Kami pun melanjutkan perjalanan untuk
melewati jembatan setan yang menanti kami. Jalan ini benar-benar sempit! Hanya
cukup untuk dua telapak kaki saja. Sisi kiri dan sisi kanan langsung jurang
menganga menanti kami dan siap memeluk kami ketika seumpama kami terjatuh.
Entah bagaimana nasib kami bila terjatuh ke sana. Pohon-pohon tinggi menjulang
dari bawah jurang, hanya terlihat puncak nya saja. Sesekali saya mengarahkan
senter saya ke jurang, cukup membuat bulu kuduk saya berdiri.
Kami berjalan dengan perlahan,
sangat penuh hati-hati. Setiap orang saling mengingatkan ketika menemui sesuatu
hambatan yang bisa membuat kami celaka. Tak disangka, kaki kiri saya
terjerembab ke jurang! Setengah kaki saya sudah masuk ke dalam jurang!
Untungnya saya saat itu tidak panik, dan segera mengangkat kaki dan kemudian
melanjutkan perjalanan. Tak lupa saya mengingatkan teman-teman yang lain
untuk lebih berhati-hati.
Akhirnya kami tiba di puncak
ketiga. Yak akhirnya kami berhasil menaklukan Rakutak!! Perjuangan berat
mendaki tanjakan 45 derajat ditambah dengan jembatan setan telah berhasil kami
lalui dengan selamat. Kami menumpahkan euforia kebahagiaan dengan menikmati
pemandangan yang indah di puncak Rakutak. Menatap indahnya dunia, indahnya bumi
di malam hari. Semoga orang yang menciptakan lampu akan masuk surga haha. Karena orang tersebut, bumi tampak sangat
anggun di malam hari :D.
Pemandangan di sini jauh lebih
indah daripada di puncak kedua. Sayang kamera kami kurang canggih untuk
menangkap keindahannya. Kerlap kerlip cahaya kehidupan tampak lebih nyata dan
banyak dari puncak ini. Terlihat sebuah pola perkotaan dari cahaya lampu
menerus lurus disertai percabangan yang menggambarkan sebuah jalan raya, yang
diikuti gemerlap cahaya bergerombol di sekitarnya. Tanda bahwa kegiatan
perekonomian mengikuti pertumbuhan jalan, istilah nya trade follow the ship
(ingat masa kuliah hehe). Jalan dibangun terlebih dahulu untuk merangsang
pertumbuhan ekonomi.
Kami kemudian membangun tenda.
Amri mengeluarkan termos air panasnya dan kami menikmati kopi hangat di puncak
gunung yang dingin. Hmm, terasa sangat nikmat sekali. Tubuh terasa hangat
dialiri kopi hangat, mengalir mulai dari mulut, kerongkongan, dada hingga
perut. Kami memutuskan untuk memasak keesokan harinya, karena kami sudah makan
malam. Kami pun langsung tidur, beristirahat untuk kemudian bangun subuh dan
menikmati keindahan Rakutak saat matahari muncul dari ufuk timur.
Alarm yang saya pasang melengking nyari di pukul
setengah lima subuh. Saya pun langsung bangun, disusul putra, dito (mereka
berdua emang ga bisa tidur), dan koke. Di tenda lain, Isser dan Nono telah
bangun, tinggal Amri yang masih lelap dalam tidur. Begitu tenda dibuka, udara
benar-benar terasa dingin! Sangat dingin untuk saya yang mengenakan celana
pendek. Langit tampak masih gelap, di sisi timur tampak garis cahaya berwarna
oranye tanda akan muncul matahari dari persembunyiannya.
Tidak mau menyia-nyiakan
kesempatan ini, kami mengambil banyak foto. Setiap orang mendapat gilirannya
masing-masing. Tidak ketinggalan pula foto beramai-ramai. Menikmati matahari
terbit tidaklah mudah, seringkali kalau tidak mujur, kabut turun dan
menghalangi penampilan hangat sang mentari. Begitu hangat rasanya ketika cahaya
matahari pagi membekas di permukaan kulit saya.
Nesting telah menyala, kami pun
memasak indomie, memasak sarden, dan menggoreng kornet. Sungguh nikmat sekali
ya sarapan yang hangat-hangat di cuaca dingin dengan pemandangan yang indah.
Ingin rasanya waktu saat itu saya hentikan dan menikmati terus keadaan tersebut
sampai saya bosan. Selesai mengisi perut, sesi foto-foto pun kami lanjutkan
kembali.
Di siang hari, pemandangan di
sekitar Rakutak tampak lebih jelas. Terlihat sebuah danau besar yang sebelumnya
telah diceritakan oleh Bapak nya Aci. Tampak pula Gunung Tangkuban Perahu yang
tampak seperti perahu besar yang terbalik. Disebelahnya terlihat pula Gunung
Burangrang. Dan gunung yang paling terlihat jelas adalah gunung Cikuray, gunung
dengan ketinggian lebih dari 2000 mdpl yang diselimuti awan. Di sebelah barat
terdapat sebuah dataran rendah dengan perbukitan seperti ombak dengan sebuah
bukit (yang menurut saya aneh) berbentuk setengah donat dengan sebuah punggung
bukit menuju barat laut. Saya berasumsi itu adalah semacam piramida/bangunan
yang tertutup tanah hehe.
Berikut ini adalah foto foto kami di puncak Rakutak.
(bagian 3 habis - bersambung)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar