Kompleks Candi Hindu
Keluar dari museum Kaliasa, tepat
di seberangnya terdapat sebuah pelataran dengan sebuah candi kecil bernama
Candi Gatotkaca yang seakan-akan menyambut para wisatawan yang baru saja tiba.
Candi ini tidak runcing di atapnya seperti umumnya candi hindu, mungkin karena
sudah rusak dan tidak bisa diperbaiki, apalagi jika melihat tumpukan batu di
sampingnya. Tidak hanya candi ini saja
yang ada di kompleks ini, bila kita masuk lebih ke dalam lagi kita akan menjumpai
lima candi lainnya.
Terdapat pula deretan kios
makanan dan oleh-oleh di sekitarnya. Anda dapat menikmati sajian kentang
(rebus/goreng), jamur crispy, dan Purwaceng (semacam minuman peningkat
vitalitas). Purwaceng adalah sejenis tumbuhan perdu yang banyak tumbuh liar di
sekitar Dieng dan diyakini mempunyai khasiat ampuh bagi pria dan diramu menjadi
berbagai macam produk. Saya pun mencoba secangkir Purwaceng yang dicampur
dengan kopi. Hmm, rasanya cukup khas dan nikmat, namun daun-daun kering
Purwaceng ini terasa sedikit mengganjal di tenggorokan. Kalau tentang khasiat
nya sih jangan tanya yah, saya belum bisa membuktikan haha.
Oleh-oleh lain yang bisa anda
temui disini yaitu syal bertuliskan dieng, kupluk, sarung tangan, dan berbagai
macam edelweiss yang dijual dengan pot nya. Ada berbagai macam edelweiss yang
dijual disini, mulai dari yang biasa belum mekar, yang biasa sudah mekar, yang
dicat warna warni, dan yang langka (abu-abu dan putih). Setau saya edelweiss
itu dilindungi, tapi saya juga kurang paham kenapa dijual dengan bebas disini. Mungkin
ini edelweiss hasil budidaya kali yah J.
Saya kemudian membeli tiga buah edelweiss : yang biasa belum mekar, dan dua
yang langka. Harganya 10rb perbuah.
Jalan menuju kompleks utama candi
tertata dengan sangat baik. Jalan setapak dengan paving block yang diiringi
dengan pohon-pohon cemara dan bunga-bunga memberikan kesan yang santai, damai,
dan nyaman. Suasana yang hening juga sanggup membuat kita terlarut dalam
kedamaian pikiran, apalagi jika melihat asap-asap yang mengepul dari
kawah-kawah yang berada di sekitar Dieng. Kondisinya yang ibarat tempat terbuka
yang lapang mampu menghadirkan sensasi kebebasan.
Di pusat kompleks, terdapat lima
buah candi yang cukup besar. Candi Hindu ini katanya berumur lebih dari seribu
tahun (abad 7-8), dan merupakan candi hindu tertua yang ada di Indonesia. Candi
utamanya adalah Candi Arjuna yang berhadapan dengan Candi Semar, dan
disebelahnya berjejer Candi Srikandri, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Sayangnya kondisi candi tersebut agak kurang
baik, batuan penyusunnya tidak lengkap, dan banyak batuan yang sudah rusak. Saya
sendiri paling suka dengan Candi Semar yang kondisinya paling baik, dan
mempunyai atap limasan yang lancip.
Saya tidak habis pikir, dimasa
sekitar seribu tahun lalu ada orang yang membangun banyak candi di tempat
setinggi ini, melewati medan berat yang dulunya tentu bukan jalan dengan
perkerasan aspal seperti saat ini. Bagaimana cara mereka membawa batu-batu
penyusun candi? Bagaimana cara membangunnya? Siapa yang tinggal di daerah
setinggi ini? Untuk apa saja candi ini dibangun? Apakah masih ada banyak candi
lain yang belum ditemukan? Ada banyak pertanyaan yang muncul di kepala. Masa
lalu memang menyisakan misteri yang sulit diterjemahkan. Pada masa kejayaannya,
tempat ini pasti jauh lebih indah.
Tidak hanya kelima candi
tersebut, di sekitarnya juga terdapat beberapa candi lain yang sayang
kondisinya jauh lebih buruk. Terdapat pula semacam gazebo kuno dan punden
berundak. Jika anda menelusuri semua jalan setapak yang ada, anda akan
menjumpai ladang kentang, telaga, dan sebuah tanah lapang yang sangat hijau. Coba
berjalan diatas tanah lapang tersebut, permukaan nya akan terasa unik saat
diinjak seakan kita sedang menapak di atas bantal (empuk dan kenyal).
Setelah puas dan cukup lelah
mengitari kompleks candi ini, kami pun beranjak ke tujuan selanjutnya. Sebuah tempat
bernama Kawah Sikidang yang terkenal dengan hobinya yaitu suka meloncat dan
berpindah-pindah (pasti bingung maksudnya apa). Nama sikidang diambil dari kata
“Kidang” yang berarti “Kijang”. Kawah utama nya ini senang berpindah-pindah
tempat ketika sudah “bosan” atau akan melompat ibarat sebuah Kijang.
Dari Kompleks Candi menuju kawah
Sikidang anda akan melewati sebuah candi yang bernama Candi Bima. Candi ini
merupakan candi yang terletak di paling selatan dan mempunyai kemiripan arsitektur
dengan beberapa candi yang berada di India. Saya sendiri tidak sempat untuk
berhenti dan mengabadikannya karena merasa sudah cukup puas melihat candi yang
ada di dalam kompleks.
Kawah Sikidang
Pertama anda tiba di kawasan ini,
anda pasti akan merasakan kondisi yang sangat kontras. Alam Dieng yang terasa
segar dan penuh kehijauan sontak berubah drastis disini. Yang akan anda lihat
disini adalah sebuah padang tandus berbukit berwarna tanah merah dan putih kekuningan
dengan diujungnya terdapat sebuah kolam lumpur mendidih yang terus mengeluarkan
uap panas yang berbau belerang. Sepanjang anda berjalan anda akan menemui
buih-buih didih air di sekitar tanah yang anda pijak. Bau belerang terasa sangat
kuat disini, jika anda tak sanggup dengan aromanya anda bisa membeli masker
yang dijual di pintu masuk.
Pertama kali masuk, anda akan
disambut dengan beberapa papan peringatan untuk hati-hati melangkah, tidak
menyalakan api, dan tidak terlalu dekat dengan kawah. Suasana disini sungguh
sulit dijelaskan, saya sendiri sedikit tidak percaya ada tempat seperti ini di
segar dan hijau nya Dieng. Tanah berwarna putih kekuningan, buih didihan air
ada dimana mana, dan uap air yang hilir mudik membatasi jarak pandang membuat
suasana disini terasa sangat suram dan mencekam. Udara masih terasa dingin,
tapi semakin anda mendekat ke kawah utama, udara sedikit terasa hangat.
Saat itu cukup banyak wisatawan
yang datang mengunjungi, baik lokal maupun mancanegara. Saya melihat ada
beberapa bule dan turis dari Korea disini. Anda juga dapat membeli belerang
yang dijual oleh warga, katanya belerang bagus untuk kesehatan kulit. Tidak hanya
digunakan sebagai tempat rekreasi, tempat ini juga dipakai beberapa orang untuk
berkuda dan memacu sepeda motor trailnya. Saya cukup lama mengamati deruman
motor trail yang berputar-putar di tanah berpasir. Saya juga sempat melihat
seorang anak perempuan cilik yang berambut gimbal sedang bermain dengan
teman-temannya. Sedikit tips, hati hati dengan langkah anda, jika apes anda
dapat menginjak buih didihan air atau kotoran kuda.
Kawah utama berukuran sangat
besar dan dikelilingi oleh pagar bambu sebagai pengaman. Didihan air
(sepertinya sih lumpur) terlihat sangat jelas bergejolak di depan anda dan
berbunyi blup blup blup. Pemandangan yang sangat menakjubkan! Dibawah kawah ini
pasti terdapat sebuah dapur magma yang sangat panas. Entah berapa suhu nya,
mungkin bisa lebih dari 100 derajat celcius, ingin rasanya saya melempar telur
mentah kesana dan melihat apa yang terjadi kemudian.
Setelah melewati kawah, terdapat
sebuah bukit yang sudah terkelupas lapisan vegetasinya. Bukit ini cukup tinggi
jadi cukup membuat dengkul sedikit gempor. Tapi menaiki bukit ini sungguh “worth
it” karena kita bisa melihat pemandangan yang tidak kalah indah. Anda dapat
melihat Kawah Sikidang dari atas, melihat ladang kentang (lagi-lagi), dan
melihat uap yang membumbung tinggi dari pembangkit listrik geothermal yang
berada di sekitar Dieng.
Setelah puas menikmati Kawah
Sikidang, kami pun melanjutkan misi kami berikutnya yaitu melakukan survei ke
tempat melihat Sunrise di Bukit Sikunir. Untuk mencapai tempat ini, kami bergerak ke
Selatan untuk menuju desa Sembungan dengan nama jalan yang unik, jalan tersebut
bernama sunrise (hmm, karena sudah sangat terkenal dengan sunrisenya mungkin). Jalan
menuju desa ternyata cukup jauh, jalannya nya pun kurang baik : becek, penuh
lobang, berkelok, sempit, menurun dan menanjak. . Seringkali kami berpapasan
dengan truk besar dan melewati jalan yang penuh dengan timbunan pupuk kandang
disisinya.
Sebelum mencapai desa Sembungan,
kami terlebih dahulu melewati sebuah pembangkit listrik geothermal. Di sepanjang
jalan menuju pembangkit ini, anda akan melewati Well Pad Facility dan mendapati
jalur pipa berukuran besar dan kecil di sisi jalan lengkap dengan pipe support nya
(sebuah struktur baja yang menahan berat dan tekanan dari pipa dan isinya).
Loket untuk melihat sunrise
berada di paling ujung jalan. Sebenarnya ga mirip loket sih, lebih mirip gubuk
yang biasa ada di tepi kolam atau sungai haha. Setelah melewati Desa Sembungan,
teruskan saja hingga anda menjumpai jalan buntu dengan sebuah lapangan bola,
tempat parkir paving block, dan Telaga yang sangat besar bernama Telaga Cebong.
Di telaga ini anda bisa menyewa sebuah perahu untuk berkeliling danau. Perlu
dicatat, udara di sini benar-benar sangat dingin sekali! Hari sudah sore dan
angin berhembus sangat kencang menjadikan udara disini menjadi luar biasa
dingin. Pakailah jaket yang cukup hangat ketika berada disini. Coba juga
mencelupkan kaki anda kedalam telaga, rasanya seperti mencelupkan kaki di dalam
air es!
Setelah mendapatkan cukup
informasi, kami pun bergegas pulang. Di perjalanan pulang kami sempatkan untuk
melihat-lihat daerah Dieng 2. Kami akhirnya tiba kembali di penginapan saat
adzan maghrib berkumandang.
(bagian 3 habis – bersambung)
































Tidak ada komentar:
Posting Komentar