Setelah puas menikmati Rakutak, kami
pun bergegas untuk turun. Sekitar jam 9 pagi kami mulai turun. Saat ini lah
kami mendapati bahwa jembatan setan yang kami lalui tadi malam terlihat dengan
sangat jelas. Di siang hari, jembatan setan sepanjang lebih dari 500 m ini terlihat sangat mengerikan. Ada untungnya
juga kami mendaki malam hari karena tidak bisa melihat dengan jelas
disekeliling kami hehe.
Perjalanan
turun kami lalui dengan lancar. Putra, Dito, dan Iser berada paling depan, disusul saya, Amri,
Nono, dan Koke. Perjalanan turun terasa lebih lancar namun dengan kondisi air
minum yang hanya tinggal dua botol besar, kami harus berhemat minum. Sejam
menuruni Rakutak, rombongan depan dan belakang mulai terpisah cukup jauh.
Pada
suatu tempat dimana terdapat pohon besar tumbang, rombongan depan sudah jauh di
depan. Sedangkan saya saat itu menunggu Amri, Nono, dan Koke yang ada di
belakang. Tak lama kami melalui daerah yang cukup aneh, kami rasa kami tidak
melewati jalur ini ketika naik. Kekhawatiran kami, rombongan belakang, semakin
menjadi saat rombongan depan sudah tidak terlihat lagi. Berkali-kali kami
berteriak mencoba memanggil rombongan depan, namun tidak ada jawaban. Melihat
kondisi itu, Amri segera mempercepat langkahnya untuk menyusul rombongan depan
dan meminta mereka menunggu.
Saya
mengamati jalur turun kami. Jalan turun ini tidak securam saat kami naik
sebelumnya, jalan nya cenderung datar dengan turunan yang landai. Banyak
pemandangan yang sebelumnya tidak kami lihat waktu naik. Saya melihat ada pohon
Lontar berduri sangat tajam, di batang pohonnya terdapat duri-duri bagai jarum
berukuran besar, panjang nya sekitar 10 cm. Di sini kaki saya tertusuk duri,
duri nya masuk ke dalam kaos kaki saya. Kepala Koke juga terkena duri lontar,
kepala nya tak sengaja menyundul ranting pohon lontar ketika merunduk. Semakin
jauh, kami menyadari kami tidak melewati puncak pertama dan lokasi tempat kami
berpisah dengan pengantar kami. Kami semakin khawatir saat itu.
Saya
berteriak meminta Amri untuk menunggu kami. Akan berbahaya jika kami terpisah dengan
Amri. Sesaat kemudian saya melihat Amri terduduk, dengan didepannya sebuah
jalan yang bagaikan sebuah lorong dikelilingi dengan tanaman perdu semacam
terong yang berduri dan berbau tidak enak. Ini jelas bukan jalan yang kami
lalui tadi malam. Jalan ini sangat sempit, tanaman perdu ini melilit dan
membuat lingkaran dengan duri-duri yang siap menyantap kulit kami. kami harus
merunduk dengan penuh hati-hati supaya bisa lewat dengan aman. Kami benar-benar
bingung saat itu, perasaan kami tidak melihat ada percabangan jalan ketika
turun. Kenapa kami bisa tersesat kesini?
Setelah
jalan bagai lorong penuh dengan jebakan berduri, kami mendapati diri kami di
sebuah jalan penuh ilalang. Wah ini mungkin jalan yang kami lalui tadi malam
pikir saya dalam hati. Setelah melewati
jalan tersebut, kami sampai di area pertanian bawang. Tampak para petani sedang
menanam bawang, dan ada yang sedang menyemprotkan sesuatu, entah air, pupuk,
atau pestisida. Di bawah kami terlihat ada sebuah gubuk; Putra, Dito, dan Isser
tampak sedang beristirahat di bawah gubuk itu. Kami senang akhirnya kami
lengkap kembali.
Sambil
beristirahat, kami berkesimpulan bahwa kami telah melewati jalur yang berbeda
dengan jalur pendakian. Ini mungkin adalah jalur alternatif yang diceritakan sebelumnya,
jalur yang lebih ramah lutut tapi berjarak lebih jauh. Selain itu, persediaan
air kami telah habis, sudah tidak ada lagi air yang bisa diminum.Kami harus
melanjutkan perjalanan tanpa minum. Setelah bertanya-tanya dengan petani, kami
mendapati bahwa jarak menuju jalan raya masih jauh. Saat itu waktu menunjukkan sekitar
pukul 11 siang.
Kami
pun melanjutkan perjalanan kembali. Jalan yang sudah benar menurut informasi
dari para petani membuat kami lega. Sebenarnya kondisi lutut kami sudah mulai
goyah. Koke dan Putra tampak lutut nya sudah bergetar. Sedangkan Nono tampak
sangat lemas. Di tengah kondisi fisik kami yang sudah menurun, kami melihat
sebuah sungai. Ah mantap sekalI! Kami pun turun ke sungai tersebut untuk
beristirahat, men-recharge energi kami.
(bagian 4 habis - bersambung...)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar