Minggu, 03 Juni 2012

My First Summit : Merbabu (bagian 4)


Kondisi rombongan kami terpecah tiga saat ini. Rombongan paling depan sudah terpisah jauh dengan rombongan tengah dan apalagi dengan rombongan belakang. Rombongan depan yaitu Halik, Rega, Isser, Tepe, Ori, dan Devi. Rombongan tengah yaitu saya dan Arie. Di rombongan terakhir ada Berli, Frenchsie, dan Kancrid. Kali ini Kancrid berinisiatif untuk berjalan duluan supaya dia yang membawa kompor bisa sampai duluan di puncak dan memasak air panas untuk kami minum ketika sampai di puncak. Ide yang sangat brilian.

 Beberapa saat kemudian sampailah kami di jalan setan. Sebenarnya saya ragu yang dimaksud jalan setan itu yang mana sih hehe. Tapi saya anggap ini lah jalan setan karena tingkat kesulitan nya. Jalan tersebut sempit dengan depan dan kiri adalah jurang. Kami harus memanjat tebing di kanan kami kemudian bergeser ke jalan berikutnya. Kondisi sangat sulit disini, sangat tidak memungkinkan bagi orang awam untuk memanjat tebing sambil membawa carrier. Oleh karena itu, sebelum naik kami mengangkat carrier terlebih dahulu ke Tepe dan Rega yang sudah ada di atas.



Nafas saya semakin memburu, bahu sudah terasa sangat perih. Bahu saya terasa seperti lecet, sering sekali saya berhenti untuk memperbaiki posisi carrier. Pendakian masih berlanjut, kali ini bebatuan makin sering kami jumpai. Tak lama jalan berubah menjadi tanah dengan dua lajur yang terpisah oleh median gundukan tanah. Kemudian tampak di atas tebing muncul Kancrid, dia berteriak “siapa yang bawa gas sama spirtus??”. Ternyata Kancrid yang sudah diatas tidak bisa memasak karena tidak ada bahan bakarnya. Spirtus, kompor gas, dan salah satu tabung gas ada di carrier saya.

Kancrid berteriak menyemangati kami, dia sudah di puncak! Mendengar itu semangat saya langsung membara! Saya langsung mempercepat langkah, setengah berlari bahkan, menyusuri jalan tanah yang cukup menanjak sekitar 25 meter lah. Saya pingin cepat sampai di puncak! Saya kerahkan kaki saya melangkah bagaikan pelari marathon di 100 meter terakhir. Akhirnya saya berhasil sampai puncak dengan sisa tenaga saya. Saya langsung jatuh ke tanah, melepas carrier saya, mengambil posisi terlentang, dan nafas saya benar-benar sangat terengah-engah. Saya berbaring untuk mengatur nafas menunggu lelah saya hilang sekalian menunggu rombongan belakang tiba di puncak.

Berada di ketinggian +3000-an meter benar-benar terasa puas. Ini lah puncak pertama saya. Puncak gunung Merbabu di Magelang. Wish list 2011 saya akhirnya tercapai di 2012. Begitu besar harapan saya untuk mencoba naik gunung semenjak melihat foto-foto pendakian Gunung Gede milik teman-teman. Someday, I must stand on the summit, look down the lower side of mountain, enjoy being above the sky above the clouds. And I have been there now :D.


Dataran di puncak Ketheng Songo cukup luas, setidaknya ada 4-5 rombongan disana dan masih menyisakan ruang yang cukup. Sebenarnya masih ada puncak berikut nya setelah puncak ini, tapi kami memutuskan tidak kesana karena jaraknya dekat dan tinggi nya tidak beda jauh. Kompor-kompor segera kami gelar, dengan sigapnya air dimasak, dan semua makanan dikeluarkan dari sarangnya.

Saat itu cukup banyak kabut di puncak. Kabut terlihat wara wiri di depan saya. Tampak pula betapa gagahnya Gunung Merapi yang walau tampak gersang masih mampu mempesona yang seakan hilang timbul di balik awan. Gunung Merapi adalah gunung terdekat dari Merbabu, sangat dekat hingga topografi puncak nya cukup terlihat oleh mata telanjang. Terbayang di benak saya, inilah gunung maut dengan jenis letusan menghasilkan wedhus gembel yang sangat terkenal akan reputasi nya dalam merampas nyawa banyak orang.



Tampak pula trio gunung S : Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dan Gunung Slamet. Benar terlihat sangat serasi karena mereka membentuk satu garis lurus dengan awan awan berseliweran di leher puncak mereka. Terlihat pula jalur pendakian Selo yang berupa padang rumput, sangat indah hingga terpikir oleh saya kenapa ga naik lewat Selo aja yah hehe. Di padang rumput itu ada beberapa kelompok tenda, pasti keren rasanya berkemah di sana hehe.

Agenda pertama ketika di puncak adalah foto-foto. Ini adalah momen yang wajib wajib wajib untuk diabadikan, kapan lagi kan bisa ada di puncak??hehe. Semua sudut pemandangan hampir sudah dicoba,berbagai macam gaya sudah dilakukan (kalau gaya saya sih gitu gitu aja haha), bahkan hingga BB style pun sudah haha. Begitu dapat satu spot bagus, maka semua orang akan berfoto di situ, seakan-akan sudah jadi template.

Berikut foto-foto kami di puncak Merbabu :










 


Hal yang pasti saya lakukan ketika berada di suatu tempat yang indah, tempat yang tidak biasa saya lihat, adalah merenung (melamun). Saya menghabiskan waktu untuk berbaring, berdiam diri tidak melakukan gerakan apapun. Pandangan saya menerawang dari ujung kanan ke ujung kiri, ujung atas ke ujung bawah, awan, gunung, tebing, padang rumput, hingga sayup-sayup jalan raya. Betapa saya kagum akan itu semua. Flashback momen-momen penting dalam hidup saya pun muncul. Ada orang yang bilang kalau orang sehabis naik gunung biasanya pemikirannya akan menjadi lebih filosofis. Dan saya rasa itu terjadi pula di saya.

Perut benar benar sudah berteriak minta diisi. Kami memasak indomie dengan sosis dan baso, air panas untuk milo dan teh, hingga nutri jell. Target kami adalah semua bahan makanan harus dihabiskan tak bersisa supaya tidak membebani saat turun. Telur kami masak semua. Mie yang tersisa dicampur telur sehingga menjadi martabak telur. Lumayan bisa jadi bekal saat turun gunung.

Sekitar jam 10 kami bersiap untuk turun. Tak lupa kami berfoto bersama dengan latar gunung merapi memakai kamera berlensa fish eye. Foto nya sangat keren!



(bagian 4 – habis)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar