Busana saya di pendakian ini
standar saja. Kaos oblong ditambah celana gunung pendek, ditambah sandal gunung
+ kaos kaki, dan kupluk, dengan jahim saya selipkan di tali carrier. Yang
paling ga masuk akal adalah si Arie Pompom, naik gunung dengan kemeja dan jeans
ZARA, WOW! Disaat orang pake baju sporty eh orang ini malah dandy abis haha. Ya sudah, dia jadi bahan becandaan anak-anak.
Carrier saya berisikan
perlengkapan pribadi, tiga botol air minum 1,5L , 3 bungkus snack biskuat,
ultramilk, biskuit gandum (salah besar saya bawa ini ke gunung), spirtus, dan
beberapa titipan Frenchsie. Uniknya, carrier saya ini rangka besinya udah ga
ada dan rasa tersiksa tanpa rangka ini belum terasa di awal perjalanan. Biskuat
adalah perlengkapan saya yang paling berjasa, karena menyuplai energi saya
selama pendakian. Tiap kali lapar, saya langsung makan biskuat yang sudah saya
siapkan di saku celana dan kantong luar carrier. Sesuai tagline, semua orang
bisa jadi macan. Dan saya jadi macan gunung saat itu.
Saya berjalan paling depan,
pendakian pertama membuat saya sangat bersemangat. Selama perjalanan
kesebelasan kami hampir selalu terbagi tiga, dimana rombongan terakhir selalu
diisi oleh Frenchsie dan Kancrid. Bagi Frenchsie ini adalah pendakian pertama
nya, dan dia cukup kewalahan. Sedangkan Kancrid memang selalu paling belakang
layaknya sweeper, dan semua orang mengakui bahwa dia adalah yang paling super.
Berada di paling belakang rombongan itu sangat melelahkan karena harus
mengikuti ritme orang lain di depannya, dalam hal ini Kancrid mengikuti ritme Frenchsie.
Jalan pendakian masih cukup
landai, mulai dari jalan tanah yang agak becek, jalan setapak dikelilingi
semak, jalan berkabut, hingga hutan pinus. Pemandangan nya lumayan menarik, walau
masih kalah jauh sama pemandangan di Dieng. Hampir tidak ada masalah disini,
pendakian berjalan sangat lancar. Sayang ditengah perjalanan kabut turun
disertai angin cukup kencang dan hujan. Masing-masing orang kemudian memakai
ponco nya. Bagi saya ponco ternyata cukup enak dipakai, karena mampu menghalang
angin dingin.
Saat berjalan, tubuh terasa biasa
saja, berkeringat padahal udaranya dingin. Ketika berhenti terlalu lama, tubuh
mulai terasa dingin dan langkah berikutnya akan terasa lebih berat. Jadi kunci
sukses pendakian adalah berjalan dengan kecepatan konstan, istirahat sesekali
saja dalam tempo yang singkat dan sesekali makan coklat untuk menambah energi. Saya
dengan bahagia nya selalu berjalan paling depan.
Tak terasa kami telah sampai di
suatu tempat lapang dibalik dua puncak tinggi. Di salah satu puncak nya
terlihat sebuah menara pemancar telekomunikasi. Hanya ada sedikit pepohonan
disini, di beberapa tempat terlihat tanah tanpa rumput dengan sisa-sisa abu
bekas api untuk memasak. Di tempat ini telah banyak berdiri tenda-tenda dari
rombongan pendaki lain. Tempat ini bernama Pos 2 (kami bingung udah pos 2 saja,
pos 1 nya dimana??). Saat itu waktu menunjukkan pukul 16.30 .
Setelah berkonsultasi dengan
pendaki lain, kami memutuskan untuk berkemah di pos tersebut. Katanya jalan ke
puncak masih sekitar 4-5 jam lagi, dan puncaknya tidak bisa dipakai untuk
berkemah karena angin kencang dan tanah yang tidak rata. Kami berencana untuk
melanjutkan pendakian menuju puncak pada jam 2 subuh. Udara terasa dingin
sekali, brrrr saya langsung ganti baju, memakai celana training panjang, pakai
sweater, dan juga pakai jahim. Tak lupa pakai kupluk dan sarung tangan.
Kami mendirikan 4 tenda, 1 tenda
buat cewe dan 3 buat cowo. Salah satu tenda adalah tenda sewaan, dan tenda ini
benar benar bikin kami putus asa untuk mendirikannya. Ada ring yang hilang di
salah satu ujung nya otomatis ga bisa ditanam di tanah dong. Tulang baja tenda
banyak yang rusak, ga jelas bagaimana cara pasangnya, ujungnya yang bengkok
pula. Cover tenda nya juga ga jelas bagaimana masangnya. Setelah cukup lama
berusaha dan mengumpat akhirnya sabodo teuing lah yang penting tenda nya
berdiri dan diisi sama barang saja.
Agenda berikutnya adalah memasak,
dan Halik nyuruh saya buat masak. Kami punya tiga kompor : kompor spirtus,
kompor gas portable, dan kompor gas mini. Air panas dimasak paling dulu
berhubung teh, kopi, dan energen telah menunggu. Menu yang kami masak adalah :
nasi, mie instan, telor, baso (sumpah fail bgt rasanya), dan sosis. Lucunya saya
sempat debat dengan Ori ketika masak mie tentang apa yang seharusnya dimasukkan
duluan : telor atau mie. Dimana-mana ya telor yang dimasukin duluan karena
telor lebih lama matangnya, tapi teorinya si Ori malah mie duluan.
Setelah kenyang, acara
dilanjutkan dengan bersantai. Ada yang bernyanyi (Isser bawa ukulele dan harmonika),
ada yang foto-foto, ada yang iseng nyenterin puncak pohon (saya), ada yang
baring-baring, ada yang ngobrol dan bercanda. Ketika waktu sudah jam 8 malam,
kami mulai beres beres barang untuk segera tidur supaya bisa bangun jam 2 pagi.
Berli dan Tepe dapat giliran cuci mencuci piring.
Saya tidur paling pertama, udah
ngantuk pisan euy. Halik entah kenapa tidur di tenda sewaan yang berdiri tidak
sempurna dan isi nya cuma barang-barang. Di tenda saya isinya Arie Pompom,
Rega, dan Tepe. Tidur saya cukup nyenyak walaupun saat tengah malam sering
terbangun gara-gara ada ganjalan di punggung saya yang bikin saya tidur ga
tenang karena ga dapat posisi yang nyaman. Sekitar jam satu-an angin terasa
makin kencang dan ada orang yang berisik sedang mendirikan tendanya.
Dan jam 2 pagi alarm hp saya
berbunyi.
(bagian 2 – habis)
.jpg)

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar