Sabtu, 09 Juni 2012

Dieng - Tanah Sang Dewa (bagian 1)


Judul nya mungkin tampak sangat wah, “Dieng – Tanah Sang Dewa”. Tapi ini benar adanya, Dieng memang sungguh terlalu indah untuk dilewatkan. Jika anda ingin suatu tempat wisata yang komplit, maka Dieng adalah tempat yang sangat cocok.

Kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang perjalanan saya menikmati long weekend 20-23 Januari 2012 di Dieng, yang hingga sampai sekarang pun saya masih ingat detailnya. Dan berharap suatu saat bisa mengunjunginya kembali.

Dieng merupakan sebutan untuk dataran tinggi di sebelah barat daya Semarang dan dekat kota Wonosobo, Jawa Tengah. Nama Dieng sendiri berasal dari gabungan dua kata bahasa Kawi : “di” yang berarti “tempat” atau “gunung” dan “Hyang” yang bermakna “Dewa”. Dieng merupakan suatu tempat yang spesial 5 telor di dunia, karena merupakan dataran tinggi terluas nomor 2 setelah dataran tinggi Nepal. Ketinggian Dieng sendiri sekitar 2000 mdpl. Bayangkan saja di ketinggian seperti itu, ada suatu tanah datar yang sangaaat luas. Entah bisa menampung berapa banyak lapangan bola saking luasnya. Mungkin bisa dimanfaatkan sebagai tempat pemusatan latihan bagi timnas sepakbola Indonesia tuh supaya staminanya kuat akibat rebutan nafas di oksigen yang tipis.


Rombongan saya menikmati Dieng tidak banyak, hanya bertiga, yaitu Koke, Galang, dan saya sendiri tentunya. Galang sendiri adalah teman masa kecil Koke saat masih tinggal di Duri, dan sekarang ia bertempat tinggal di Wonosobo, sebuah kota kecil yang dingin dan sungguh nyaman untuk ditempati. Untuk mencapai Dieng dari Jakarta, kita dapat menuju Wonosobo terlebih dahulu. Baru kemudian melanjutkan dengan bus ¾ menuju Dieng.

Saya dan Koke berangkat Jumat sore dari terminal Lebakbulus. Pada saat long weekend seperti ini, sangat sulit mencari tiket bus lintas Jawa. Untungnya Koke dengan sigap telah memesan lewat telepon  dua tiket bisnis AC 2-3 seat seharga 75 rb per lembar untuk Bus Sinar Jaya. Bus Sinar Jaya ini merupakan bus paling popular di seantero nusantara untuk trayek Jakarta - Wonosobo. Sebut saja mau ke Wonosobo di terminal, pasti langsung diarahkan ke Sinar Jaya. Untuk pertama kali pula, saya baru tahu bahwa untuk naik bus tujuan Jawa kita perlu membeli tiketnya dulu, tidak bisa duduk dulu baru beli tiket.

Sekitar jam setengah 6 sore, bus Sinjay (Sinar Jaya) ini lepas landas dari Lebakbulus. Arus bus di tol Cikampek ternyata mengular (gara-gara long weekend, pingin rasanya bikin Tugas Akhir dengan judul “Analisis Kapasitas Jalan Tol Akibat Beban Lalu Lintas Saat Long Weekend”), Sinjay terpaksa harus merayap cukup lama. Jalurnya sendiri saya agak lupa, setelah melewati Cikampek, Sinjay melewati Purwakarta, Cirebon, Tegal, Brebes, Purwokerto, dan Wonosobo. Harus diingat, Terminal Wonosobo tidak berada di dalam kota tetapi agak terletak di pinggiran kota. Jadi bagi yang ingin melanjutkan dengan bus ¾, sebaiknya anda turun di Rita Plaza terus jalan ke arah alun-alun, dari sana cari halte untuk naik bus ¾ menuju Dieng dengan ongkos sekitar 12rb.

Kami mendapat tempat duduk di bangku bertiga tepat di belakang supir. Koke ternyata sangat suka duduk di belakang supir karena area penglihatannya menjadi lebih luas, seakan-akan ia sendiri yang menyetir bus. Saya sendiri kurang suka duduk di belakang supir, karena hati menjadi was-was ketika sang supir dengan aksi bak pembalap F1 mendahului bus-bus yang berpacu kencang (kebayang dong yang udah kencang aja masih disalip). Tapi yang paling menjadi masalah adalah kaki saya mentok gara-gara ada pelang besi horizontal di depan saya. Akibatnya kaki saya yang cukup panjang terpaksa harus menekuk tidak sempurna. Kesemutan menjadi teman baik saya yang tidak terpisahkan di sepanjang perjalanan.

Lucunya, sang supir tidak pernah bisa diam. Ia selalu berbicara, mulai dengan kenek, penumpang lain, ngomong sendiri, mengumpat, nyeloteh, bergumam, bernyanyi, bersenandung, bercanda, tertawa, dan kadang-kadang telponan. Bahkan ketika tengah malam pun ia tetap saja banyak berbicara.  Sungguh supir yang sangat unik. Ya saya sendiri cukup terhibur dengan kelakuan sang supir ini, setidaknya ada pengganti radio lah hehe.

Sekitar jam 7 pagi, kami tiba di terminal Wonosobo. Perlu sekitar 13 jam lebih untuk mencapai Wonosobo. Ini pertama kalinya saya naik kendaraan hingga 13 jam, fiuuh. Ketika kaki bisa berdiri tegak itu rasanya hampir sama dengan ketika kita melepaskan kentut setelah berjam-jam menahannya. Di terminal ini, Galang beserta Bapaknya menjemput kami dengan mobil Panther-nya yang terawat sangat baik. Kami pun diboyong menuju rumah mereka.

Sesampainya di rumah, Ibu-nya Galang menyambut kami dengan secangkir teh manis hangat dan tempe goreng khas wonosobo, maknyus tenan! Sambil beristirahat, Koke banyak mengobrol dengan mereka, tampak jelas telah lama mereka tidak saling bertemu. Mereka mengobrol cukup lama, bernostalgia akan kenangan masa lalu. Saya sendiri merilekskan badan sambil ngemil sambil nonton sambil leyeh-leyeh di sofa sambil setengah tidur. Udara di Wonosobo enak sekali, lebih adem daripada Bandung. Sinar mataharinya pun tidak terik. So perfect, so adorable.

  
 Dari hasil diskusi bersama, kami berencana untuk menuju Dieng menggunakan mobil rental. Ibu Galang memberikan informasi bahwa Dieng sangat luas, akan butuh waktu lama dan melelahkan jika kami berkelana disana dengan berjalan kaki. Kemudian kami memesan mobil rental merk APV seharga 225rb per hari (awalnya 125rb tapi ternyata pas bayar di kemudian hari jadi 225rb). Setelah mendapat pengarahan safety dari Ibu-nya Galang, kami pun meluncur ke Dieng sekitar jam 10 pagi dengan bekal bensin seharga 100rb (ini sumpah kebanyakan banget!).

Jalan menuju Dieng memiliki desain geometri yang sangat menantang. Jalan nya tidak terlalu lebar, ngepas banget untuk dua mobil berpapasan. Meliuk ke kiri dan ke kanan sambil menanjak. Di kiri dan kanan yang terlihat hanya bukit, gunung,  ladang pertanian, hijau, hijau, dan hijau. Sangat menyejukkan mata. Dan terlihat jelas pula kabut yang hilir mudik menyembunyikan pegunungan. Udara benar-benar terasa dingin dan segar. Coba buka kaca mobil dan dinginnya akan terasa lebih dingin daripada AC mobil.


Situasi yang umum disini adalah salah satu sisi jalan berupa ladang kentang dan sisi lainnya adalah jurang. Jika anda cermati, hampir semua lereng ditanami oleh kentang, setiap dinding gunung/bukit yang anda lihat telah berwujud hamparan ladang kentang. Memang kentang adalah komoditas utama Dieng. Orang asli Dieng meng-klaim bahwa kualitas kentang Dieng adalah yang terbaik di Indonesia, karena memiliki 3 lapisan pembungkus yang juga membuat kentang Dieng tahan lama.

Semakin menanjak udara semakin dingin dan jurang semakin jelas terlihat tapi pemandangannya semakin indah. Di tengah perjalanan, kami melihat suatu tempat peristirahatan dengan view yang sangat bagus. Kami pun berhenti sejenak, meluangkan waktu untuk menikmati makanan pembuka yang ditawarkan Dieng kepada kami. Dari tempat ini kami bisa melihat titik-titik perumahan, ladang kentang, dan kabut-kabut yang tidak pernah diam.





Setelah sekitar satu setengah jam sejak berangkat dari Wonosobo, kami pun tiba di Dataran Tinggi Dieng, tempat sang dewa bersemayam. Kesan pertama saya saat tiba adalah tempat ini tidak terasa seperti berada di pegunungan, semua tampak datar seperti  kota pada umumnya, tidak terlihat jalan yang menanjak. Orang-orang hilir mudik dengan jaket tebal atau sarung seakan-akan saya sedang berada di negara empat musim. Dieng memang istimewa.

(bagian 1 habis – bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar