Minggu, 03 Juni 2012

pendakian gunung rakutak (bagian 2)


Medan yang kami lalui saat itu sangat berat, tanjakan 45 derajat seakan tidak ada habisnya. Hujan yang turun di siang hari membuat permukaan tanah menjadi becek dan sangat licin, beberapa tanah sangat gembur karena merupakan lahan pertanian. Jalan pendakian hanya cukup dilalui oleh satu orang saja, Isser berada di paling depan dibelakang satu orang pengantar. Beban carrier Isser yang besar dan sepatunya yang licin di permukaan tanah membuat perjalanan menjadi melambat. Kami menjadi sering berhenti untuk mengambil nafas.

Tak disangka, rombongan pengantar kami ini  memberi efek buruk pada pendakian kami. Beberapa orang berada di belakang kami sambil menelpon dan tertawa-tawa kencang di kegelapan malam. Beberapa menyeletuk kami jalan terlalu lambat. Ada yang berbicara di telepon bahwa mereka sedang mengantar anak sekolah (padahal muka kami kan muka tua haha). Beberapa menyeletuk pula menyuruh kami untuk meninggalkan beban carrier kami kalau terlalu berat. Isser tampak sangat emosi saat itu ketika banyak celetukan para pengantar. Isser yang kepayahan akhirnya menukar carrier dengan saya. Dan saya berjalan paling depan di belakang seorang pengantar.

Kami baru satu jam berjalan, namun medan yang terus menanjak ini membuat kami kehausan. Tak terasa air sudah banyak yang habis. Kami khawatir akan persediaan air minum kami. Dari perbincangan kami dengan para pengantar, ternyata perjalanan menuju puncak akan memakan waktu sekitar 4 jam. Setelah kami pikir-pikir ternyata satu jam yang diceritakan polisi gunung tadi itu adalah waktu tempuh dari rumah Aci menuju tempat awal pendakian. Hahaha, kami telah meremehkan Rakutak dan bersiap menanggung akibatnya.

Jalur yang kami lalui adalah bukan jalur yang biasa orang naiki. Begitu kata pengantar yang berada di depan saya. Ada jalur alternatif lain dengan medan yang lebih ramah namun akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama ungkapnya. Jalur yang kami lalui merupakan jalur tercepat. Medan 45 derajat ini benar-benar tidak ada habisnya. Tenaga sangat terkuras disini. Saya sampai harus menarik rerumputan ketika berjalan. Jalan nya benar-benar sempit, mendaki, dan tidak ada tanah lapang yang luas untuk beristirahat.

Sekitar jam 10 malam atau setelah satu setengah jam pendakian, kami tiba di suatu tanah yang cukup lapang yang dinamakan puncak pertama. Kami beristirahat disana sambil mengisi perut dengan air. Isser berkomentar bahwa kami saat ini kehausan karena akibat makan makanan yang diduga Isser banyak mengandung vetsin. Kami hanya tertawa saja waktu itu. Kekhawatiran muncul di hati kami melihat persediaan air yang tinggal sedikit, padahal kami butuh air untuk memasak di puncak nanti. Kami kemudian melanjutkan perjalanan, jalan masih tampak terjal.

Saya membandingkan jalur di Rakutak dengan jalur di Merbabu. Saya mengamati kalau jalan disini seperti jalan yang sangat jarang dilewati orang. Beberapa jalan tidak terlihat, kita harus benar-benar jeli menentukan langkah. Bahkan ada jalan yang berupa semak belukar, benar-benar semak! Kami juga melewati padang dengan ilalang setinggi lebih dari kepala saya. Ilalang ini kan tajam daunnya, sehingga banyak menggores kulit tangan kami. Untungnya saya memakai jaket saat itu. Isser, Putra, dan Amir tangan nya merah-merah penuh dengan bekas goresan rumput.

Jalan kemudian menjadi sedikit berbatu dengan sesekali berada di pinggir jurang. Medan tetap tidak berubah, tetap menanjak 45 derajat. Jalan tetap sempit, sulit untuk dilalui. Seringkali saya harus membuka semak belukar yang menutupi jalan dengan lengan saya. Sering pula carrier saya menyangkut di ranting pohon karena terlalu tinggi. Jalan kemudian semakin gelap, kami memasuki daerah hutan dengan beberapa pepohonan tinggi.

Sekitar jam 11 malam, kami tiba di tempat yang cukup datar. Kami yang tampak terkuras energi, duduk di bawah pohon sambil mengatur nafas dan beristirahat. Begitu juga para pengantar kami yang mungkin merasa kepayahan juga. Sudah tidak ada air lagi yang bisa kami minum, karena kami harus menyiapkan air untuk memasak dan untuk perjalanan turun. Amri lalu mengeluarkan buah-buahan yang sempat dibelinya di pom bensin Dayeuh Kolot, apel dan jeruk mandarin. Buah-buahan ini sangat sangat terasa segar! Mengurangi dahaga dan menambah energi kami. Benar-benar sebuah ide brilian untuk membawa buah walaupun sebenarnya ini adalah kebutuhan sekunder. Kebutuhan primernya  jelas adalah persediaan air yang cukup.

Di tempat ini kami berpisah dengan para pengantar kami. Mereka berpesan kalau ada angin bertiup kencang di puncak kedua, kami sebaiknya jangan berdiri tetapi merebah ke permukaan tanah. Katanya ketika angin bertiup kencang, seringkali tanah terasa bergoyang. Mereka kemudian turun dan kami melanjutkan pendakian. Selepas kepergian mereka, pendakian kami terasa lebih nyaman. Mungkin mendaki bersama orang asing membuat kami tidak bisa lepas, seakan kebebasan kami terbelenggu. Kami menjadi lebih banyak mengobrol di sepanjang jalan, termasuk menyesali persediaan air minum yang kami lalaikan. Kali ini Putra dan Amri berada di paling depan disusul Isser, saya, Koke, Nono, dan Dito.  

Lagi-lagi medan tidak banyak berubah, masih tanjakan dan tanjakan. Hanya saja bibir jurang semakin banyak kami temui. Jalan masih saja sempit, hanya cukup untuk dilalui satu orang saja. Angin semakin terasa bertiup kencang. Semak belukar sudah jarang kami temui, berganti dengan pepohonan perdu dan sedikit pepohonan berukuran sedang. tak lama kemudian kami tiba di puncak kedua, sebuah tanah lapang berukuran cukup luas. Kami pun beristirahat kembali.


Di puncak ini, kami sudah bisa melihat pemandangan yang indah. Tampak langit sangat cerah, bintang-bintang bersinar sangat terang sangat jernih. Di kaki gunung tampak pula terlihat kerlap kerlip cahaya lampu. Cahaya dari sebuah kota di tengah malam. Tampak sinar berjalan pelan muncul dari kendaraan yang bergerak. Tampak pula beberapa pegunungan di sekitar Rakutak. Perjalanan kami tidak terasa sia-sia, pemandangan tersebut sudah mampu membangkitkan semangat kami lagi.


Di puncak ini ada bekas api unggun. Para pendaki sebelumnya ada yang berkemah disini. Di depan kami masih ada jalan berupa punggung gunung menuju puncak terakhir. Jalan yang kiri kanan nya adalah jurang! Jalan ini lah yang banyak orang bilang dinamakan sebagai jembata setan atau sirotol mustaqim. Sebuah jalan sangat sempit dikelilingi jurang yang panjang nya mungkin lebih dari 500 m! Pada malam hari jurang tidak begitu terlihat, tapi pada siang hari jelas jalan ini adalah momok yang sangat besar. Sebuah tantangan yang diberikan Rakutak kepada kami untuk ditaklukkan.

(bagian 2 habis - bersambung...)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar