Kecepatan saya saat turun tidak
secepat saat mendaki. Menurut perhitungan saya, kecepatan saya turun sekitar
sepertiga nya kecepatan naik hehe. Saya terlalu berhati hati saat turun. Selain
karena turun dengan cepat akan sangat membebani lutut, saya juga khawatir
terjatuh karena beban yang saya bawa ternyata sama saja beratnya dengan ketika
naik. Beberapa kali saya harus turun dengan menggunakan pantat, duduk dulu di
tanah sambil berpindah. Saya kalah cepat dibandingkan Ori dan Devi hingga
akhirnya berada di rombongan tengah.
Beberapa jam kemudian kami tiba
di pos 2 tempat kami berkemah sebelumnya. Di tempat itu kami tidur-tiduran
sambil menunggu barisan paling belakang tiba. Perut terasa lapar sekali, tapi
biskuat saya sudah habis. Sedangkan bekal saya yang tersisa hanya biskuit
gandum yang sangat berbahaya untuk dimakan saat saya sedang berupaya menahan
boker. Barisan belakang akhir tiba setelah sangat lama kami menunggu. Saya sih
merasa wajar aja, mengingat medan yang dilalui sangat berat bagi Frenchsie yang
baru pertama naik gunung.
Setelah mengisi perut, mengatur
perbekalan, dan Halik selesai menunaikan bokernya, kami melanjutkan perjalanan
turun. Udara mulai terasa dingin, angin pun sudah bertiup membonceng kabut.
Rasanya saya udah pingin cepat turun saja. Udara dingin dan angin kencang
sangat tidak bersahabat ketika saya udah kebelet boker.
Saat turun saya berniat untuk
berada di garis depan, tapi karena kecepatan saya yang lambat itu saya berada
di barisan belakang bersama Frenchsie, Tepe, Kancrid, Berliandi, dan Arie.
Sebenarnya saya ingin segera menyusul barisan terdepan, tetapi saya diminta ga
jauh jauh dari barisan belakang karena cuma saya yang bawa air minum.
Akibatnya, penyiksaan kembali berlanjut.
Perjalanan turun banyak diisi
dengan berhenti untuk beristirahat. Ketika beristirahat di spot yang memiliki
mata air, si Arie kebelet boker. Jadi kami menunggu si Arie boker dulu. Sedangkan
saya memutuskan untuk menahan boker hingga sampai di basecamp. Arie mengambil
tempat di sisi kiri atas jalur pendakian. Lucu nya, ada beberapa orang di atas
tebing yang berteriak memanggil teman-temannya yang lokasinya berada di bawah
tempat peristirahatan kami. Kontan si Arie panik, karena dia berada di
ketinggian antara kami dan rombongan tersebut. Untungnya si Arie cerdas juga,
dia memakai ponco untuk menutupi pose bokernya! Hahaha.
Perjalanan selanjutnya menyisakan
saya, Tepe, Frenchsie, Berliandi, dan Kancrid di barisan paling belakang. Arie
udah melesat jauh meninggalkan kami. Sialnya hujan kembali turun. Jalan turun
menjadi sangat licin dan saya berhasil beberapa kali terpeleset jatuh dan
belasan kali ngepot. Jalanan yang berupa tanah pun berubah menjadi genangan
lumpur. Ditambah air minum yang habis, benar-benar sangat menguji durabilitas
fisik dan mental.
Perjalanan dilanjutkan namun
tidak terasa jarak diantara rombongan kami semakin renggang. Saya dan Tepe
semakin jauh meninggalkan yang lain. Lalu kami tiba di turunan bersemak
disertai pohon (pinus mungkin), ada 3 jalur disitu.Kancrid dan Berliandi
mengambil jalan paling kiri, sedangkan saya, Tepe, dan Frenchsie mengambil
jalan paling kanan. Beberapa menit berlalu, dan saya merasakan bahwa jalan yang
saya lalui bukan jalan yang saya naikin. Beberapa pemandangan terasa asing, ada
semacam ladang bunga hutan di sisi kanan dan semacam semak belukar hutan hujan
tropis di sebelah kiri.
Setelah sahut menyahut dengan
rombongan kancrid dan berliandi, kami akhirnya bertemu. Jalur yang terpisah
tersebut menyatu kembali. Di daerah lapang penuh dengan pohon-pohon langsing
tinggi berdaun jarum (pinus kali ya). Di tempat itu kami beristirahat sambil
makan yang manis-manis. Saya menghabiskan sebuah silinder gula merah, normal
nya saya ga suka makan gula gitu aja karena terlalu manis di lidah, tapi waktu
itu terasa enak. Mungkin bener, apapun yang kita makan di atas gunung pasti
akan terasa enak. Tak lama kemudian hujan turun, cukup deras sehingga memaksa
kami untuk kembali mengenakan ponco.
Turunan disertai hujan sepertinya
benar-benar mimpi buruk. Jalan menjadi becek dan tentunya licin. Perjalanan
turun yang perlu berhati-hati menjadi sangat harus berhati-hati. Berkali-kali
kami disalip sama orang lain yang turun setengah berlari (padahal kan becek
tuh). Saya udah merasa sangat lelah disini, punggung semakin nyeri, dan air
sudah habis. Perjalanan kami lalui dengan sangat lambat.
Setelah cukup lama berjalan,
akhirnya kami tiba di jalan paving block. Senang rasanya kami sudah dekat ke
basecamp, tapi seketika berubah haha. Jalan paving ini sangat licin!
Kemiringannya yang hampir 45 derajat ((engineering judgement) (sotoy)) menjadikan kita tidak bisa berjalan
seperti biasa. Belum lagi bentuk geometri jalan nya yang berbelok-belok. Sungguh
sangat sulit berjalan disini. Boleh dikatakan inilah medan turun tersulit!
Jarak nya sebenarnya dekat, tetapi menjadi lama untuk ditempuh ya karena kita
jalannya sangat pelan macam siput.
Tepe berjalan duluan, mungkin dia
juga jenuh, ingin segera cepat sampai di basecamp dan beristirahat. Saya
menyusul di belakangnya, disusul Frenchsie, Berliandi, dan Kancrid. Lucunya ada
kejadian Frenchsie terjatuh terjungkal. Jatuh terpeleset di jalan semen namun
jatuhnya di jalan tanah dekat selokan haha. Seketika kami bertanya “kenapa
Fren?” dan Frenchsie menjawab “ga kok, lagi pingin duduk aja”. Kami tertawa
sekelegak hahaha.
Saya dan Tepe sampai di
persimpangan dengan jalan kampung. Tepe langsung meneruskan dengan kecepatan
lebih tinggi dari saya hingga akhirnya dia sudah tidak terlihat lagi. Saya
memasuki area kampung dimana bau kotoran kambing dan ayam menyeruak ke hidung saya.
Udah capek, haus, lapar, kebelet boker, hujan, eh bau kotoran pula! pikir saya
dalam hati. Dan saya terkaget mendengar lenguhan kambing yang seakan-akan
mengira saya adalah maling ternak yang kelaparan, MBEEE MBEEEE! Ampun dah! Ini
kambing apa anjing penjaga sih??? Saya bukan maling woi!!
Sungguh sangat bahagia rasanya
ketika saya melihat mesjid tempat saya solat jumat di hari sebelumnya. Yes!
Akhirnya saya sampai di basecamp. Kemudian tampak Rega dan Arie yang mengantri
mandi. Mereka tertawa melihat kondisi saya saat itu, muka saya terlihat ROTO
katanya. Hahaha. Emang sih saya bener-bener capek banget.
Setelah menaruh barang bawaan, saya
bergegas untuk segera makan. Makanan yang telah disiapkan oleh ibu penjaga
basecamp itu langsung saya sikat dengan ganasnya bersama Tepe. Menunya sama
dengan menu sebelumnya, nasi telor dan tumis tempe. Setelah perut kenyang, saya
bersiap untuk mandi dan boker. Pada saat itu, Frenchsie, Berliandi, dan Kancrid
telah tiba juga di basecamp.
Setelah mengantri di kamar mandi
basecamp cukup lama, akhirnya tiba juga giliran saya. Namun sayangnya, ternyata
itu kamar mandi tersebut isinya hanya bak mandi saja! Tidak ada kloset! Akh
batinku mengumpat! Kemudian saya langsung bergegas ke kamar mandi mesjid dan
mendapati bahwa kondisi disana tidak kalah tragisnya. Langit sudah gelap, dan
kamar mandi mesjid itu tidak ada lampunya! Tak mau kalah, lantainya juga banjir
semata kaki dong! Saya terpaksa boker di dalam gelap gulita. Setelah beres
boker, saya langsung menuju kamar mandi basecamp untuk mandi. Ternyata di dalam
bak mandi ada ikan-ikan kecil. Ah bodo amat, yang penting bisa mandi. Maaf ya
ikan-ikan kecil, air kehidupan lu tercemari dengan limbah sisa sabun saya.
(bagian 5 – habis)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar