Kemudian kami segera beres beres.
Ga disangka kami perlu 2 jam untuk selesai beres-beres!!! Tenda barang ga cuma
ngeselin pas dipasang, tetapi juga ngeselin pas dibongkar! Apalagi harus
bekerja di kegelapan membuat semua pekerjaan menjadi lebih lambat. Sulit sekali
mencari pasak pasak besi yang berceceran di tanah, mencari kantong plastik buat
diisi sampah, menyusun barang bawaan ke dalam carrier, dll. Dan yang terjadi
adalah : yg penting semua barang bisa masuk tas! Kali ini saya harus membawa
kompor gas mini yang ternyata cukup melelahkan saya di penghujung pendakian.
Jam 4 pagi semua barang-barang
kami telah dibereskan dan mulai melanjutkan pendakian kembali. Dengan penuh
semangat saya berada di paling depan bersama Isser. Ceritanya buat membuka
jalan : kami melewati semak belukar, melangkahi batang pohon yang tumbang,
merunduk di tanaman perdu, terjerembab di rumput tebal, semua itu hanya untuk
membuat kami sadar bahwa kami telah salah jalan! Hahaha, kami salah jalan!
Pantesan saya heran ini kok jalur nya gak kaya jalan biasa ya, isinya rumput
semua. Sampai-sampai batere senter saya yang jatuh bisa hilang ditelan
rerumputan basah.
Akhirnya kami memutuskan untuk kembali
lagi sambil mencari rombongan lain (nasib ga ada yang tau jalan dan ga nyewa
porter). Kemudian kami mengekor ke rombongan lain sampai kami yakin kami telah
berada di jalan yang benar. Jalan setapak tanah kecil yang kiri kanannya tanah
dengan elevasi yang lebih tinggi dan ada jalur pipa air kecil yang sedikit
tertutup tanah. Jalur pendakian terasa lebih curam dan lebih sulit dibandingkan
sebelumnya. Ada beberapa tanjakan yang memerlukan ancang-ancang buat melangkah
naik.
Saya yang awalnya berada di paling
depan, kali ini berada di baris belakang. Dan disinilah penyiksaan dimulai :
berjalan paling belakang bermakna bahwa kita mendaki dengan mengikuti ritme
orang di depan kita. Hal ini akan sangat melelahkan jika orang di depan kita
adalah orang yang tidak sekuat kita. Yang terasa adalah setiap kita melangkah
dan akan melanjutkan langkah berikutnya, lalu orang di depan kita berhenti
sejenak, maka itu akan terasa seperti push up setengah hitungan! 1, 2, 2
setengah, tahan, 3, dst. Hikmah dari pendakian di baris belakang ini adalah
kita bisa merasakan hebat nya orang yang berada paling belakang di sepanjang
pendakian, yaitu Kancrid. Yak Kancrid adalah dewa pendakian. Imba! GG! Super Ultra Dahsyat Hebat!
Langit masih gelap diterangi
remang remang cahaya senter. Cuaca sangat dingin hingga masih sanggup menusuk
tubuh yang dibalut kaos, sweater, jahim, sarung tangan, dan kupluk. Angin
berhembus kencang menambah kemampuan cuaca dingin menusuk tubuh. Medan
pendakian semakin berat, tanjakan tanah, tanjakan batu curam berkelok, hingga
adanya penyempitan jalur. Badan lelah tapi keringat seakan tidak keluar. Bahu
mulai terasa perih (apalagi dengan carrier tanpa rangka). Disinilah tantangan
pendakian sebenarnya. The real adventure.
Satu setengah jam kemudian kami
sampai di persimpangan dua puncak. Arah ke kiri menuju Puncak apa gitu saya
lupa hehe yang ada menara BTS nya. Arah ke kanan menuju puncak Ketheng Songo.
Pemandangan disini sungguh indah, seakan kami berada di dua puncak dengan sisi
belakang berupa jalur pendakian dan sisi depan kami adalah jurang. Di sebelah
depan nya jurang itu kita bisa melihat jalan raya yang bercahaya, lampu
penerangan di sepanjang jalan membuat nya tampak mempesona seakan tidak mau
kalah dengan pemandangan gedung pencakar langit malam hari di Marina Bay
Singapura :D.
Tampak di dasar jurang terdapat
semacam padang pasir dengan tumpukan batu yang disusun menjadi sebuah kalimat.
Daerah ini sebenarnya seperti semacam kawah. Bau belerang sangat menyengat
disini, hembusan angin membawa bau sulfur ini menerobos masuk ke hidung kami.
Tanah dan batuan di sekitar kami pun berwarna putih, ciri khas daerah yang
mengandung belerang. Sungguh sensasi yang unik. Kami cukup lama berada disini
untuk menikmati suasana dan pemandangan yang sungguh menaklukan hati.
Dari seorang mahasiswa sebuah
universitas di Jakarta angkatan 09 yang kami temui di persimpangan tersebut,
kami memperoleh informasi karakteristik jalan berikutnya : dikelilingi jurang,
berbatu, lebih menanjak, dan kami akan melewati jembatan setan! Jembatan setan
adalah daerah pendakian yang mengharuskan kita seakan akan melakukan rock
climbing ke arah horizontal dengan jurang dalam di sisi kiri dan belakang kami!
Wow! Semangat saya semakin membara, tidak sabar segera mencapai puncak, puncak
pertama seumur hidup saya!
Jalan pertama mendatar dengan
kiri kanan adalah jurang dalam. Jalan yang mendatar kami sebut “bonus” karena
membuat kami berjalan santai tanpa beban. Kemudian jalan menjadi batuan menanjak
yang lalu menurun lagi, menanjak lagi, lalu turun lagi. Namun pemandangannya sungguh
mengagumkan, bagi saya terasa sangat menenangkan hati. Tak terasa langit sudah
mulai agak terang, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 6 pagi. Sayang sekali
kami tidak bisa melihat sunrise dari puncak.
Kelelahan semakin terasa di tubuh
saya. Efek dari melangkah bagaikan push up setengah hitungan benar benar sangat
membebani saya. Nafas sudah mulai ngos ngosan, sering minum air dan makan
cemilan. Terkadang langkah saya terhenti untuk menarik nafas menghimpun tenaga.
Sesekali kami berpapasan dengan orang yang turun. Beberapa menit kemudian
dengan penuh perjuangan saya sampai di tanah datar yang kemungkinan besar
adalah sebuah pos helipad. Angin benar-benar sangat kencang disini. Dan saya
langsung menghempaskan tubuh ke tanah, telungkup, nafas terengah-engah. Capek
sekali bung!
Setelah beberapa menit
beristirahat sambil foto-foto dan bercengkrama, kami melanjutkan pendakian.
Jalur pendakian berikutnya entah kenapa terasa bahkan lebih berat. Tampaknya
kelelahan sudah berakumulasi di tubuh. Kami akhirnya tiba di persimpangan ke
arah kiri dan lurus naik. Jalan ke kiri tampak tidak meyakinkan berupa jalan
setapak selebar kurang lebih 40 cm dengan sisi kanan tebing dan sisi kiri
adalah jurang! Kami memilih naik tetapi beberapa teriakan dari orang di
belakang menyadarkan bahwa kami telah salah jalan. Sekuat tenaga saya kerahkan
untuk turun.
Bagi saya ini adalah jalan yang
paling tersulit dan paling menyeramkan! Jalan kecil dengan sisi kanan tebing
dan sisi kiri jurang yang sangat dalam terasa sangat menggoyahkan mental saya.
Penyebab utama nya adalah carrier saya yang berat ke kiri. Susunan barang di
dalam carrier saya ternyata tidak merata. Jurang yang sangat dalam itu membuat
langkah saya menjadi ekstra hati hati. Saya selalu mencondongkan badan ke arah
kanan untuk melawan carrier saya yang berat ke kiri. Saya melangkah dengan
sangat lambat, malah sebenarnya saya bukan melangkah tapi bergeser. Posisi saya
lurus menghadap tebing dan mengeserkan kaki pelan pelan ke arah samping kiri.
Ga apa lah pelan, yang penting selamat hehe.
(bagian 3 – habis)
.jpg)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar