Minggu, 03 Juni 2012

My First Summit - Merbabu (bagian 3)


Kemudian kami segera beres beres. Ga disangka kami perlu 2 jam untuk selesai beres-beres!!! Tenda barang ga cuma ngeselin pas dipasang, tetapi juga ngeselin pas dibongkar! Apalagi harus bekerja di kegelapan membuat semua pekerjaan menjadi lebih lambat. Sulit sekali mencari pasak pasak besi yang berceceran di tanah, mencari kantong plastik buat diisi sampah, menyusun barang bawaan ke dalam carrier, dll. Dan yang terjadi adalah : yg penting semua barang bisa masuk tas! Kali ini saya harus membawa kompor gas mini yang ternyata cukup melelahkan saya di penghujung pendakian.

Jam 4 pagi semua barang-barang kami telah dibereskan dan mulai melanjutkan pendakian kembali. Dengan penuh semangat saya berada di paling depan bersama Isser. Ceritanya buat membuka jalan : kami melewati semak belukar, melangkahi batang pohon yang tumbang, merunduk di tanaman perdu, terjerembab di rumput tebal, semua itu hanya untuk membuat kami sadar bahwa kami telah salah jalan! Hahaha, kami salah jalan! Pantesan saya heran ini kok jalur nya gak kaya jalan biasa ya, isinya rumput semua. Sampai-sampai batere senter saya yang jatuh bisa hilang ditelan rerumputan basah.

Akhirnya kami memutuskan untuk kembali lagi sambil mencari rombongan lain (nasib ga ada yang tau jalan dan ga nyewa porter). Kemudian kami mengekor ke rombongan lain sampai kami yakin kami telah berada di jalan yang benar. Jalan setapak tanah kecil yang kiri kanannya tanah dengan elevasi yang lebih tinggi dan ada jalur pipa air kecil yang sedikit tertutup tanah. Jalur pendakian terasa lebih curam dan lebih sulit dibandingkan sebelumnya. Ada beberapa tanjakan yang memerlukan ancang-ancang buat melangkah naik.

Saya yang awalnya berada di paling depan, kali ini berada di baris belakang. Dan disinilah penyiksaan dimulai : berjalan paling belakang bermakna bahwa kita mendaki dengan mengikuti ritme orang di depan kita. Hal ini akan sangat melelahkan jika orang di depan kita adalah orang yang tidak sekuat kita. Yang terasa adalah setiap kita melangkah dan akan melanjutkan langkah berikutnya, lalu orang di depan kita berhenti sejenak, maka itu akan terasa seperti push up setengah hitungan! 1, 2, 2 setengah, tahan, 3, dst. Hikmah dari pendakian di baris belakang ini adalah kita bisa merasakan hebat nya orang yang berada paling belakang di sepanjang pendakian, yaitu Kancrid. Yak Kancrid adalah dewa pendakian. Imba! GG! Super Ultra Dahsyat Hebat!

Langit masih gelap diterangi remang remang cahaya senter. Cuaca sangat dingin hingga masih sanggup menusuk tubuh yang dibalut kaos, sweater, jahim, sarung tangan, dan kupluk. Angin berhembus kencang menambah kemampuan cuaca dingin menusuk tubuh. Medan pendakian semakin berat, tanjakan tanah, tanjakan batu curam berkelok, hingga adanya penyempitan jalur. Badan lelah tapi keringat seakan tidak keluar. Bahu mulai terasa perih (apalagi dengan carrier tanpa rangka). Disinilah tantangan pendakian sebenarnya. The real adventure.

Satu setengah jam kemudian kami sampai di persimpangan dua puncak. Arah ke kiri menuju Puncak apa gitu saya lupa hehe yang ada menara BTS nya. Arah ke kanan menuju puncak Ketheng Songo. Pemandangan disini sungguh indah, seakan kami berada di dua puncak dengan sisi belakang berupa jalur pendakian dan sisi depan kami adalah jurang. Di sebelah depan nya jurang itu kita bisa melihat jalan raya yang bercahaya, lampu penerangan di sepanjang jalan membuat nya tampak mempesona seakan tidak mau kalah dengan pemandangan gedung pencakar langit malam hari di Marina Bay Singapura :D.

Tampak di dasar jurang terdapat semacam padang pasir dengan tumpukan batu yang disusun menjadi sebuah kalimat. Daerah ini sebenarnya seperti semacam kawah. Bau belerang sangat menyengat disini, hembusan angin membawa bau sulfur ini menerobos masuk ke hidung kami. Tanah dan batuan di sekitar kami pun berwarna putih, ciri khas daerah yang mengandung belerang. Sungguh sensasi yang unik. Kami cukup lama berada disini untuk menikmati suasana dan pemandangan yang sungguh menaklukan hati.

Dari seorang mahasiswa sebuah universitas di Jakarta angkatan 09 yang kami temui di persimpangan tersebut, kami memperoleh informasi karakteristik jalan berikutnya : dikelilingi jurang, berbatu, lebih menanjak, dan kami akan melewati jembatan setan! Jembatan setan adalah daerah pendakian yang mengharuskan kita seakan akan melakukan rock climbing ke arah horizontal dengan jurang dalam di sisi kiri dan belakang kami! Wow! Semangat saya semakin membara, tidak sabar segera mencapai puncak, puncak pertama seumur hidup saya!


Jalan pertama mendatar dengan kiri kanan adalah jurang dalam. Jalan yang mendatar kami sebut “bonus” karena membuat kami berjalan santai tanpa beban. Kemudian jalan menjadi batuan menanjak yang lalu menurun lagi, menanjak lagi, lalu turun lagi. Namun pemandangannya sungguh mengagumkan, bagi saya terasa sangat menenangkan hati. Tak terasa langit sudah mulai agak terang, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 6 pagi. Sayang sekali kami tidak bisa melihat sunrise dari puncak.


Kelelahan semakin terasa di tubuh saya. Efek dari melangkah bagaikan push up setengah hitungan benar benar sangat membebani saya. Nafas sudah mulai ngos ngosan, sering minum air dan makan cemilan. Terkadang langkah saya terhenti untuk menarik nafas menghimpun tenaga. Sesekali kami berpapasan dengan orang yang turun. Beberapa menit kemudian dengan penuh perjuangan saya sampai di tanah datar yang kemungkinan besar adalah sebuah pos helipad. Angin benar-benar sangat kencang disini. Dan saya langsung menghempaskan tubuh ke tanah, telungkup, nafas terengah-engah. Capek sekali bung!



Setelah beberapa menit beristirahat sambil foto-foto dan bercengkrama, kami melanjutkan pendakian. Jalur pendakian berikutnya entah kenapa terasa bahkan lebih berat. Tampaknya kelelahan sudah berakumulasi di tubuh. Kami akhirnya tiba di persimpangan ke arah kiri dan lurus naik. Jalan ke kiri tampak tidak meyakinkan berupa jalan setapak selebar kurang lebih 40 cm dengan sisi kanan tebing dan sisi kiri adalah jurang! Kami memilih naik tetapi beberapa teriakan dari orang di belakang menyadarkan bahwa kami telah salah jalan. Sekuat tenaga saya kerahkan untuk turun.

Bagi saya ini adalah jalan yang paling tersulit dan paling menyeramkan! Jalan kecil dengan sisi kanan tebing dan sisi kiri jurang yang sangat dalam terasa sangat menggoyahkan mental saya. Penyebab utama nya adalah carrier saya yang berat ke kiri. Susunan barang di dalam carrier saya ternyata tidak merata. Jurang yang sangat dalam itu membuat langkah saya menjadi ekstra hati hati. Saya selalu mencondongkan badan ke arah kanan untuk melawan carrier saya yang berat ke kiri. Saya melangkah dengan sangat lambat, malah sebenarnya saya bukan melangkah tapi bergeser. Posisi saya lurus menghadap tebing dan mengeserkan kaki pelan pelan ke arah samping kiri. Ga apa lah pelan, yang penting selamat hehe.

(bagian 3 – habis) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar