Sabtu, 09 Juni 2012

Dieng - Tanah Sang Dewa (bagian 2)


Hal pertama yang harus dilakukan ketika tiba di Dieng adalah mencari penginapan, khususnya bagi anda yang berniat bermalam. Ada banyak sekali pilihan penginapan disini, mulai dari yang ala backpacker sampai yang ala hotel. Penginapan yang cukup terkenal adalah Hotel Bu Jono, berada di di pertigaan jalan masuk Dieng. Hotel ini punya reputasi baik, bule-bule yang datang ke Dieng pun kebanyakan akan menginap disana. Namun hotel ini sering penuh. Sedikit tips, pastikan penginapan yang anda pilih memiliki fasilitas air panas karena air di Dieng akan sangat sangat dingin sekali. Apalagi saat musim kemarau yang  merupakan fase cuaca terdingin di Dieng, bahkan anda dapat melihat bunga es di permukaan tanah saat pagi hari. Jangan lupa untuk membawa uang yang cukup karena di Dieng tidak ada ATM.

Setelah cukup lama berkeliling mencari penginapan akhirnya kami memutuskan menginap di Puspa Indah Homestay, sebuah penginapan yang berada di tepi jalan utama, cukup nyaman, sangat bersih, dan memiliki fasilitas beragam seperti : garasi  mobil, free hotspot, kamar mandi dalam, air panas, tv, kasur empuk, ruang tamu, dapur, dan juga punya warung yang menjual oleh-oleh. Harganya pun terjangkau, kami memilih yang paling murah, 200rb semalam untuk bertiga. Homestay ini terletak di jalan Raya Dieng Batur Km1 Dieng Banjarnegara. 

Informasi lengkap mengenai penginapan ini dapat dilihat di http://puspaindahdieng.com/PRO.html .


Saya cukup terkejut ketika memasuki penginapan ini. Lantai keramiknya terasa sangat dingin menusuk telapak kaki saya! Saya sampai harus berjalan jinjit untuk menghindari rasa dinginnya dan akhirnya saya terpaksa harus memasang kaos kaki selama berada di penginapan haha. Airnya terasa luar biasa dingin hampir serasa air es. Tunggu saja saat malam atau subuh anda selesai buang air kecil, rasakan lah dingin ultimate dari air Dieng!*evil laugh* . Dan pada malam hari saya melihat bapak penjaga sedang menghangatkan kaki nya di semacam tungku arang, cukup membuat saya terkesan.

Setelah memperoleh penginapan, hal selanjutnya yang harus dipersiapkan adalah membuat rencana tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Dieng benar-benar sangat luas, dan punya banyak sekali objek yang bisa dikunjungi. Dari penginapan saya memperoleh sebuah peta dan informasi mengenai objek wisata yang dapat dikunjungi. Secara wilayah, Dieng dibagi menjadi dua yaitu Dieng 1 dan Dieng 2. Untuk lebih detailnya lihat gambar berikut.



Dieng 1 adalah area yang berkembang terlebih dahulu, mempunyai akses yang baik, dan objek wisatanya merupakan unggulan utama di Dieng. Lokasi nya cukup berdekatan, sebenarnya bisa dikunjungi dengan berjalan kaki, tapi akan sangat melelahkan. Objek wisata yang dapat dikunjungi di sini antara lain :
  1. Kompleks Candi Hindu
  2. Candi Dwarawati
  3. Candi Bima
  4. Museum Kaliasa
  5. Kawah Sikidang
  6. Telaga Warna
  7. Telaga Pengilon
  8. Telaga Cebong
  9. Dieng Plateau Theater
  10. Goa Semar
  11. Sunrise View di puncak bukit Sikunir (yang ini jauh euy)


Sedangkan Dieng 2 adalah area yang berkembang setelah Dieng 1, akses nya belum cukup baik (jalannya jelek) dan jaraknya jauh. Objek wisata yang dapat dikunjungi disini antara lain :
  1. Telaga Merdada
  2. Kawah Sileri
  3. Legetang Monument
  4. Goa Jimat
  5. Kawah Candradimuka
  6. Telaga Nila
  7. Jolotundo Wellspring


Saat itu telah lewat tengah hari. Setelah berdiskusi, kami membuat urutan perjalanan kami di hari pertama sebagai berikut : mengunjungi kompleks candi hindu,  Museum Kaliasa, Candi Bima, Candi Dwarawati, Kawah Sikidang, survei jalan ke Sunrise View (karena informasi nya kami dapat belum jelas), dan berputar-putar berkeliling Dieng 1 & 2 dengan mobil. Setiap objek mengharuskan kita membeli karcis masuk, tapi harga nya cukup murah kok. Anda juga bisa membeli tiket terusan untuk semua objek wisata dengan harga yang lebih murah dibandingkan beli satu persatu. Anda dapat membeli di jalan menuju Telaga Warna (di pertigaan Dieng pertama belok kiri).

Sebelum pergi berwisata, kami makan siang terlebih dahulu. Ada banyak warung yang menjual makanan di sekitar penginapan dengan harga bervariasi antara 9rb hingga 13rb. Disini akan banyak yang menjual makanan khas Dieng dan sekitar nya yaitu Mie Ongklok. Tapi saran saya sebaiknya anda makan Mie Ongklok di Wonosobo saja, karena rasanya lebih enak (kata Galang). Makan yang hangat-hangat adalah pilihan terbaik, tubuh akan terasa hangat. Saya memesan sop ayam jamur. Selain kentang, jamur adalah komoditas lain yang menjadi andalan di Dieng.

Objek pertama yang kami kunjungi adalah Kompleks Candi Hindu, karena lokasinya persis di depan penginapan kami. Tempat ini bersebelahan dengan museum Kaliasa. Dengan beberapa pertimbangan, kami memutuskan untuk mengunjungi museum Kaliasa terlebih dahulu haha.

Museum Kaliasa


Museum ini cukup besar dan memiliki dua gedung. Gedung pertama berisi artefak-artefak Hindu kuno. Ada banyak sekali artefak peninggalan Hindu disini seperti arca (Ganesha, Mahakala, Nandi, Dewi, Dewa, Nandisavahanamurti, Siwa, dll) , bagian candi, dan juga ada Lingga Yoni yang melambangkan kesuburan (perwujudan dari organ genital pria dan wanita).  Berikut beberapa foto yang kami abadikan di gedung pertama:








Gedung kedua berisi informasi mengenai sejarah, batuan, flora & fauna, candi, dan kebudayaan Dieng. Juga ada semacam film dokumenter yang bisa ditonton, tapi sayang saat itu sedang rusak jadi kami tidak bisa melihatnya. Wawasan anda tentang Dieng akan semakin bertambah disini. Berikut foto-fotonya :













Salah satu yang menarik di Dieng adalah tentang legenda anak berambut gimbal. Menurut kepercayaan setempat, anak yang berambut gimbal ini adalah keturunan Dewa. Rambut tersebut tidak dapat hilang begitu saja. Cara supaya rambut anak tersebut tidak gimbal lagi adalah dengan mengadakan suatu upacara pemotongan rambut. Pada upacara itu semua keinginan anak tersebut harus dipenuhi, apapun itu. Terpikir oleh saya : bagaimana jika keinginan itu tidak bisa dipenuhi oleh orang tua nya? Ternyata mereka punya cara tersendiri untuk menyiasatinya, contohnya jika si anak minta daging sapi satu truk maka mereka akan memberinya satu kilo daging yang diletakkan di bak truk.


  
Di lantai dua museum ini terdapat sebuah taman bunga dengan beberapa gazebo, sangat cocok untuk bersantai. Bunga-bunganya pun indah dengan beraneka macam warna. Dari taman ini kita bisa melihat kompleks candi yang berada di seberang gedung museum.



Setelah puas melihat isi di dalam museum ini, kami pun melanjutkan kunjungan ke kompleks candi.

(bagian 2 habis – bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar