Judul nya mungkin tampak sangat
wah, “Dieng – Tanah Sang Dewa”. Tapi ini benar adanya, Dieng memang sungguh
terlalu indah untuk dilewatkan. Jika anda ingin suatu tempat wisata yang
komplit, maka Dieng adalah tempat yang sangat cocok.
Kali ini saya ingin berbagi
pengalaman tentang perjalanan saya menikmati long weekend 20-23 Januari 2012 di
Dieng, yang hingga sampai sekarang pun saya masih ingat detailnya. Dan berharap
suatu saat bisa mengunjunginya kembali.
Dieng merupakan sebutan untuk
dataran tinggi di sebelah barat daya Semarang dan dekat kota Wonosobo, Jawa
Tengah. Nama Dieng sendiri berasal dari gabungan dua kata bahasa Kawi : “di”
yang berarti “tempat” atau “gunung” dan “Hyang” yang bermakna “Dewa”. Dieng
merupakan suatu tempat yang spesial 5 telor di dunia, karena merupakan dataran
tinggi terluas nomor 2 setelah dataran tinggi Nepal. Ketinggian Dieng sendiri
sekitar 2000 mdpl. Bayangkan saja di ketinggian seperti itu, ada suatu tanah
datar yang sangaaat luas. Entah bisa menampung berapa banyak lapangan bola
saking luasnya. Mungkin bisa dimanfaatkan sebagai tempat pemusatan latihan bagi
timnas sepakbola Indonesia tuh supaya staminanya kuat akibat rebutan nafas di
oksigen yang tipis.
Rombongan saya menikmati Dieng
tidak banyak, hanya bertiga, yaitu Koke, Galang, dan saya sendiri tentunya.
Galang sendiri adalah teman masa kecil Koke saat masih tinggal di Duri, dan
sekarang ia bertempat tinggal di Wonosobo, sebuah kota kecil yang dingin dan
sungguh nyaman untuk ditempati. Untuk mencapai Dieng dari Jakarta, kita dapat
menuju Wonosobo terlebih dahulu. Baru kemudian melanjutkan dengan bus ¾ menuju
Dieng.
Saya dan Koke berangkat Jumat
sore dari terminal Lebakbulus. Pada saat long weekend seperti ini, sangat sulit
mencari tiket bus lintas Jawa. Untungnya Koke dengan sigap telah memesan lewat
telepon dua tiket bisnis AC 2-3 seat
seharga 75 rb per lembar untuk Bus Sinar Jaya. Bus Sinar Jaya ini merupakan bus
paling popular di seantero nusantara untuk trayek Jakarta - Wonosobo. Sebut
saja mau ke Wonosobo di terminal, pasti langsung diarahkan ke Sinar Jaya. Untuk
pertama kali pula, saya baru tahu bahwa untuk naik bus tujuan Jawa kita perlu
membeli tiketnya dulu, tidak bisa duduk dulu baru beli tiket.
Sekitar jam setengah 6 sore, bus
Sinjay (Sinar Jaya) ini lepas landas dari Lebakbulus. Arus bus di tol Cikampek
ternyata mengular (gara-gara long weekend, pingin rasanya bikin Tugas Akhir
dengan judul “Analisis Kapasitas Jalan Tol Akibat Beban Lalu Lintas Saat Long
Weekend”), Sinjay terpaksa harus merayap cukup lama. Jalurnya sendiri saya agak
lupa, setelah melewati Cikampek, Sinjay melewati Purwakarta, Cirebon, Tegal,
Brebes, Purwokerto, dan Wonosobo. Harus diingat, Terminal Wonosobo tidak berada
di dalam kota tetapi agak terletak di pinggiran kota. Jadi bagi yang ingin
melanjutkan dengan bus ¾, sebaiknya anda turun di Rita Plaza terus jalan ke
arah alun-alun, dari sana cari halte untuk naik bus ¾ menuju Dieng dengan ongkos sekitar 12rb.
Kami mendapat tempat duduk di
bangku bertiga tepat di belakang supir. Koke ternyata sangat suka duduk di
belakang supir karena area penglihatannya menjadi lebih luas, seakan-akan ia
sendiri yang menyetir bus. Saya sendiri kurang suka duduk di belakang supir,
karena hati menjadi was-was ketika sang supir dengan aksi bak pembalap F1
mendahului bus-bus yang berpacu kencang (kebayang dong yang udah kencang aja
masih disalip). Tapi yang paling menjadi masalah adalah kaki saya mentok
gara-gara ada pelang besi horizontal di depan saya. Akibatnya kaki saya yang cukup
panjang terpaksa harus menekuk tidak sempurna. Kesemutan menjadi teman baik
saya yang tidak terpisahkan di sepanjang perjalanan.
Lucunya, sang supir tidak pernah
bisa diam. Ia selalu berbicara, mulai dengan kenek, penumpang lain, ngomong
sendiri, mengumpat, nyeloteh, bergumam, bernyanyi, bersenandung, bercanda,
tertawa, dan kadang-kadang telponan. Bahkan ketika tengah malam pun ia tetap
saja banyak berbicara. Sungguh supir
yang sangat unik. Ya saya sendiri cukup terhibur dengan kelakuan sang supir
ini, setidaknya ada pengganti radio lah hehe.
Sekitar jam 7 pagi, kami tiba di
terminal Wonosobo. Perlu sekitar 13 jam lebih untuk mencapai Wonosobo. Ini
pertama kalinya saya naik kendaraan hingga 13 jam, fiuuh. Ketika kaki bisa
berdiri tegak itu rasanya hampir sama dengan ketika kita melepaskan kentut
setelah berjam-jam menahannya. Di terminal ini, Galang beserta Bapaknya
menjemput kami dengan mobil Panther-nya yang terawat sangat baik. Kami pun diboyong
menuju rumah mereka.
Sesampainya di rumah, Ibu-nya
Galang menyambut kami dengan secangkir teh manis hangat dan tempe goreng khas
wonosobo, maknyus tenan! Sambil beristirahat, Koke banyak mengobrol dengan
mereka, tampak jelas telah lama mereka tidak saling bertemu. Mereka mengobrol
cukup lama, bernostalgia akan kenangan masa lalu. Saya sendiri merilekskan
badan sambil ngemil sambil nonton sambil leyeh-leyeh di sofa sambil setengah
tidur. Udara di Wonosobo enak sekali, lebih adem daripada Bandung. Sinar
mataharinya pun tidak terik. So perfect, so adorable.
Jalan menuju Dieng memiliki desain
geometri yang sangat menantang. Jalan nya tidak terlalu lebar, ngepas banget
untuk dua mobil berpapasan. Meliuk ke kiri dan ke kanan sambil menanjak. Di
kiri dan kanan yang terlihat hanya bukit, gunung, ladang pertanian, hijau, hijau, dan hijau. Sangat
menyejukkan mata. Dan terlihat jelas pula kabut yang hilir mudik menyembunyikan
pegunungan. Udara benar-benar terasa dingin dan segar. Coba buka kaca mobil dan
dinginnya akan terasa lebih dingin daripada AC mobil.
Situasi yang umum disini adalah
salah satu sisi jalan berupa ladang kentang dan sisi lainnya adalah jurang. Jika
anda cermati, hampir semua lereng ditanami oleh kentang, setiap dinding
gunung/bukit yang anda lihat telah berwujud hamparan ladang kentang. Memang kentang
adalah komoditas utama Dieng. Orang asli Dieng meng-klaim bahwa kualitas
kentang Dieng adalah yang terbaik di Indonesia, karena memiliki 3 lapisan
pembungkus yang juga membuat kentang Dieng tahan lama.
Semakin menanjak udara semakin
dingin dan jurang semakin jelas terlihat tapi pemandangannya semakin indah. Di
tengah perjalanan, kami melihat suatu tempat peristirahatan dengan view yang
sangat bagus. Kami pun berhenti sejenak, meluangkan waktu untuk menikmati
makanan pembuka yang ditawarkan Dieng kepada kami. Dari tempat ini kami bisa
melihat titik-titik perumahan, ladang kentang, dan kabut-kabut yang tidak
pernah diam.
Setelah sekitar satu setengah jam
sejak berangkat dari Wonosobo, kami pun tiba di Dataran Tinggi Dieng, tempat
sang dewa bersemayam. Kesan pertama saya saat tiba adalah tempat ini tidak
terasa seperti berada di pegunungan, semua tampak datar seperti kota pada umumnya, tidak terlihat jalan yang
menanjak. Orang-orang hilir mudik dengan jaket tebal atau sarung seakan-akan
saya sedang berada di negara empat musim. Dieng memang istimewa.
(bagian 1 habis – bersambung)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar