Kondisi rombongan kami terpecah
tiga saat ini. Rombongan paling depan sudah terpisah jauh dengan rombongan
tengah dan apalagi dengan rombongan belakang. Rombongan depan yaitu Halik,
Rega, Isser, Tepe, Ori, dan Devi. Rombongan tengah yaitu saya dan Arie. Di
rombongan terakhir ada Berli, Frenchsie, dan Kancrid. Kali ini Kancrid
berinisiatif untuk berjalan duluan supaya dia yang membawa kompor bisa sampai
duluan di puncak dan memasak air panas untuk kami minum ketika sampai di
puncak. Ide yang sangat brilian.
Nafas saya semakin memburu, bahu
sudah terasa sangat perih. Bahu saya terasa seperti lecet, sering sekali saya
berhenti untuk memperbaiki posisi carrier. Pendakian masih berlanjut, kali ini
bebatuan makin sering kami jumpai. Tak lama jalan berubah menjadi tanah dengan
dua lajur yang terpisah oleh median gundukan tanah. Kemudian tampak di atas
tebing muncul Kancrid, dia berteriak “siapa yang bawa gas sama spirtus??”.
Ternyata Kancrid yang sudah diatas tidak bisa memasak karena tidak ada bahan
bakarnya. Spirtus, kompor gas, dan salah satu tabung gas ada di carrier saya.
Kancrid berteriak menyemangati
kami, dia sudah di puncak! Mendengar itu semangat saya langsung membara! Saya
langsung mempercepat langkah, setengah berlari bahkan, menyusuri jalan tanah
yang cukup menanjak sekitar 25 meter lah. Saya pingin cepat sampai di puncak! Saya
kerahkan kaki saya melangkah bagaikan pelari marathon di 100 meter terakhir. Akhirnya
saya berhasil sampai puncak dengan sisa tenaga saya. Saya langsung jatuh ke tanah,
melepas carrier saya, mengambil posisi terlentang, dan nafas saya benar-benar
sangat terengah-engah. Saya berbaring untuk mengatur nafas menunggu lelah saya
hilang sekalian menunggu rombongan belakang tiba di puncak.
Berada di ketinggian +3000-an
meter benar-benar terasa puas. Ini lah puncak pertama saya. Puncak gunung
Merbabu di Magelang. Wish list 2011 saya akhirnya tercapai di 2012. Begitu
besar harapan saya untuk mencoba naik gunung semenjak melihat foto-foto
pendakian Gunung Gede milik teman-teman. Someday, I must stand on the summit,
look down the lower side of mountain, enjoy being above the sky above the
clouds. And I have been there now :D.
Dataran di puncak Ketheng Songo
cukup luas, setidaknya ada 4-5 rombongan disana dan masih menyisakan ruang yang
cukup. Sebenarnya masih ada puncak berikut nya setelah puncak ini, tapi kami
memutuskan tidak kesana karena jaraknya dekat dan tinggi nya tidak beda jauh.
Kompor-kompor segera kami gelar, dengan sigapnya air dimasak, dan semua makanan
dikeluarkan dari sarangnya.
Saat itu cukup banyak kabut di
puncak. Kabut terlihat wara wiri di depan saya. Tampak pula betapa gagahnya
Gunung Merapi yang walau tampak gersang masih mampu mempesona yang seakan
hilang timbul di balik awan. Gunung Merapi adalah gunung terdekat dari Merbabu,
sangat dekat hingga topografi puncak nya cukup terlihat oleh mata telanjang.
Terbayang di benak saya, inilah gunung maut dengan jenis letusan menghasilkan
wedhus gembel yang sangat terkenal akan reputasi nya dalam merampas nyawa
banyak orang.
Tampak pula trio gunung S :
Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dan Gunung Slamet. Benar terlihat sangat serasi
karena mereka membentuk satu garis lurus dengan awan awan berseliweran di leher
puncak mereka. Terlihat pula jalur pendakian Selo yang berupa padang rumput,
sangat indah hingga terpikir oleh saya kenapa ga naik lewat Selo aja yah hehe.
Di padang rumput itu ada beberapa kelompok tenda, pasti keren rasanya berkemah
di sana hehe.
Agenda pertama ketika di puncak
adalah foto-foto. Ini adalah momen yang wajib wajib wajib untuk diabadikan,
kapan lagi kan bisa ada di puncak??hehe. Semua sudut pemandangan hampir sudah
dicoba,berbagai macam gaya sudah dilakukan (kalau gaya saya sih gitu gitu aja
haha), bahkan hingga BB style pun sudah haha. Begitu dapat satu spot bagus, maka
semua orang akan berfoto di situ, seakan-akan sudah jadi template.
Berikut foto-foto kami di puncak
Merbabu :
Hal yang pasti saya lakukan
ketika berada di suatu tempat yang indah, tempat yang tidak biasa saya lihat,
adalah merenung (melamun). Saya menghabiskan waktu untuk berbaring, berdiam
diri tidak melakukan gerakan apapun. Pandangan saya menerawang dari ujung kanan
ke ujung kiri, ujung atas ke ujung bawah, awan, gunung, tebing, padang rumput,
hingga sayup-sayup jalan raya. Betapa saya kagum akan itu semua. Flashback
momen-momen penting dalam hidup saya pun muncul. Ada orang yang bilang kalau
orang sehabis naik gunung biasanya pemikirannya akan menjadi lebih filosofis.
Dan saya rasa itu terjadi pula di saya.
Perut benar benar sudah berteriak
minta diisi. Kami memasak indomie dengan sosis dan baso, air panas untuk milo
dan teh, hingga nutri jell. Target kami adalah semua bahan makanan harus
dihabiskan tak bersisa supaya tidak membebani saat turun. Telur kami masak
semua. Mie yang tersisa dicampur telur sehingga menjadi martabak telur. Lumayan
bisa jadi bekal saat turun gunung.
Sekitar jam 10 kami bersiap untuk
turun. Tak lupa kami berfoto bersama dengan latar gunung merapi memakai kamera
berlensa fish eye. Foto nya sangat keren!
(bagian 4 – habis)

.jpg)



.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar