Minggu, 10 Juni 2012

Dieng - Tanah Sang Dewa (bagian 3)


Kompleks Candi Hindu

Keluar dari museum Kaliasa, tepat di seberangnya terdapat sebuah pelataran dengan sebuah candi kecil bernama Candi Gatotkaca yang seakan-akan menyambut para wisatawan yang baru saja tiba. Candi ini tidak runcing di atapnya seperti umumnya candi hindu, mungkin karena sudah rusak dan tidak bisa diperbaiki, apalagi jika melihat tumpukan batu di sampingnya.  Tidak hanya candi ini saja yang ada di kompleks ini, bila kita masuk lebih ke dalam lagi kita akan menjumpai lima candi lainnya.



Terdapat pula deretan kios makanan dan oleh-oleh di sekitarnya. Anda dapat menikmati sajian kentang (rebus/goreng), jamur crispy, dan Purwaceng (semacam minuman peningkat vitalitas). Purwaceng adalah sejenis tumbuhan perdu yang banyak tumbuh liar di sekitar Dieng dan diyakini mempunyai khasiat ampuh bagi pria dan diramu menjadi berbagai macam produk. Saya pun mencoba secangkir Purwaceng yang dicampur dengan kopi. Hmm, rasanya cukup khas dan nikmat, namun daun-daun kering Purwaceng ini terasa sedikit mengganjal di tenggorokan. Kalau tentang khasiat nya sih jangan tanya yah, saya belum bisa membuktikan haha.


Oleh-oleh lain yang bisa anda temui disini yaitu syal bertuliskan dieng, kupluk, sarung tangan, dan berbagai macam edelweiss yang dijual dengan pot nya. Ada berbagai macam edelweiss yang dijual disini, mulai dari yang biasa belum mekar, yang biasa sudah mekar, yang dicat warna warni, dan yang langka (abu-abu dan putih). Setau saya edelweiss itu dilindungi, tapi saya juga kurang paham kenapa dijual dengan bebas disini. Mungkin ini edelweiss hasil budidaya kali yah J. Saya kemudian membeli tiga buah edelweiss : yang biasa belum mekar, dan dua yang langka. Harganya 10rb perbuah.



Jalan menuju kompleks utama candi tertata dengan sangat baik. Jalan setapak dengan paving block yang diiringi dengan pohon-pohon cemara dan bunga-bunga memberikan kesan yang santai, damai, dan nyaman. Suasana yang hening juga sanggup membuat kita terlarut dalam kedamaian pikiran, apalagi jika melihat asap-asap yang mengepul dari kawah-kawah yang berada di sekitar Dieng. Kondisinya yang ibarat tempat terbuka yang lapang mampu menghadirkan sensasi kebebasan.

Di pusat kompleks, terdapat lima buah candi yang cukup besar. Candi Hindu ini katanya berumur lebih dari seribu tahun (abad 7-8), dan merupakan candi hindu tertua yang ada di Indonesia. Candi utamanya adalah Candi Arjuna yang berhadapan dengan Candi Semar, dan disebelahnya berjejer Candi Srikandri, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra.  Sayangnya kondisi candi tersebut agak kurang baik, batuan penyusunnya tidak lengkap, dan banyak batuan yang sudah rusak. Saya sendiri paling suka dengan Candi Semar yang kondisinya paling baik, dan mempunyai atap limasan yang lancip.








Saya tidak habis pikir, dimasa sekitar seribu tahun lalu ada orang yang membangun banyak candi di tempat setinggi ini, melewati medan berat yang dulunya tentu bukan jalan dengan perkerasan aspal seperti saat ini. Bagaimana cara mereka membawa batu-batu penyusun candi? Bagaimana cara membangunnya? Siapa yang tinggal di daerah setinggi ini? Untuk apa saja candi ini dibangun? Apakah masih ada banyak candi lain yang belum ditemukan? Ada banyak pertanyaan yang muncul di kepala. Masa lalu memang menyisakan misteri yang sulit diterjemahkan. Pada masa kejayaannya, tempat ini pasti jauh lebih indah.

Tidak hanya kelima candi tersebut, di sekitarnya juga terdapat beberapa candi lain yang sayang kondisinya jauh lebih buruk. Terdapat pula semacam gazebo kuno dan punden berundak. Jika anda menelusuri semua jalan setapak yang ada, anda akan menjumpai ladang kentang, telaga, dan sebuah tanah lapang yang sangat hijau. Coba berjalan diatas tanah lapang tersebut, permukaan nya akan terasa unik saat diinjak seakan kita sedang menapak di atas bantal (empuk dan kenyal).










Setelah puas dan cukup lelah mengitari kompleks candi ini, kami pun beranjak ke tujuan selanjutnya. Sebuah tempat bernama Kawah Sikidang yang terkenal dengan hobinya yaitu suka meloncat dan berpindah-pindah (pasti bingung maksudnya apa). Nama sikidang diambil dari kata “Kidang” yang berarti “Kijang”. Kawah utama nya ini senang berpindah-pindah tempat ketika sudah “bosan” atau akan melompat ibarat sebuah Kijang.

Dari Kompleks Candi menuju kawah Sikidang anda akan melewati sebuah candi yang bernama Candi Bima. Candi ini merupakan candi yang terletak di paling selatan dan mempunyai kemiripan arsitektur dengan beberapa candi yang berada di India. Saya sendiri tidak sempat untuk berhenti dan mengabadikannya karena merasa sudah cukup puas melihat candi yang ada di dalam kompleks.
  
Kawah Sikidang

Pertama anda tiba di kawasan ini, anda pasti akan merasakan kondisi yang sangat kontras. Alam Dieng yang terasa segar dan penuh kehijauan sontak berubah drastis disini. Yang akan anda lihat disini adalah sebuah padang tandus berbukit berwarna tanah merah dan putih kekuningan dengan diujungnya terdapat sebuah kolam lumpur mendidih yang terus mengeluarkan uap panas yang berbau belerang. Sepanjang anda berjalan anda akan menemui buih-buih didih air di sekitar tanah yang anda pijak. Bau belerang terasa sangat kuat disini, jika anda tak sanggup dengan aromanya anda bisa membeli masker yang dijual di pintu masuk.


Pertama kali masuk, anda akan disambut dengan beberapa papan peringatan untuk hati-hati melangkah, tidak menyalakan api, dan tidak terlalu dekat dengan kawah. Suasana disini sungguh sulit dijelaskan, saya sendiri sedikit tidak percaya ada tempat seperti ini di segar dan hijau nya Dieng. Tanah berwarna putih kekuningan, buih didihan air ada dimana mana, dan uap air yang hilir mudik membatasi jarak pandang membuat suasana disini terasa sangat suram dan mencekam. Udara masih terasa dingin, tapi semakin anda mendekat ke kawah utama, udara sedikit terasa hangat.







Saat itu cukup banyak wisatawan yang datang mengunjungi, baik lokal maupun mancanegara. Saya melihat ada beberapa bule dan turis dari Korea disini. Anda juga dapat membeli belerang yang dijual oleh warga, katanya belerang bagus untuk kesehatan kulit. Tidak hanya digunakan sebagai tempat rekreasi, tempat ini juga dipakai beberapa orang untuk berkuda dan memacu sepeda motor trailnya. Saya cukup lama mengamati deruman motor trail yang berputar-putar di tanah berpasir. Saya juga sempat melihat seorang anak perempuan cilik yang berambut gimbal sedang bermain dengan teman-temannya. Sedikit tips, hati hati dengan langkah anda, jika apes anda dapat menginjak buih didihan air atau kotoran kuda.




Kawah utama berukuran sangat besar dan dikelilingi oleh pagar bambu sebagai pengaman. Didihan air (sepertinya sih lumpur) terlihat sangat jelas bergejolak di depan anda dan berbunyi blup blup blup. Pemandangan yang sangat menakjubkan! Dibawah kawah ini pasti terdapat sebuah dapur magma yang sangat panas. Entah berapa suhu nya, mungkin bisa lebih dari 100 derajat celcius, ingin rasanya saya melempar telur mentah kesana dan melihat apa yang terjadi kemudian.




  
Setelah melewati kawah, terdapat sebuah bukit yang sudah terkelupas lapisan vegetasinya. Bukit ini cukup tinggi jadi cukup membuat dengkul sedikit gempor. Tapi menaiki bukit ini sungguh “worth it” karena kita bisa melihat pemandangan yang tidak kalah indah. Anda dapat melihat Kawah Sikidang dari atas, melihat ladang kentang (lagi-lagi), dan melihat uap yang membumbung tinggi dari pembangkit listrik geothermal yang berada di sekitar Dieng.





Setelah puas menikmati Kawah Sikidang, kami pun melanjutkan misi kami berikutnya yaitu melakukan survei ke tempat melihat Sunrise di Bukit Sikunir.  Untuk mencapai tempat ini, kami bergerak ke Selatan untuk menuju desa Sembungan dengan nama jalan yang unik, jalan tersebut bernama sunrise (hmm, karena sudah sangat terkenal dengan sunrisenya mungkin). Jalan menuju desa ternyata cukup jauh, jalannya nya pun kurang baik : becek, penuh lobang, berkelok, sempit, menurun dan menanjak. . Seringkali kami berpapasan dengan truk besar dan melewati jalan yang penuh dengan timbunan pupuk kandang disisinya.

Sebelum mencapai desa Sembungan, kami terlebih dahulu melewati sebuah pembangkit listrik geothermal. Di sepanjang jalan menuju pembangkit ini, anda akan melewati Well Pad Facility dan mendapati jalur pipa berukuran besar dan kecil di sisi jalan lengkap dengan pipe support nya (sebuah struktur baja yang menahan berat dan tekanan dari pipa dan isinya).






   
Loket untuk melihat sunrise berada di paling ujung jalan. Sebenarnya ga mirip loket sih, lebih mirip gubuk yang biasa ada di tepi kolam atau sungai haha. Setelah melewati Desa Sembungan, teruskan saja hingga anda menjumpai jalan buntu dengan sebuah lapangan bola, tempat parkir paving block, dan Telaga yang sangat besar bernama Telaga Cebong. Di telaga ini anda bisa menyewa sebuah perahu untuk berkeliling danau. Perlu dicatat, udara di sini benar-benar sangat dingin sekali! Hari sudah sore dan angin berhembus sangat kencang menjadikan udara disini menjadi luar biasa dingin. Pakailah jaket yang cukup hangat ketika berada disini. Coba juga mencelupkan kaki anda kedalam telaga, rasanya seperti mencelupkan kaki di dalam air es!








Setelah mendapatkan cukup informasi, kami pun bergegas pulang. Di perjalanan pulang kami sempatkan untuk melihat-lihat daerah Dieng 2. Kami akhirnya tiba kembali di penginapan saat adzan maghrib berkumandang.

(bagian 3 habis – bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar