.

Perjalanan ini bagi saya walaupun sangat melelahkan, tetapi sudah memberi saya banyak cerita dan pengalaman. Pengalaman yang sudah dari dulu pingin saya rasakan, naik gunung! Pemandangan di atas puncak yang indah telah memberi kesejukan di hati saya, betapa indah bumi dilihat dari ketinggian. Merasakan apa yang dirasakan orang ketika naik gunung yang membuat mereka kembali dan kembali lagi menaiki puncak yang lain, ketagihan. Keinginan saya untuk mengetahui batas diri saya, berusaha menge-push diri saya sampe limit pun akhirnya terpenuhi dengan kesimpulan : saya masih bisa lebih baik dari ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar