Minggu, 03 Juni 2012

pendakian gunung rakutak (bagian 1)

Kali in saya mau bercerita tentang pengalaman naik gunung Rakutak. Ceritanya kebetulan panjang banget (kebetulan loh, beneran!), jadi akan saya bagi entah jadi berapa bagian. Mungkin lebih dari 5 bagian haha. Semoga pada sabar nge-bacanya.

.........................................................
Setelah sempat bingung memutuskan untuk kemana menghabiskan long weekend 17-20 Mei 2012, akhirnya saya memutuskan untuk naik gunung Rakutak. Gunung Rakutak terletak di selatan Bandung, di daerah sebuah desa di Ciparay, dekat Majalaya, bernama Sukareme. Sekitar 3 jam dari Bandung dengan menggunakan kendaraan pribadi. Kalau naik angkot, hmm yang pasti lebih lama lah ya karena kita harus tiga kali naik angkot, kalau tidak salah : dari Kebon Kalapa ke arah Tegalega, nyambung ke arah Ciparay, dan nyambung lagi ke arah Sukareme, Pacet.





Gunung ini tergolong gunung kecil, tingginya tidak sampai 2000 m (1921 mdpl), dan termasuk kurang popular untuk dinaiki. Ide untuk naik gunung ini datang dari Afan, yang lucunya dia justru tidak ikut naik saat itu. Sedangkan saya kebetulan diajak oleh Isser. Kebetulan gunung ini dekat dengan rumah nya Aci. Dan kebetulan nya lagi, tetangga nya Aci adalah seorang polisi gunung, yang artinya kita bisa mencari informasi lebih jauh mengenai bagaimana cara mendaki gunung ini :D.

Rombongan terdiri dari 7 orang HMS, yaitu : Isser, Nono, Amri, Dito, Putra, Koke, dan saya (ya iyalah). Kami mendaki dengan membawa bendera Kuya Gunung hehe. Kami berkumpul terlebih dahulu di sekre HMS pada Jumat siang. Setelah mengatur perlengkapan masing-masing, sekitar jam 2 siang kami berangkat dengan menggunakan mobil nya Dito menuju rumah Aci terlebih dahulu.



Berdasarkan Nokia OVI Maps nya Dito, kami menuju rumah Aci melalui Dayeuh Kolot. Katanya ini adalah rute dengan jarak terpendek. Sekedar informasi, ovi map ini super canggih karena sanggup mencari rute perjalanan berdasarkan jarak terpendek, waktu tempuh tercepat, dan bahkan kalau kita mengemudikan mobil terlalu kencang maka alat ini akan mengingatkan kita dengan mengeluarkan suara “perhatikan batas kecepatan anda”.

Tak disangka ternyata jalan di daerah Dayeuh Kolot macet banget. Dayeuh Kolot merupakan daerah pabrik dan kami berada di sana saat jam pergantian shift karyawan pabrik yang akibatnya banyak angkot-angkot yang mengetem menunggu penumpang sehingga menghalangi arus lalu lintas di belakangnya. Setelah cukup lama merayap disini akhirnya kami berhasil keluar dari kemacetan dan melaju dengan mulus di jalan raya pacet.

Perjalanan dari jalan Pacet menuju Sukareme cukup indah. Jalannya mendaki dan berkelok dihiasi dengan pemandangan gunung-gunung, kebun bawang, dan hamparan persawahan. Kami bahkan berdebat mencoba menduga-duga yang mana gunung Rakutak tanpa ada kesimpulan haha. Saat itu baru saja turun hujan, sehingga udaranya sungguh sangat sejuk. Wah rumah si Aci benar-benar nyaman sekali nih pikir saya dalam hati. Saya memang suka daerah yang sejuk, asri, dan banyak pohonnya.




Setelah kurang lebih 3 jam lebih sedikit yaitu pada pukul 5an sore, kami tiba di rumah Aci. Disana bapak nya dan polisi hutan tetangga nya sudah menyambut kami.  Dari perbincangan kami dengan polisi hutan, Rakutak bisa ditempuh dengan waktu satu jam dari rumah Aci dengan medan nya berupa tanjakan 45 derajat. Kontan saja kami terkejut dalam hati, sedikit kekecewaan tergurat di hati kami medengar lama pendakian yang hanya satu jam. Apalagi ketika beliau bilang satu jam tersebut dengan kondisi santai walaupun tanpa beban. Sedangkan di pikiran kami, barang yang kami persiapkan ini terlampau banyak untuk kondisi gunung yang digambarkan beliau.

Di sekitar Rakutak terdapat sebuah danau yang sayangnya terlalu jauh untuk kami kunjungi. Terdapat pula sebuah gunung yang merupakan hulu dari sungai Citarum (saya lupa namanya). Terbersit di benak kami untuk mendaiki gunung itu saja daripada Rakutak. Tapi akhirnya kami memutuskan untuk tetap mendaki Rakutak.

Senangnya, kami disuguhi jamuan makan malam disini. Ikan goreng hasil pancingan dari kolam, tumis kentang bulat pedas, tempe goreng, lotek, dan semacam buah markisa! Sungguh sangat nikmat sekali! Saya sendiri menghabiskan 6 ekor ikan goreng hehe sambil tak henti henti nya mencomot kentang bulat pedas. Berkali-kali saya dan Isser memuji enaknya ikan goreng yang sama sekali tidak bau tanah. Kami semua makan dengan sangat lahap. Jarang-jarang kan mau naik gunung malah makan enak, biasanya kan makan seadanya hehe.


Sambil makan, kami ngobrol banyak dengan Bapak. Tentang Rakutak dan juga tentang daerah ini tentunya. Dulu Rakutak adalah tempat persembunyian Kartosuwiryo, seorang pemimpin gerakan separatis NII. Pada saat itu, para penduduk desa berusaha untuk menutup gunung hingga Kartosuwiryo kehabisan persediaan makanan sampai akhirnya Kartosuwiryo turun gunung untuk menyerah. Kartasuwiryo kemudian dihukum mati oleh pemerintah.

Bapak kemudian menawarkan kami untuk diantar oleh seorang teman polisi hutan untuk mempermudah pendakian. Jalur pendakian yang kami lewati akan melalui daerah perkampungan sehingga kemungkinan untuk tersesat sangat besar. Kami akan diantar sampai daerah hutan yang setelah itu kami cukup mengikuti jalur saja. Kami pun setuju.

Tidak mau berlama-lama, kami ingin segera naik Rakutak. Seusai makan, kami mempersiapkan kembali barang-barang kami. Kata bapak, Rakutak tidak punya sumber air. Tapi kami yang sebelumnya mendengar jarak tempuh yang cuma satu jam malah menyimpan beberapa botol air di mobil. Kami sedikit meremehkan gunung ini. Sekitar jam 7 malam kami menuju tempat awal pendakian. Bapak dan polisi hutan memimpin jalan dengan menggunakan sepeda motor.

Kami kemudian tiba di tempat awal pendakian, sebuah desa. Tak lama kemudian ternyata kami diminta untuk datang ke rumah Pak RW terlebih dahulu. Saya sendiri bingung, kenapa harus mampir dulu, biasanya kan naik naik aja. Di rumah pak RW telah ada banyak orang yang katanya kebetulan saja lagi ngumpul. Setelah bapak menjelaskan keperluan kami disana, yaitu untuk naik gunung.

Pak RW dan para penduduk desa bercerita tentang sesuatu yang membuat kami kaget. Ceritanya, ada tiga buronan yang terlacak kabur ke daerah ini dan sekarang belum ada kabar yang jelas tentang mereka. Dari intel diketahui bahwa sinyal ponsel di buronan ini terlacak berada di sekitar desa tersebut. Pak RW menghimbau kami untuk berhati-hati semalam pendakian walaupun menurut mereka buronan tersebut tidak akan lama berada di daerah tersebut karena kemungkinan besar mereka akan langsung menuju Garut.

Setelah mengisi data tamu, kami lalu bergegas pergi. Waktu menunjukkan jam setengah 9 malam. Pak RW ikut menemani kami mendaki Rakutak. Awalnya saya pikir paling yang menemani kami hanya satu atau dua orang. Alangkah terkejutnya saya ketika mendapati bahwa ada 6 orang dan 3 ekor anjing yang menemani kami!! lebay banget! Awalnya saya pikir orang yang bawa anjing itu mau pergi berburu babi, suatu hal yang lazim dilakukan di desa. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga warga desa. Pasti mereka mengajak teman-temannya yang lain.

(bagian 1 habis - bersambung...)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar