Minggu, 03 Juni 2012

My First Summit : Merbabu (bagian 5)


Kecepatan saya saat turun tidak secepat saat mendaki. Menurut perhitungan saya, kecepatan saya turun sekitar sepertiga nya kecepatan naik hehe. Saya terlalu berhati hati saat turun. Selain karena turun dengan cepat akan sangat membebani lutut, saya juga khawatir terjatuh karena beban yang saya bawa ternyata sama saja beratnya dengan ketika naik. Beberapa kali saya harus turun dengan menggunakan pantat, duduk dulu di tanah sambil berpindah. Saya kalah cepat dibandingkan Ori dan Devi hingga akhirnya berada di rombongan tengah.



Beberapa jam kemudian kami tiba di pos 2 tempat kami berkemah sebelumnya. Di tempat itu kami tidur-tiduran sambil menunggu barisan paling belakang tiba. Perut terasa lapar sekali, tapi biskuat saya sudah habis. Sedangkan bekal saya yang tersisa hanya biskuit gandum yang sangat berbahaya untuk dimakan saat saya sedang berupaya menahan boker. Barisan belakang akhir tiba setelah sangat lama kami menunggu. Saya sih merasa wajar aja, mengingat medan yang dilalui sangat berat bagi Frenchsie yang baru pertama naik gunung.

Setelah mengisi perut, mengatur perbekalan, dan Halik selesai menunaikan bokernya, kami melanjutkan perjalanan turun. Udara mulai terasa dingin, angin pun sudah bertiup membonceng kabut. Rasanya saya udah pingin cepat turun saja. Udara dingin dan angin kencang sangat tidak bersahabat ketika saya udah kebelet boker.



Saat turun saya berniat untuk berada di garis depan, tapi karena kecepatan saya yang lambat itu saya berada di barisan belakang bersama Frenchsie, Tepe, Kancrid, Berliandi, dan Arie. Sebenarnya saya ingin segera menyusul barisan terdepan, tetapi saya diminta ga jauh jauh dari barisan belakang karena cuma saya yang bawa air minum. Akibatnya, penyiksaan kembali berlanjut.

Perjalanan turun banyak diisi dengan berhenti untuk beristirahat. Ketika beristirahat di spot yang memiliki mata air, si Arie kebelet boker. Jadi kami menunggu si Arie boker dulu. Sedangkan saya memutuskan untuk menahan boker hingga sampai di basecamp. Arie mengambil tempat di sisi kiri atas jalur pendakian. Lucu nya, ada beberapa orang di atas tebing yang berteriak memanggil teman-temannya yang lokasinya berada di bawah tempat peristirahatan kami. Kontan si Arie panik, karena dia berada di ketinggian antara kami dan rombongan tersebut. Untungnya si Arie cerdas juga, dia memakai ponco untuk menutupi pose bokernya! Hahaha.

Perjalanan selanjutnya menyisakan saya, Tepe, Frenchsie, Berliandi, dan Kancrid di barisan paling belakang. Arie udah melesat jauh meninggalkan kami. Sialnya hujan kembali turun. Jalan turun menjadi sangat licin dan saya berhasil beberapa kali terpeleset jatuh dan belasan kali ngepot. Jalanan yang berupa tanah pun berubah menjadi genangan lumpur. Ditambah air minum yang habis, benar-benar sangat menguji durabilitas fisik dan mental.

Perjalanan dilanjutkan namun tidak terasa jarak diantara rombongan kami semakin renggang. Saya dan Tepe semakin jauh meninggalkan yang lain. Lalu kami tiba di turunan bersemak disertai pohon (pinus mungkin), ada 3 jalur disitu.Kancrid dan Berliandi mengambil jalan paling kiri, sedangkan saya, Tepe, dan Frenchsie mengambil jalan paling kanan. Beberapa menit berlalu, dan saya merasakan bahwa jalan yang saya lalui bukan jalan yang saya naikin. Beberapa pemandangan terasa asing, ada semacam ladang bunga hutan di sisi kanan dan semacam semak belukar hutan hujan tropis di sebelah kiri.

Setelah sahut menyahut dengan rombongan kancrid dan berliandi, kami akhirnya bertemu. Jalur yang terpisah tersebut menyatu kembali. Di daerah lapang penuh dengan pohon-pohon langsing tinggi berdaun jarum (pinus kali ya). Di tempat itu kami beristirahat sambil makan yang manis-manis. Saya menghabiskan sebuah silinder gula merah, normal nya saya ga suka makan gula gitu aja karena terlalu manis di lidah, tapi waktu itu terasa enak. Mungkin bener, apapun yang kita makan di atas gunung pasti akan terasa enak. Tak lama kemudian hujan turun, cukup deras sehingga memaksa kami untuk kembali  mengenakan ponco.

Turunan disertai hujan sepertinya benar-benar mimpi buruk. Jalan menjadi becek dan tentunya licin. Perjalanan turun yang perlu berhati-hati menjadi sangat harus berhati-hati. Berkali-kali kami disalip sama orang lain yang turun setengah berlari (padahal kan becek tuh). Saya udah merasa sangat lelah disini, punggung semakin nyeri, dan air sudah habis. Perjalanan kami lalui dengan sangat lambat.

Setelah cukup lama berjalan, akhirnya kami tiba di jalan paving block. Senang rasanya kami sudah dekat ke basecamp, tapi seketika berubah haha. Jalan paving ini sangat licin! Kemiringannya yang hampir 45 derajat  ((engineering judgement) (sotoy)) menjadikan kita tidak bisa berjalan seperti biasa. Belum lagi bentuk geometri jalan nya yang berbelok-belok. Sungguh sangat sulit berjalan disini. Boleh dikatakan inilah medan turun tersulit! Jarak nya sebenarnya dekat, tetapi menjadi lama untuk ditempuh ya karena kita jalannya sangat pelan macam siput.

Tepe berjalan duluan, mungkin dia juga jenuh, ingin segera cepat sampai di basecamp dan beristirahat. Saya menyusul di belakangnya, disusul Frenchsie, Berliandi, dan Kancrid. Lucunya ada kejadian Frenchsie terjatuh terjungkal. Jatuh terpeleset di jalan semen namun jatuhnya di jalan tanah dekat selokan haha. Seketika kami bertanya “kenapa Fren?” dan Frenchsie menjawab “ga kok, lagi pingin duduk aja”. Kami tertawa sekelegak hahaha.

Saya dan Tepe sampai di persimpangan dengan jalan kampung. Tepe langsung meneruskan dengan kecepatan lebih tinggi dari saya hingga akhirnya dia sudah tidak terlihat lagi. Saya memasuki area kampung dimana bau kotoran kambing dan ayam menyeruak ke hidung saya. Udah capek, haus, lapar, kebelet boker, hujan, eh bau kotoran pula! pikir saya dalam hati. Dan saya terkaget mendengar lenguhan kambing yang seakan-akan mengira saya adalah maling ternak yang kelaparan, MBEEE MBEEEE! Ampun dah! Ini kambing apa anjing penjaga sih??? Saya bukan maling woi!!

Sungguh sangat bahagia rasanya ketika saya melihat mesjid tempat saya solat jumat di hari sebelumnya. Yes! Akhirnya saya sampai di basecamp. Kemudian tampak Rega dan Arie yang mengantri mandi. Mereka tertawa melihat kondisi saya saat itu, muka saya terlihat ROTO katanya. Hahaha. Emang sih saya bener-bener capek banget.

Setelah menaruh barang bawaan, saya bergegas untuk segera makan. Makanan yang telah disiapkan oleh ibu penjaga basecamp itu langsung saya sikat dengan ganasnya bersama Tepe. Menunya sama dengan menu sebelumnya, nasi telor dan tumis tempe. Setelah perut kenyang, saya bersiap untuk mandi dan boker. Pada saat itu, Frenchsie, Berliandi, dan Kancrid telah tiba juga di basecamp.

Setelah mengantri di kamar mandi basecamp cukup lama, akhirnya tiba juga giliran saya. Namun sayangnya, ternyata itu kamar mandi tersebut isinya hanya bak mandi saja! Tidak ada kloset! Akh batinku mengumpat! Kemudian saya langsung bergegas ke kamar mandi mesjid dan mendapati bahwa kondisi disana tidak kalah tragisnya. Langit sudah gelap, dan kamar mandi mesjid itu tidak ada lampunya! Tak mau kalah, lantainya juga banjir semata kaki dong! Saya terpaksa boker di dalam gelap gulita. Setelah beres boker, saya langsung menuju kamar mandi basecamp untuk mandi. Ternyata di dalam bak mandi ada ikan-ikan kecil. Ah bodo amat, yang penting bisa mandi. Maaf ya ikan-ikan kecil, air kehidupan lu tercemari dengan limbah sisa sabun saya.

(bagian 5 – habis)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar