.........................................................
Setelah sempat bingung memutuskan
untuk kemana menghabiskan long weekend 17-20 Mei 2012, akhirnya saya memutuskan
untuk naik gunung Rakutak. Gunung Rakutak terletak di selatan Bandung, di
daerah sebuah desa di Ciparay, dekat Majalaya, bernama Sukareme. Sekitar 3 jam
dari Bandung dengan menggunakan kendaraan pribadi. Kalau naik angkot, hmm yang
pasti lebih lama lah ya karena kita harus tiga kali naik angkot, kalau tidak
salah : dari Kebon Kalapa ke arah Tegalega, nyambung ke arah Ciparay, dan
nyambung lagi ke arah Sukareme, Pacet.
Gunung ini tergolong gunung
kecil, tingginya tidak sampai 2000 m (1921 mdpl), dan termasuk kurang popular
untuk dinaiki. Ide untuk naik gunung ini datang dari Afan, yang lucunya dia
justru tidak ikut naik saat itu. Sedangkan saya kebetulan diajak oleh Isser. Kebetulan
gunung ini dekat dengan rumah nya Aci. Dan kebetulan nya lagi, tetangga nya Aci
adalah seorang polisi gunung, yang artinya kita bisa mencari informasi lebih
jauh mengenai bagaimana cara mendaki gunung ini :D.
Rombongan terdiri dari 7 orang
HMS, yaitu : Isser, Nono, Amri, Dito, Putra, Koke, dan saya (ya iyalah). Kami mendaki
dengan membawa bendera Kuya Gunung hehe. Kami berkumpul terlebih dahulu di
sekre HMS pada Jumat siang. Setelah mengatur perlengkapan masing-masing,
sekitar jam 2 siang kami berangkat dengan menggunakan mobil nya Dito menuju
rumah Aci terlebih dahulu.
Berdasarkan Nokia OVI Maps nya
Dito, kami menuju rumah Aci melalui Dayeuh Kolot. Katanya ini adalah rute
dengan jarak terpendek. Sekedar informasi, ovi map ini super canggih karena
sanggup mencari rute perjalanan berdasarkan jarak terpendek, waktu tempuh
tercepat, dan bahkan kalau kita mengemudikan mobil terlalu kencang maka alat
ini akan mengingatkan kita dengan mengeluarkan suara “perhatikan batas
kecepatan anda”.
Tak disangka ternyata jalan di
daerah Dayeuh Kolot macet banget. Dayeuh Kolot merupakan daerah pabrik dan kami
berada di sana saat jam pergantian shift karyawan pabrik yang akibatnya banyak
angkot-angkot yang mengetem menunggu penumpang sehingga menghalangi arus lalu
lintas di belakangnya. Setelah cukup lama merayap disini akhirnya kami berhasil
keluar dari kemacetan dan melaju dengan mulus di jalan raya pacet.
Perjalanan dari jalan Pacet
menuju Sukareme cukup indah. Jalannya mendaki dan berkelok dihiasi dengan
pemandangan gunung-gunung, kebun bawang, dan hamparan persawahan. Kami bahkan
berdebat mencoba menduga-duga yang mana gunung Rakutak tanpa ada kesimpulan
haha. Saat itu baru saja turun hujan, sehingga udaranya sungguh sangat sejuk.
Wah rumah si Aci benar-benar nyaman sekali nih pikir saya dalam hati. Saya
memang suka daerah yang sejuk, asri, dan banyak pohonnya.
Setelah kurang lebih 3 jam lebih
sedikit yaitu pada pukul 5an sore, kami tiba di rumah Aci. Disana bapak nya dan
polisi hutan tetangga nya sudah menyambut kami. Dari perbincangan kami dengan polisi hutan,
Rakutak bisa ditempuh dengan waktu satu jam dari rumah Aci dengan medan nya
berupa tanjakan 45 derajat. Kontan saja kami terkejut dalam hati, sedikit
kekecewaan tergurat di hati kami medengar lama pendakian yang hanya satu jam.
Apalagi ketika beliau bilang satu jam tersebut dengan kondisi santai walaupun
tanpa beban. Sedangkan di pikiran kami, barang yang kami persiapkan ini
terlampau banyak untuk kondisi gunung yang digambarkan beliau.
Di sekitar Rakutak terdapat
sebuah danau yang sayangnya terlalu jauh untuk kami kunjungi. Terdapat pula
sebuah gunung yang merupakan hulu dari sungai Citarum (saya lupa namanya).
Terbersit di benak kami untuk mendaiki gunung itu saja daripada Rakutak. Tapi
akhirnya kami memutuskan untuk tetap mendaki Rakutak.
Senangnya, kami disuguhi jamuan
makan malam disini. Ikan goreng hasil pancingan dari kolam, tumis kentang bulat
pedas, tempe goreng, lotek, dan semacam buah markisa! Sungguh sangat nikmat
sekali! Saya sendiri menghabiskan 6 ekor ikan goreng hehe sambil tak henti
henti nya mencomot kentang bulat pedas. Berkali-kali saya dan Isser memuji
enaknya ikan goreng yang sama sekali tidak bau tanah. Kami semua makan dengan
sangat lahap. Jarang-jarang kan mau naik gunung malah makan enak, biasanya kan
makan seadanya hehe.
Sambil makan, kami ngobrol banyak
dengan Bapak. Tentang Rakutak dan juga tentang daerah ini tentunya. Dulu
Rakutak adalah tempat persembunyian Kartosuwiryo, seorang pemimpin gerakan
separatis NII. Pada saat itu, para penduduk desa berusaha untuk menutup gunung
hingga Kartosuwiryo kehabisan persediaan makanan sampai akhirnya Kartosuwiryo
turun gunung untuk menyerah. Kartasuwiryo kemudian dihukum mati oleh pemerintah.
Bapak kemudian menawarkan kami
untuk diantar oleh seorang teman polisi hutan untuk mempermudah pendakian.
Jalur pendakian yang kami lewati akan melalui daerah perkampungan sehingga
kemungkinan untuk tersesat sangat besar. Kami akan diantar sampai daerah hutan
yang setelah itu kami cukup mengikuti jalur saja. Kami pun setuju.
Tidak mau berlama-lama, kami
ingin segera naik Rakutak. Seusai makan, kami mempersiapkan kembali
barang-barang kami. Kata bapak, Rakutak tidak punya sumber air. Tapi kami yang sebelumnya
mendengar jarak tempuh yang cuma satu jam malah menyimpan beberapa botol air di
mobil. Kami sedikit meremehkan gunung ini. Sekitar jam 7 malam kami menuju
tempat awal pendakian. Bapak dan polisi hutan memimpin jalan dengan menggunakan
sepeda motor.
Kami kemudian tiba di tempat awal
pendakian, sebuah desa. Tak lama kemudian ternyata kami diminta untuk datang ke
rumah Pak RW terlebih dahulu. Saya sendiri bingung, kenapa harus mampir dulu,
biasanya kan naik naik aja. Di rumah pak RW telah ada banyak orang yang katanya
kebetulan saja lagi ngumpul. Setelah bapak menjelaskan keperluan kami disana,
yaitu untuk naik gunung.
Pak RW dan para penduduk desa
bercerita tentang sesuatu yang membuat kami kaget. Ceritanya, ada tiga buronan
yang terlacak kabur ke daerah ini dan sekarang belum ada kabar yang jelas
tentang mereka. Dari intel diketahui bahwa sinyal ponsel di buronan ini
terlacak berada di sekitar desa tersebut. Pak RW menghimbau kami untuk
berhati-hati semalam pendakian walaupun menurut mereka buronan tersebut tidak
akan lama berada di daerah tersebut karena kemungkinan besar mereka akan
langsung menuju Garut.
Setelah mengisi data tamu, kami
lalu bergegas pergi. Waktu menunjukkan jam setengah 9 malam. Pak RW ikut
menemani kami mendaki Rakutak. Awalnya saya pikir paling yang menemani kami
hanya satu atau dua orang. Alangkah terkejutnya saya ketika mendapati bahwa ada
6 orang dan 3 ekor anjing yang menemani kami!! lebay banget! Awalnya saya pikir
orang yang bawa anjing itu mau pergi berburu babi, suatu hal yang lazim
dilakukan di desa. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga warga desa. Pasti
mereka mengajak teman-temannya yang lain.
(bagian 1 habis - bersambung...)

.jpg)

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar