Hal pertama yang harus dilakukan
ketika tiba di Dieng adalah mencari penginapan, khususnya bagi anda yang
berniat bermalam. Ada banyak sekali pilihan penginapan disini, mulai dari yang
ala backpacker sampai yang ala hotel. Penginapan yang cukup terkenal adalah
Hotel Bu Jono, berada di di pertigaan jalan masuk Dieng. Hotel ini punya
reputasi baik, bule-bule yang datang ke Dieng pun kebanyakan akan menginap
disana. Namun hotel ini sering penuh. Sedikit tips, pastikan penginapan yang
anda pilih memiliki fasilitas air panas karena air di Dieng akan sangat sangat
dingin sekali. Apalagi saat musim kemarau yang
merupakan fase cuaca terdingin di Dieng, bahkan anda dapat melihat bunga
es di permukaan tanah saat pagi hari. Jangan lupa untuk membawa uang yang cukup
karena di Dieng tidak ada ATM.
Setelah cukup lama berkeliling
mencari penginapan akhirnya kami memutuskan menginap di Puspa Indah Homestay,
sebuah penginapan yang berada di tepi jalan utama, cukup nyaman, sangat bersih,
dan memiliki fasilitas beragam seperti : garasi mobil, free hotspot, kamar mandi dalam, air
panas, tv, kasur empuk, ruang tamu, dapur, dan juga punya warung yang menjual
oleh-oleh. Harganya pun terjangkau, kami memilih yang paling murah, 200rb semalam
untuk bertiga. Homestay ini terletak di jalan Raya Dieng Batur Km1 Dieng
Banjarnegara.
Informasi lengkap mengenai penginapan ini dapat dilihat di http://puspaindahdieng.com/PRO.html
.
Saya cukup terkejut ketika
memasuki penginapan ini. Lantai keramiknya terasa sangat dingin menusuk telapak
kaki saya! Saya sampai harus berjalan jinjit untuk menghindari rasa dinginnya
dan akhirnya saya terpaksa harus memasang kaos kaki selama berada di penginapan
haha. Airnya terasa luar biasa dingin hampir serasa air es. Tunggu saja saat
malam atau subuh anda selesai buang air kecil, rasakan lah dingin ultimate dari
air Dieng!*evil laugh* . Dan pada malam
hari saya melihat bapak penjaga sedang menghangatkan kaki nya di semacam tungku
arang, cukup membuat saya terkesan.
Setelah memperoleh penginapan,
hal selanjutnya yang harus dipersiapkan adalah membuat rencana tempat-tempat
yang ingin dikunjungi. Dieng benar-benar sangat luas, dan punya banyak sekali
objek yang bisa dikunjungi. Dari penginapan saya memperoleh sebuah peta dan
informasi mengenai objek wisata yang dapat dikunjungi. Secara wilayah, Dieng
dibagi menjadi dua yaitu Dieng 1 dan Dieng 2. Untuk lebih detailnya lihat
gambar berikut.
Dieng 1 adalah area yang
berkembang terlebih dahulu, mempunyai akses yang baik, dan objek wisatanya
merupakan unggulan utama di Dieng. Lokasi nya cukup berdekatan, sebenarnya bisa
dikunjungi dengan berjalan kaki, tapi akan sangat melelahkan. Objek wisata yang
dapat dikunjungi di sini antara lain :
- Kompleks Candi Hindu
- Candi Dwarawati
- Candi Bima
- Museum Kaliasa
- Kawah Sikidang
- Telaga Warna
- Telaga Pengilon
- Telaga Cebong
- Dieng Plateau Theater
- Goa Semar
- Sunrise View di puncak bukit Sikunir (yang ini jauh euy)
Sedangkan Dieng 2 adalah area yang berkembang setelah Dieng
1, akses nya belum cukup baik (jalannya jelek) dan jaraknya jauh. Objek wisata
yang dapat dikunjungi disini antara lain :
- Telaga Merdada
- Kawah Sileri
- Legetang Monument
- Goa Jimat
- Kawah Candradimuka
- Telaga Nila
- Jolotundo Wellspring
Saat itu telah lewat tengah hari.
Setelah berdiskusi, kami membuat urutan perjalanan kami di hari pertama sebagai
berikut : mengunjungi kompleks candi hindu,
Museum Kaliasa, Candi Bima, Candi Dwarawati, Kawah Sikidang, survei jalan ke Sunrise
View (karena informasi nya kami dapat belum jelas), dan berputar-putar
berkeliling Dieng 1 & 2 dengan mobil. Setiap objek mengharuskan kita
membeli karcis masuk, tapi harga nya cukup murah kok. Anda juga bisa membeli
tiket terusan untuk semua objek wisata dengan harga yang lebih murah
dibandingkan beli satu persatu. Anda dapat membeli di jalan menuju Telaga Warna
(di pertigaan Dieng pertama belok kiri).
Sebelum pergi berwisata, kami
makan siang terlebih dahulu. Ada banyak warung yang menjual makanan di sekitar
penginapan dengan harga bervariasi antara 9rb hingga 13rb. Disini akan banyak
yang menjual makanan khas Dieng dan sekitar nya yaitu Mie Ongklok. Tapi saran
saya sebaiknya anda makan Mie Ongklok di Wonosobo saja, karena rasanya lebih
enak (kata Galang). Makan yang hangat-hangat adalah pilihan terbaik, tubuh akan
terasa hangat. Saya memesan sop ayam jamur. Selain kentang, jamur adalah
komoditas lain yang menjadi andalan di Dieng.
Objek pertama yang kami kunjungi
adalah Kompleks Candi Hindu, karena lokasinya persis di depan penginapan kami.
Tempat ini bersebelahan dengan museum Kaliasa. Dengan beberapa pertimbangan,
kami memutuskan untuk mengunjungi museum Kaliasa terlebih dahulu haha.
Museum Kaliasa
Museum ini cukup besar dan memiliki dua gedung. Gedung
pertama berisi artefak-artefak Hindu kuno. Ada banyak sekali artefak
peninggalan Hindu disini seperti arca (Ganesha, Mahakala, Nandi, Dewi, Dewa, Nandisavahanamurti,
Siwa, dll) , bagian candi, dan juga ada Lingga Yoni yang melambangkan kesuburan
(perwujudan dari organ genital pria dan wanita). Berikut beberapa foto yang kami abadikan di
gedung pertama:
Gedung kedua berisi informasi
mengenai sejarah, batuan, flora & fauna, candi, dan kebudayaan Dieng. Juga ada
semacam film dokumenter yang bisa ditonton, tapi sayang saat itu sedang rusak
jadi kami tidak bisa melihatnya. Wawasan anda tentang Dieng akan semakin bertambah disini. Berikut
foto-fotonya :
Salah
satu yang menarik di Dieng adalah tentang legenda anak berambut gimbal. Menurut
kepercayaan setempat, anak yang berambut gimbal ini adalah keturunan Dewa. Rambut
tersebut tidak dapat hilang begitu saja. Cara supaya rambut anak tersebut tidak
gimbal lagi adalah dengan mengadakan suatu upacara pemotongan rambut. Pada upacara
itu semua keinginan anak tersebut harus dipenuhi, apapun itu. Terpikir oleh
saya : bagaimana jika keinginan itu tidak bisa dipenuhi oleh orang tua nya? Ternyata
mereka punya cara tersendiri untuk menyiasatinya, contohnya jika si anak minta
daging sapi satu truk maka mereka akan memberinya satu kilo daging yang diletakkan
di bak truk.
Di lantai dua museum ini terdapat sebuah taman bunga dengan
beberapa gazebo, sangat cocok untuk bersantai. Bunga-bunganya pun indah dengan
beraneka macam warna. Dari taman ini kita bisa melihat kompleks candi yang berada di
seberang gedung museum.
Setelah puas melihat isi di dalam museum ini, kami pun
melanjutkan kunjungan ke kompleks candi.
(bagian 2 habis – bersambung)

















Tidak ada komentar:
Posting Komentar