Medan yang kami lalui saat itu
sangat berat, tanjakan 45 derajat seakan tidak ada habisnya. Hujan yang turun
di siang hari membuat permukaan tanah menjadi becek dan sangat licin, beberapa
tanah sangat gembur karena merupakan lahan pertanian. Jalan pendakian hanya
cukup dilalui oleh satu orang saja, Isser berada di paling depan dibelakang
satu orang pengantar. Beban carrier Isser yang besar dan sepatunya yang licin
di permukaan tanah membuat perjalanan menjadi melambat. Kami menjadi sering
berhenti untuk mengambil nafas.
Tak disangka, rombongan pengantar
kami ini memberi efek buruk pada
pendakian kami. Beberapa orang berada di belakang kami sambil menelpon dan
tertawa-tawa kencang di kegelapan malam. Beberapa menyeletuk kami jalan terlalu
lambat. Ada yang berbicara di telepon bahwa mereka sedang mengantar anak
sekolah (padahal muka kami kan muka tua haha). Beberapa menyeletuk pula menyuruh kami untuk meninggalkan beban
carrier kami kalau terlalu berat. Isser tampak sangat emosi saat itu ketika
banyak celetukan para pengantar. Isser yang kepayahan akhirnya menukar carrier
dengan saya. Dan saya berjalan paling depan di belakang seorang pengantar.
Kami baru satu jam berjalan,
namun medan yang terus menanjak ini membuat kami kehausan. Tak terasa air sudah
banyak yang habis. Kami khawatir akan persediaan air minum kami. Dari
perbincangan kami dengan para pengantar, ternyata perjalanan menuju puncak akan
memakan waktu sekitar 4 jam. Setelah kami pikir-pikir ternyata satu jam yang
diceritakan polisi gunung tadi itu adalah waktu tempuh dari rumah Aci menuju
tempat awal pendakian. Hahaha, kami telah meremehkan Rakutak dan bersiap
menanggung akibatnya.
Jalur yang kami lalui adalah
bukan jalur yang biasa orang naiki. Begitu kata pengantar yang berada di depan saya.
Ada jalur alternatif lain dengan medan yang lebih ramah namun akan membutuhkan
waktu yang jauh lebih lama ungkapnya. Jalur yang kami lalui merupakan jalur
tercepat. Medan 45 derajat ini benar-benar tidak ada habisnya. Tenaga sangat
terkuras disini. Saya sampai harus menarik rerumputan ketika berjalan. Jalan
nya benar-benar sempit, mendaki, dan tidak ada tanah lapang yang luas untuk
beristirahat.
Sekitar jam 10 malam atau setelah
satu setengah jam pendakian, kami tiba di suatu tanah yang cukup lapang yang
dinamakan puncak pertama. Kami beristirahat disana sambil mengisi perut dengan
air. Isser berkomentar bahwa kami saat ini kehausan karena akibat makan makanan
yang diduga Isser banyak mengandung vetsin. Kami hanya tertawa saja waktu itu.
Kekhawatiran muncul di hati kami melihat persediaan air yang tinggal sedikit,
padahal kami butuh air untuk memasak di puncak nanti. Kami kemudian melanjutkan
perjalanan, jalan masih tampak terjal.
Saya membandingkan jalur di
Rakutak dengan jalur di Merbabu. Saya mengamati kalau jalan disini seperti
jalan yang sangat jarang dilewati orang. Beberapa jalan tidak terlihat, kita
harus benar-benar jeli menentukan langkah. Bahkan ada jalan yang berupa semak
belukar, benar-benar semak! Kami juga melewati padang dengan ilalang setinggi
lebih dari kepala saya. Ilalang ini kan tajam daunnya, sehingga banyak
menggores kulit tangan kami. Untungnya saya memakai jaket saat itu. Isser,
Putra, dan Amir tangan nya merah-merah penuh dengan bekas goresan rumput.
Jalan kemudian menjadi sedikit
berbatu dengan sesekali berada di pinggir jurang. Medan tetap tidak berubah,
tetap menanjak 45 derajat. Jalan tetap sempit, sulit untuk dilalui. Seringkali saya
harus membuka semak belukar yang menutupi jalan dengan lengan saya. Sering pula
carrier saya menyangkut di ranting pohon karena terlalu tinggi. Jalan kemudian
semakin gelap, kami memasuki daerah hutan dengan beberapa pepohonan tinggi.
Sekitar jam 11 malam, kami tiba
di tempat yang cukup datar. Kami yang tampak terkuras energi, duduk di bawah
pohon sambil mengatur nafas dan beristirahat. Begitu juga para pengantar kami
yang mungkin merasa kepayahan juga. Sudah tidak ada air lagi yang bisa kami
minum, karena kami harus menyiapkan air untuk memasak dan untuk perjalanan
turun. Amri lalu mengeluarkan buah-buahan yang sempat dibelinya di pom bensin
Dayeuh Kolot, apel dan jeruk mandarin. Buah-buahan ini sangat sangat terasa
segar! Mengurangi dahaga dan menambah energi kami. Benar-benar sebuah ide
brilian untuk membawa buah walaupun sebenarnya ini adalah kebutuhan sekunder.
Kebutuhan primernya jelas adalah
persediaan air yang cukup.
Di tempat ini kami berpisah
dengan para pengantar kami. Mereka berpesan kalau ada angin bertiup kencang di
puncak kedua, kami sebaiknya jangan berdiri tetapi merebah ke permukaan tanah.
Katanya ketika angin bertiup kencang, seringkali tanah terasa bergoyang. Mereka
kemudian turun dan kami melanjutkan pendakian. Selepas kepergian mereka,
pendakian kami terasa lebih nyaman. Mungkin mendaki bersama orang asing membuat
kami tidak bisa lepas, seakan kebebasan kami terbelenggu. Kami menjadi lebih
banyak mengobrol di sepanjang jalan, termasuk menyesali persediaan air minum yang
kami lalaikan. Kali ini Putra dan Amri berada di paling depan disusul Isser, saya,
Koke, Nono, dan Dito.
Lagi-lagi medan tidak banyak
berubah, masih tanjakan dan tanjakan. Hanya saja bibir jurang semakin banyak
kami temui. Jalan masih saja sempit, hanya cukup untuk dilalui satu orang saja.
Angin semakin terasa bertiup kencang. Semak belukar sudah jarang kami temui,
berganti dengan pepohonan perdu dan sedikit pepohonan berukuran sedang. tak
lama kemudian kami tiba di puncak kedua, sebuah tanah lapang berukuran cukup
luas. Kami pun beristirahat kembali.
Di puncak ini, kami sudah bisa
melihat pemandangan yang indah. Tampak langit sangat cerah, bintang-bintang
bersinar sangat terang sangat jernih. Di kaki gunung tampak pula terlihat
kerlap kerlip cahaya lampu. Cahaya dari sebuah kota di tengah malam. Tampak
sinar berjalan pelan muncul dari kendaraan yang bergerak. Tampak pula beberapa
pegunungan di sekitar Rakutak. Perjalanan kami tidak terasa sia-sia,
pemandangan tersebut sudah mampu membangkitkan semangat kami lagi.
Di puncak ini ada bekas api
unggun. Para pendaki sebelumnya ada yang berkemah disini. Di depan kami masih
ada jalan berupa punggung gunung menuju puncak terakhir. Jalan yang kiri kanan
nya adalah jurang! Jalan ini lah yang banyak orang bilang dinamakan sebagai jembata
setan atau sirotol mustaqim. Sebuah jalan sangat sempit dikelilingi jurang yang
panjang nya mungkin lebih dari 500 m! Pada malam hari jurang tidak begitu
terlihat, tapi pada siang hari jelas jalan ini adalah momok yang sangat besar. Sebuah
tantangan yang diberikan Rakutak kepada kami untuk ditaklukkan.
(bagian 2 habis - bersambung...)
.jpg)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar